Kategori: Ekonomi & Bisnis

  • Penyakit Cacing Hati Ancam Populasi Kerbau Rawa di HSU

    Penyakit Cacing Hati Ancam Populasi Kerbau Rawa di HSU

    AMUNTAI, klikkalsel.com – Populasi kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir berfluktuasi (turun naik), tapi kisaran di lapangan antara 8 ribu sampai 9 ribu ekor yang terdiri kerbau anakan, dara dan dewasa.
    Kondisi geografis Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang mayoritas lahan rawa, membuat daerah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Satu diantaranya adalah dimilikinya populasi hewan endemik kerbau rawa atau lebih dikenal juga dengan bahasa banjar, Hadangan.
    Sesuai namanya, kerbau rawa di Kabupaten HSU ini berbeda dengan kerbau pada umumnya yang ada di berbagai daerah lainnya. Karena hidup di atas hamparan rawa, maka kerbau ini sangat pandai berenang dan menyelam.
    Sehingga tak heran ada yang menyebut kerbau rawa ini sebagai jenis mamalia, tapi bisa seperti amfibi, karena dapat bertahan di air dan di darat.
    Terkait dengan populasi kerbau rawa ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten HSU H Yuli Hertawan melalui Kabid Peternakan Akhmad Rijani menerangkan, kerbau rawa ini tersentra di Desa Tampakang, Bararawa, Sapala, Ambahai, Paminggir dan Paminggir Seberang di Kecamatan Paminggir, yang merupakan daerah berair.
    “Populasinya turun naik, dari data di lapangan berkisar antara 8 ribu sampai 9 ribu ekor yang terdiri kerbau anakan, dara dan dewasa,” katanya kepada awak media klikkalsel.com, Kamis (3/9/2020).
    Baca Juga : Mulai Sakit-sakitan, Maestro Lamut ini Berharap ada Penerusnya
    Kemudian, lanjutnya, untuk ancaman ternak kerbau rawa adalah hijauan makanan yang berkurang, karena lamanya lahan terendam air, sehingga perakaran rumput banyak yang mati dan larut di bawa arus air.
    “Ancaman lainnya seperti penyakit cacing hati yang menyerang secara sporadis karena kurangnya makanan sehingga daya tubuh kerbau menurun serta adanya alih fungsi lahan,” ujarnya.
    Selain itu, kendala yang dihadapi peternak adalah berkurangnya pejantan unggul, sehingga dikhawatirkan akan kawin sedarah (inbreding) dengan resiko makin berkurangnya bobot badan anak yang dilahirkan sampai besar.
    Mengatasi hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten HSU, Provinsi dan Pusat berupaya memberikan bantuan berupa bantuan bibit kerbau jantan dan betina, bantuan kalang uruk, pencegahan dan pengobatan penyakit.
    “Bantuan dari Pemerintah Pusat yaitu program budidaya kerbau dan pembibitan kerbau yang terdiri dari bantuan hibah ternak, pembelajaran pemilihan bibit yang baik, penanaman hijauan pakan lokal dan program inseminasi buatan atau kawin suntik,” jelasnya.
    Sedangkan, untuk jumlah kelompok ternak kerbau yg di bina sebanyak 13 kelompok, masing-masing kelompok 10. Ada juga peternak yang tidak tergabung dalam kelompok ternak, hal ini biasanya peternak tersebut hanya pengaron (penggaduh) milik orang lain.
    Untuk pemasaran kerbau, selama ini hanya dijual dalam bentuk hidup dengan wilayah pemasaran antar Kabupaten di Kalsel, dan bentuk bibit hidup ke Kaltim dan Kalteng.
    Kerbau rawa sebagai Plasma Nutfah asli Kabupaten HSU dan salah satu destinasi wisata dalam rangka memanfaatkan potensi rawa, dirinya menegaskan bahwa hal itu sepenuhnya adalah wewenang atau domain Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) setempat.
    “Dinas Pertanian Bidang Peternakan, hanya berwenang dari segi teknis peternakan untuk meningkatkan populasi dan produksi hasil ternak,” tandasnya.(doni)
    Editor : Amran
  • Meski Laba 2019 Menurun, PDAM Bandarmasih Dapat Predikat WTP ke-14

