Penyakit Cacing Hati Ancam Populasi Kerbau Rawa di HSU

Kerbau Rawa. (ist/klikkalsel)
AMUNTAI, klikkalsel.com – Populasi kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir berfluktuasi (turun naik), tapi kisaran di lapangan antara 8 ribu sampai 9 ribu ekor yang terdiri kerbau anakan, dara dan dewasa.
Kondisi geografis Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang mayoritas lahan rawa, membuat daerah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Satu diantaranya adalah dimilikinya populasi hewan endemik kerbau rawa atau lebih dikenal juga dengan bahasa banjar, Hadangan.
Sesuai namanya, kerbau rawa di Kabupaten HSU ini berbeda dengan kerbau pada umumnya yang ada di berbagai daerah lainnya. Karena hidup di atas hamparan rawa, maka kerbau ini sangat pandai berenang dan menyelam.
Sehingga tak heran ada yang menyebut kerbau rawa ini sebagai jenis mamalia, tapi bisa seperti amfibi, karena dapat bertahan di air dan di darat.
Terkait dengan populasi kerbau rawa ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten HSU H Yuli Hertawan melalui Kabid Peternakan Akhmad Rijani menerangkan, kerbau rawa ini tersentra di Desa Tampakang, Bararawa, Sapala, Ambahai, Paminggir dan Paminggir Seberang di Kecamatan Paminggir, yang merupakan daerah berair.
“Populasinya turun naik, dari data di lapangan berkisar antara 8 ribu sampai 9 ribu ekor yang terdiri kerbau anakan, dara dan dewasa,” katanya kepada awak media klikkalsel.com, Kamis (3/9/2020).
Baca Juga : Mulai Sakit-sakitan, Maestro Lamut ini Berharap ada Penerusnya
Kemudian, lanjutnya, untuk ancaman ternak kerbau rawa adalah hijauan makanan yang berkurang, karena lamanya lahan terendam air, sehingga perakaran rumput banyak yang mati dan larut di bawa arus air.
“Ancaman lainnya seperti penyakit cacing hati yang menyerang secara sporadis karena kurangnya makanan sehingga daya tubuh kerbau menurun serta adanya alih fungsi lahan,” ujarnya.
Selain itu, kendala yang dihadapi peternak adalah berkurangnya pejantan unggul, sehingga dikhawatirkan akan kawin sedarah (inbreding) dengan resiko makin berkurangnya bobot badan anak yang dilahirkan sampai besar.
Mengatasi hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten HSU, Provinsi dan Pusat berupaya memberikan bantuan berupa bantuan bibit kerbau jantan dan betina, bantuan kalang uruk, pencegahan dan pengobatan penyakit.
“Bantuan dari Pemerintah Pusat yaitu program budidaya kerbau dan pembibitan kerbau yang terdiri dari bantuan hibah ternak, pembelajaran pemilihan bibit yang baik, penanaman hijauan pakan lokal dan program inseminasi buatan atau kawin suntik,” jelasnya.
Sedangkan, untuk jumlah kelompok ternak kerbau yg di bina sebanyak 13 kelompok, masing-masing kelompok 10. Ada juga peternak yang tidak tergabung dalam kelompok ternak, hal ini biasanya peternak tersebut hanya pengaron (penggaduh) milik orang lain.
Untuk pemasaran kerbau, selama ini hanya dijual dalam bentuk hidup dengan wilayah pemasaran antar Kabupaten di Kalsel, dan bentuk bibit hidup ke Kaltim dan Kalteng.
Kerbau rawa sebagai Plasma Nutfah asli Kabupaten HSU dan salah satu destinasi wisata dalam rangka memanfaatkan potensi rawa, dirinya menegaskan bahwa hal itu sepenuhnya adalah wewenang atau domain Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) setempat.
“Dinas Pertanian Bidang Peternakan, hanya berwenang dari segi teknis peternakan untuk meningkatkan populasi dan produksi hasil ternak,” tandasnya.(doni)
Editor : Amran

Tinggalkan Balasan