    Meski Laba 2019 Menurun, PDAM Bandarmasih Dapat Predikat WTP ke-14

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Laba bersih PDAM Bandarmasih pada tahun 2019 mengalami penurunan lebih dari Rp 2,5 Milyar dibandingkan tahun 2018.
    Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Ir Yudha Achmady saat penyampaian Neraca Komparatif Laporan Keuangan dan Evaluasi Kinerja Tahun 2019, Kamis (3/9/2020).
    Jika pada tahun 2018 PDAM Bandarmasih dapat meraup laba sebesar Rp 20,307, maka pada tahun 2019 perusahaan milik daerah tersebut hanya mampu meraup untung sebesar Rp 17,715.
    Dikatakan Yudha penurunan keuntungan tersebut disebabkan adanya beban penyusutan sejumlah aset milik PDAM dan pembayaran beban imbalan masa kerja yang harus di bayar pada tahun 2019.
    “Jadi ada beberapa penyusutan aset dan pembayaran imbalan masa kerja yang menyebabkan pengeluaran jadi lebih tinggi,” ujarnya.
    Selain itu, pada laporan keuangan tersebut juga terlihat peningkatan signifikan pada biaya beban pemakaian bahan kimia. Hal tersebut ujar Yudha terjadi karena sempat ada penurunan kualitas air, sehingga pihaknya mau tidak mau harus meningkatkan penggunaan bahan baku kimia guna menghasilkan kualitas air yang standar.
    “Produksi air kita juga terjadi kenaikan tiap tahun, hal tersebut tentu meningkatkan kebutuhan kita terhadap bahan baku air bersih yang secara langsung berdampak pada penggunaan bahan kimia,” terangnya.
    Pada perhitungan indikator kinerja yang dikeluarkan BPKP Kalsel, berdasarkan pedoman Kemendagri Nomor 47 Tahun terjadi kenaikan poin dibanding tahun 2018. Jika tahun 2018 indikator berada di poin 61,70, maka pada tahun 2019 poin indikator berada di poin 71,13 atau terjadi peningkatan sekitar 4,03 poin dan menempatkan perusahaan pada status BAIK.
    Namun pada indikator yang didasarkan pada penilaian Badan Peningkatan Penyelengaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) terjadi penurunan pada poin indikator. Jika pada tahun 2018 berada di poin 3,67, maka pada tahun 2019 turun sebanyak 0,12 poin atau berada di angka 3,55 poin.
    Penurunan tersebut disebabkan turunnya poin pada penilaian aspek pelayanan kualitas air kepada pelanggan.
    Menurut Yudha turunnya indikator kerja tersebut disebabkan adanya “Miss” komunikasi dalam parameter penilaian.
    “Kita mengikuti tahun-tahun sebelumnya bahwa ada 6 parameter yang harus dilakukan penilaian, ternyata tahun ini ada 8 parameter. Namun itu tidak berarti pelayanan kualitas air kita jelek, tapi hanya berbeda parameter saja,” jelasnya.
    Meski terjadi penurunan laba dan beberapa indikator, PDAM Bandarmasih tetap mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam laporan tahunannya tersebut, hingga membuat PDAM Bandarmasih menorehkan catatan manis menerima predikat WTP untuk yang ke 14 kalinya. (David)
  • Belum Ada Kejelasan, Pantai Rindu Alam Tanbu Masih Dipagar Pemilik Lahan

    Belum Ada Kejelasan, Pantai Rindu Alam Tanbu Masih Dipagar Pemilik Lahan

    BATULICIN, klikkalsel.com – Belum ada ganti rugi lahan untuk pembangunan lokasi Pantai Rindu Alam oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Tanah Bumbu, pemilik lahan akhirnya bertindak untuk memagar kawasan destinasi wisata tersebut.
    Pemilik lahan Abdul Samad melalui kuasa lahan Dedy kepada KlikKalsel.com mengatakan, bahwa lahan yang dihibahkan desa pada tahun 2013 ke Pemda Tanbu, ukurannya 100 x 1000 meter, dan letak lokasi tanah itu sebenarnya  berada di sebelah barat, bukan di sebelah timur.
    “Selain letak lokasi bangunan wisata yang bergeser ke arah timur, lahan kami seluas hektaran lebih juga menjadi sasaran sejumlah bangunan yang sudah didirikan oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), berupa bangunan Ruko souvenir, toilet,  lokasi dan galian,” tutur Dedy, Senin (31/8/2020).
    Baca juga : Polres Tanbu Gelar Perkara Komplotan Pencuri Kabel Listrik PJU, Kasus Penipuan Anggota Polisi Gadungan
    Adapun tindakan pemagaran dalam lokasi Pantai Rindu Alam yang sudah berlamgsung semala dua bulan tersebut, berdasarkan pada Surat Keterangan Tanah Nomor  14/ SKT – DB 1989 tertanggal 10 september 1989 dan SKT Nomor 15/SKT DB 1989 serta adanya hasil keterangan dari keluarga besar almarhum H Muhdar bin Ye Palu.
    Perlu diketahui, lanjut Dedy, bahwa berdasarkan ukuran yang sudah dilakukan, bahwa letak tanah destinasi Pantai Rindu Alam Pemkab Tanbu, letaknya mulai dari Sungai Betung sampai jembatan gantung saja.
    “Saat rapat pemilik lahan dengan Pemkab Tanbu di Kapet saat itu, hasilnya tidak memuaskan, karena Pemkab hanya menawarkan pemilik lahan masuk ke dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan selain itu Pemkab juga mempersilahkan pemilik lahan untuk menggugatnya ke ranah hukum,” ungkap Dedy.
    Ia pun menyebutkan, pemilik lahan yang masuk dalam lokasi destinasi pantai rindu alam itu yang merasa dirugikan adalah Abdul Samad, Mashar dan Iskandar.
    (riadi)
    Editor : Amran
  • Usaha Madu Kelulut Laris Manis Kala Pandemi Covid-19

    Usaha Madu Kelulut Laris Manis Kala Pandemi Covid-19

    PARINGIN, klikkalsel.com – Penjual madu kelulut di desa Paran Kecamatan Paringin meraup untung besar kala pandemi mewabah di Balangan.
    Terhitung sejak Februari pandemi Covid 19 mewabah terkhusus di Balangan membuat setiap orang ingin mencari alternatif salah satunya meminum madu untuk menjaga daya tahan tubuh guna menghindari terpapar Covid 19.
    “Penjualan madu kelulut meningkat, saat pandemi marak di Balangan” ungkap Jamaludin (27) tahun penjual madu kelulut, kepada klikkalsel.com.
    Hal ini karena hampir setiap hari ada saja orang datang baik untuk membeli madu yang di jual seharga Rp280 ribu perliternya, jika tidak tersedia bisa memesan terlebih dahulu.
    Baca Juga : Istri Temukan Suami Tewas Tergantung di Depan Rolling Door
    Lebih lanjut ia menuturkan, madu kelulut memiliki berbagai khasiat seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah stroke, memperkuat fungsi otak dan jantung serta meningkatkan kecerdasan anak karena terdapat berbagai macam vitamin, imbuhnya
    Di ketahui ia juga menjual dan memasarkan Lok (sebutan untuk sarang) atau wadah yang sudah di huni koloni kelulut untuk kemudian di budidayakan sendiri oleh pembeli yang kebanyakan berasal dari luar daerah seperti Kalimantan Timur.
    Adapun untuk usaha yang ia geluti sudah sejak 2018 yang lalu hingga sekarang, dan lok yang ia punya sudah berjumlah 80 buah yang di tempatkan di belakang rumahnya.
    “Koloni kelulut di dapat dari pedalaman hutan yang mempati pohon, kemudian di potong lalu kemudian di bawa pulang dan di buatkan Lok,” tutupnya. (wawan)
    Editor : Akhmad
  • Memanfaatkan Limbah Kayu Palet, Berujung jadi Pengusaha Mabel

    Memanfaatkan Limbah Kayu Palet, Berujung jadi Pengusaha Mabel

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Bermula coba-coba membuat kursi dan meja untuk santai di depan rumah dari limbah kayu palet, kini Hakim lelaki berusia 30 tahun warga Jalan Sultan Adam, Komplek Mahligai, Banjarmasin sudah menggeluti usaha mebel menarik dan bernilai hingga jutaan rupiah.
    Ia sudah memulai kerajinan berbahan baku dari limbah kayu palet sejak 2014 lalu, yang didapatkan dari tumpukan limbah kayu palet jenis Jati Belanda bekas packingan spare part alat berat.
    “Berawal dari melihat limbah bekas packingan spare part alat berat, kayu palet jati belanda memiliki banyak serat yang mula mula dibuat menjadi kursi dan meja hingga menjadi hobi berkreasi membuat perabotan atau hiasan dinding berbahan palet,” jelasnya Hakim kepada klikkalsel.com, Senin (31/8/2020)
    Limbah Kayu Palet Jati Belanda memiliki keunggulan tersendiri, selain kokoh, serat pada bagian kayu sangat bagus sehingga banyak yang berminat dan kini menjadi usaha yang menjanjikan.
    Baca Juga : Lewat Pagelaran Tari Kreasi Daerah, Kodim 1008/Tanjung Tumbuhkan Kesadaran Berbangsa Bernegara
    Dari limbah Kayu Palet ini, hampir semua perabotan rumah yang sudah dibuat Hakim, mulai dari Meja Santai, Meja Makan, Kursi, Meja untuk Televisi, Lemari hingga hiasan dinding yang pernah di pesan kepadanya.

    “Sesuai pesanan, paling banyak pemesan dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, kebanyakan buat cafe dan toko,” ucapnya.
    Biasanya Proses kerajinan limbah kayu palet ini lumayan sulit, karena mulai dari mendempul bekas paku, hingga amplas memerlukan waktu yang lumayan agar bagian sisinya halus dan seratnya bisa terlihat jelas.
    Untuk harga pemasaranya tergantung kesulitan saat pembuatanya mulai dari 350 ribu sampai jutaan. Dan untuk saat ini Limbah Kayu Palet sudah sulit didapatkan khususnya Kota Banjarmasin
    “Proses pengerjaanya paling cepat seminggu bahkan bisa satu bulan, selain itu kayunya ada dijual batangan per Rp10 ribu untuk satu batang,” pungkasnya. (airlangga)
    Editor : Akhmad
  • Nasib Pedagang Buku Tulis, Hingga Kini

    Nasib Pedagang Buku Tulis, Hingga Kini

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Sudah memasuki tahun ajaran baru, namun pedagang bisnis buku tulis pelajaran tak beranjak dari rak penjualan alias jarang laku. Pandemi virus Corona salah satu penyebabnnya, apalagi kini pembelajaran dialihkan secara daring melalui rumah saja.
    Di kawasan Jalan Hasanuddin HM, Banjarmasin Tengah, sejumlah pedagang buku tampak sepi dengan pembeli.
    Arkani salah seorang penjaga toko mengatakan, komdisi tersebut sudah beberapa bulan berlangsung.
    “Dari penerimaan siswa masuk sekolah hingga awal ajaran baru, sangat jarang pembeli,” katannya (30/8/2020).
    Dikatakannya pula kondisi sekarang semakin sulit, sebab tak ada kepastian yang jelas baik tentang pandemi ataupun kapan sekolah dibuka.
    “Akhirnnya banyak masyarakat yang mengurungkan niatnnya dalam membeli buku sebab menungu kepastian sekolah itu dimulai,” ucapnnya.
    Hal yang sama pula dikeluhkan Yuni yang juga seorang pedagang, situasi tersebut memang terasa sulit.
    “Dulu, meskipun orang jarang membeli buku-buku teks pelajaran atau pun buku umum namun masih ada pembelinnya, tapi kali ini benar-benar sulit,” katannya.
    Ia, mendapatkan buku-buku baik teks pelajaran, pengetahuan umum, buku kreatif anak seperti mewarna dan menggambar dengan memasok dari pulau surabaya dan jakarta, tetapi pesanan tak sebanyak beberapa waktu yang sudah sudah .
    “Secukupnnya saja kami memesan sebab kondisi seperti ini tak berani mengambil terlalu banyak sebab banyak tak lalu,”katannya.
    Untuk pendapatan pun sangat turun, lebih dari 50 persen,”setiap harinya terkadang beberapa buku saja yang terjual bisa pula tak laku-laku,” keluhnya.(azka)
    Editor : Amran
  • Budidaya Jamur Tiram Desa Paran Secara Konsisten Mulai Membuahkan Hasil

    Budidaya Jamur Tiram Desa Paran Secara Konsisten Mulai Membuahkan Hasil

    PARINGIN, Klikkalsel.com – Jamur tiram merupakan komoditi yang menjanjikan bagi Ripani dan kawan kawan.
    Pembudidayaan Jamur tiram yang dirintis sejak awal tahun 2019 mulai membuahkan hasil, bertempat di Desa Paran Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan, usaha ini awalnya merupakan Bantuan dari CSR PT. Adaro.
    “Panen jamur dapat dilakukan setiap hari berkisar antara 1 sampai 3 Kilogram setiap harinya” Tutur Ripani kepada Klikkalsel.com

    Adapun untuk pemasaran jamur tersebut mereka hanya membuka lapak di depan rumah setiap harinya, mereka menjual jamur dengan harga Rp.10.000,- per Seperempat Kilogram dan jika ada yang membeli 1 Kilogram maka mereka menjual dengan Harga Rp. 30.000,-.
    Kendati penghasilan tersebut harus di bagi bersama 2 temannya, mereka tetap menggeluti usaha tersebut karena perawatannya terbilang cukup mudah dan hasilnya menjanjikan.
    Lebih lanjut Ripani menambahkan, setiap hari mereka dapat meraup keuntungan berkisar antara Rp. 60.000,- sampai Rp. 90.000,- karena panen jamur dapat dilakukan setiap hari dan ini merupakan penghasilan tambahan selain menyadap karet, imbuhnya Sabtu (29/08/2020)
    Adapun untuk pembudidayaan jamur tersebut bertempat di belakang rumah Ripani, di dalam ruangan tertutup bersuhu lembah dengan luas lebih kurang 4×7 meter persegi.
    “Setiap hari ada saja orang yang membeli jamur ini baik warga setempat maupun warga luar kampung” Pungkasnya. (Wawan)
  • Janda Ayu, Penghasilan Tambahan Petani Batola

    Janda Ayu, Penghasilan Tambahan Petani Batola

    MARABAHAN, klikkalsel.com – Desa Danda Jaya di Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala (Batola), memprogramkan pengembangan Janda Ayu bersama Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin.
    Janda Ayu di Danda Jaya bukan perempuan yang sudah ditinggal suami, melainkan kependekan dari jamur danda.
    Jenis tanaman jamur ini mulai dibudidayakan selama lima tahun terakhir, jamur dari jenis tiram tersebut cukup sukses memberi pemasukan tambahan untuk petani setempat, selain bertanam padi dan hortikultura lain.
    Pencapaian itulah yang menarik Uniska untuk ikut berpartisipasi. Melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), mereka menjalin kerja sama dalam program Jamur Danda Jaya Berbasis Agrobisnis Yang Unggul atau disingkat Janda Ayu.

    “Kerja sama ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang menjadi fungsi perguruan tinggi, selain pendidikan dan penelitian,” ungkap Rektor Uniska, Prof Abdul Malik.
    Selain itu menurut Abdul Malik, melalui kerjasama yang sudah ditandatangani bersama, inovasi di kampus dapat ditularkan kepada masyarakat, tak hanya mahasiswa, dosen-dosen juga dilibatkan.
    Di antara 195 desa di Barito Kuala, Danda Jaya cukup menonjol. Mereka bahkan mendapat penghargaan Proklim Tingkat Utama 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
    “Terdapat beberapa inovasi yang bisa diaplikasikan, seperti packaging, penanaman dan lain-lain agar pengembangan jamur tiram di Danda Jaya semakin baik,” papar Abdul.
    “Pun pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang tak terdampak pandemi, sehingga diperlukan beberapa penguatan agar tetap bisa menopang pendapatan masyarakat,” terangnya.
    Danda Jaya sendiri menjadi salah satu dari puluhan desa binaan pertama Uniska. Namun dalam lingkup Fisip, Danda Jaya menjadi yang perdana.
    “Oleh karena kerjasama ini berkelanjutan, fokus kedepan tak cuma jamur tiram. Perhatian juga ditujukan kepada administrasi dan pariwisata,” timpal Murdiansyah Herman, Dekan Fisip Uniska.
    “Memang jamur sudah menjadi ikon, tetapi banyak potensi lain yang dapat dikembangkan di Danda Jaya. Salah satunya tanaman hias,” tandasnya.(muhammad)
    Editor : Amran
  • Selama Pandemi Covid, Pemasukan Daerah dari Sektor Parkir ‘Ngos-ngosan’

    Selama Pandemi Covid, Pemasukan Daerah dari Sektor Parkir ‘Ngos-ngosan’

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Pandemi Covid-19, pendapatan pajak dan retribusi parkir Kota Banjarmasin merosot tajam. Bahkan menurut Kepala UPTD Parkir Dishub Kota Banjarmasin, Hendra S Stp, MA, penurunan pemasukan perbulan hingga di bawah 50 persen dari waktu normal.
    Ia mencontohkan, jika pada bulan-bulan sebelum terjadi Covid-19 pendapatan dari sektor pajak dan retribusi parkir berkisar di angka Rp800 juta hingga Rp900 juta. Namun sejak April 2020 jumlah tersebut merosot hingga hanya dikisaran Rp200 juta saja.
    Merosotnya pendapatan dari sektor tersebut ujar Hendra tak lepas dengan adanya sejumlah kebijakan Pemerintah Kota Banjarmasin yang menutup beberapa objek wisata dan pembatasan jumlah pengunjung tempat keramaian serta rumah makan.
    “Misalnya penutupan Siring Pierre Tendean, Patung Bekantan dan beberapa objek lain. Selain itu juga sempat diberlakukan pembatasan Mall dan tempat keramaian,” ungkapnya.
    Baca Juga : Petugas Gabungan Lakukan Penertiban Juru Parkir Liar di Banjarmasin
    Kebijakan-kebijakan tersebut ujarnya akan berdampak pada jumlah pengunjung yang mau tak mau akan berdampak pula pada pendapatan pajak dan retribusi parkir.
    Belakangan kondisi tersebut ujarnya mulai membaik seiring waktu. “Di bulan Agustus ini nampaknya ada peningkatan. Kita perkirakan pendapatan dari sektor parkir akan terserap hingga Rp500 juta,” ungkapnya.
    Meski demikian, pihaknya masih harus bekerja keras guna memenuhi target penerimaan dari sektor pajak dan retribusi parkir tahun 2020 sebesar Rp 7,5 miliar.
    “Meski ngos-ngosan kita akan berjuang untuk memenuhi target tersebut dalam 4 bulan terakhir,” pungkasnya.(david)
    Editor : Amran
  • Bercadar Bukan Penghalang Selma Menekuni Profesi Barista dan Dunia Bisnis

    Bercadar Bukan Penghalang Selma Menekuni Profesi Barista dan Dunia Bisnis

    PROFESI barista atau peracik dan penyaji kopi paling jarang dilirik kaum hawa, sebab tampilan barista masih melekat pada kesan maskulin. Namun, hal ini tak jadi penghalang bagi Selma Andhara, seorang remaja perempuan bercadar yang menekuni profesi barista di Coffee Shop miliknya.
    Perempuan bercadar ini akrab disapa Selma, ia baru berusia 18 tahun. Di usia remajanya itu telah memantapkan diri terjun ke dunia bisnis.
    Saat dijumpai di Coffe Shop miliknya (Phard Coffee), Jalan Belitung Darat, Kecamatan Banjarmasin Barat. Selma berbagi cerita, yang mendorongnya untuk menekuni karir sebagai barista. Padahal profesi ini sangat kental digandrungi para lelaki, terlebih Selma sendiri merupakan hijaber bercadar.
    Sambil berbincang dengan klikkalsel.com, Selma menunjukan kepiawaiannya meracik kopi espresso. Dari sini, ia membuktikan hijab bukan jadi penghalang bagi para kaum hawa untuk berkarya di bidang apapun.
    Melalui program klikMenyapa, klikkalsel.com telah melakukan wawancara langsung bersama Selma untuk mengetahui lebih jauh mengenai karir bisnisnya di barista.
    Memilih berkarir di usia remaja, apa motivasinya?
    “Sukses itu bukan soal umur, bukan juga soal modal besar atau bahkan pintar di kelas. Sukses datang dari kerja keras, niat, tekad, keberanian, jaringan pertemanan, motivasi yang kuat dan sikap yang baik,” tutur Selma.
    (foto:rizqon/kilikkalsel)
    (foto:rizqon/kilikkalsel)
    Lantas apakah dengan berhijab jadi penghalang dalam beraktivitas?
    “Untuk sendiri baju bukan jadi penghalang untuk bisa ngapain. Kita mau memakai baju apapun kita bisa kok beraktivitas,” ucap Selma yang merupakan lulusan SMK Negeri 4 Banjarmasin Jurusan Kecantikan.
    Dikatakannya bekal ilmu yang didapat selama di bangku sekolah adalah salah satu motivasi terjun ke dunia bisnis di usia muda. Selain menjalankan bisnis kuliner di Phard Coffee, Selma juga ber-entrepreneur di bidang fashion tas sean.iid dan jilbab El.shawl.
    “Motivasi orang tua dan dorongan kawan-kawan menjadikan saya optimis berkarir. Ayo kawan-kawan kaum hawa khusus nya hijabers jangan merasa minder, berhijab adalah pilihan kita bukan penghalang untuk berkarya,” pungkas mantan Atlet Drum Band Nasional asal Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berhijab sejak 2017 lalu.(rizqon)
    Editor : Amran
    Simak Video Perbincangan Klikkalsel.com bersama Selma : https://youtu.be/pi7nMbZMLXA