Kategori: HST

  • Kontes Nanang Galuh HST 2022, Sebanyak 45 Generasi Muda Siap Ikuti Audisi

    Kontes Nanang Galuh HST 2022, Sebanyak 45 Generasi Muda Siap Ikuti Audisi

    BARABAI, Klikkalsel.com – Sempat tak diselenggarakan selama 2 tahun akibat pandemi, pemilihan Nanang Galuh Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Tahun 2022 kembali digelar oleh Dinas Pendidikan (Disdik).

    Dalam kontes kali ini, sebanyak 45 peserta siap berlaga menjadi yang terbaik usai mengikuti Technical Meeting pada Sabtu (11/6/2022) di Auditorium Pemkab HST.

    “Tahapan sudah masuk Technical Meeting, sebanyak 45 generasi muda akan segera mengikuti seleksi audisi tahap pertama pada tanggal 18 Juni 2022,” terang Plt Kadisdik HST Muhammad Anhar melalui Plt Kasi Kesenian dan Kebudayaan, Masruswian, Sabtu sore.

    Dari 45 peserta itu, menurut Masrus terdiri atas 27 laki-laki dan 18 perempuan dengan tujuan untuk memilih duta kebudayaan Bumi Murakata.

    “Seleksi kali ini bertujuan untuk mendapatkan sosok generasi penerus yang berkepribadian luhur, sesuai dengan norma agama, berwawasan yang luas baik untuk mempertahankan nilai-nilai budaya dan adat istiadat dan mampu bermitra dengan pemerintah daerah sebagai duta kebudayaan,” ujarnya.

    Baca Juga : Nanang Galuh Banjarmasin Gelar Buka Puasa Bersama Anak Panti Asuhan

    Baca Juga : Kubah Basirih Masuk Dalam 50 Destinasi Desa Wisata Indonesia Bangkit

    Sehingga, menurutnya, penilaian dalam ajang ini tidak hanya berorientasi pada penampilan secara fisik semata, melainkan juga penilaian terhadap karakter, kepribadian dan kecerdasan peserta, terutama mempunyai pengetahuan tentang seni dan budaya yang ada di Kabupaten HST.

    “Ini bukan ajang gaya-gayaan, namun Nanang Galuh yang terpilih nantinya diharapkan yang memang berkualitas dan akan menjadi sosok figur bagi generasi muda lainnya dalam mengemban tugas sebagai duta seni dan budaya Banjar. Oleh karenanya ajang ini merupakan wahana untuk melestarikan budaya daerah,” pungkasnya.

    Disamping itu, Pria yang juga menjabat wakil ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST ini juga menuturkan bahwa istilah Nanang Galuh sudah ada sejak jaman dulu yang merupakan penyebutan gelar kehormatan bagi keturunan bangsawan di Kesultanan Banjar.

    Lebih lanjut, mereka ini juga dulunya merupakan sosok figur dan panutan bagi masyarakat karena dinilai mempunyai kepribadian dan karakter sebagai urang Banjar.

    “Di era kekinian, sosok Nanang dan Galuh pada ajang pemilihan ini merupakan sebagai bentuk kehormatan. Sehingga, saya berharap bagi yang terpilih nantinya benar-benar bisa mengemban tugas pengabdiannya dengan baik dalam melestarikan budaya Banjar,” harapnya.(dayat)

    Editor : Amran

  • Bandar Sabu di Pegunungan HST Diringkus

    Bandar Sabu di Pegunungan HST Diringkus

    BARABAI, Klikkalsel.com – Polres Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) meringkus bandar narkotika jenis sabu yang masuk dalam DPO, Kamis (9/6/2022).

    “BS (34) tersangka yang masuk dalam DPO diringkus pada hari Kamis di Desa Tilahan, Kecamatan Hantakan sekitar pukul 15.00 Wita,” jelas Kapolres HST AKBP Sigit Hariyadi melalui Kasi Humas AKP Soebagijo, Sabtu (11/6/2022).

    Penangkapan itu semula buntut dari perkembangan kasus MH yang diringkus pada Kamis (25/11/2021) sekitar pukul 02.00 Wita di Desa Layuh Kecamatan Batu Benawa.

    “Informasi dari masyarakat bahwa di Desa Layuh sering terjadi transaksi narkoba jenis sabu sabu,” ungkapnya.

    Usai MH ditangkap, turut didapati sejumlah barang bukti 5 paket yang diduga sabu-sabu dengan berat bruto 1,30 gram berat bersih 0,15 gram yang sebelumnya sabu-sabu itu diperoleh dari buronan BS.

    Walaupun sempat buron selama 7 bulan, akhirnya petugas gabungan kepolisian berhasil meringkus BS warga Haruyan itu dibrumah yang ditempatinya di Desa Tilahan, Kamis (9/6/2022) siang.

    Baca Juga : Dua Sekawan Kena Ciduk Gegara Sabu

    Baca Juga : Pengedar Sabu di Jaro Diamankan Polisi 

    Pada penangkapan itu, Tim Gabungan Polres HST tak menemukan sabu-sabu. Akan tetapi, sejumlah barang bukti hasil penggeledahan buronan itu turut diamankan petugas.

    “Barang bukti yang diamankan berupa satu buah bong yang terbuat dari botol plastik warna bening beserta sedotan, uang tunai sebesar Rp. 12.950.000, satu buah kalung emas, satu buah handphone merk Oppo A16 warna silver,” terangnya.

    Selain itu, turut pula diamankan 1 unit mobil merk Mitsubishi Triton warna silver yang diduga merupakan hasil tindak kejahatan penjualan sabu-sabu.

    Setelahnya, Pelaku buronan itu dan sejumlah barang bukti sudah diamankan di Polres HST untuk proses lebih lanjut.

    “Atas perbuatannya terancam dijerat sebagaimana dimaksud Pasal 114 Ayat (1) Jo 132 Ayat (1) Sub 112 Ayat (1) Jo 132 Ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” tutupnya.(dayat)

    Editor : Amran

  • Jelang Salat Jum’at, Tiga Rumah Hangus Terbakar

    Jelang Salat Jum’at, Tiga Rumah Hangus Terbakar

    BARABAI, klikkalsel.com – Warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kembali dihebohkan dengan insiden kebakaran pada kawasan pemukiman padat penduduk di Desa Banua Rantau, Kecamatan Batang Alai Selatan (BAS).

    Peristiwa itu terjadi menjelang salat Jum’at dengan menghanguskan tiga rumah warga setempat, Jum’at (10/6/2022) sekitar pukul 11.30 Wita.

    Relawan pemadam kebakaran yang tergabung dalam Balakar 654 Murakata pun berbondong-bondong merapat guna membantu memadamkan kobaran api itu bersama para relawan dan warga sekitar.

    “Sudah tahap pembasahan,” terang Julak melalui Frekuensi Balakar 14.654.0

    Sesaat dilakukan pemadaman, api pun dapat dikuasai 100 persen oleh relawan gabungan, hingga tak sempat menjalar atau lebih meluas.

    Baca Juga : Yayasan Bumi Kita Fantastik Beri TOT Guru di HST

    Baca Juga : Lakukan Ekspedisi ke Gunung Halau-halau, Bupati HST Sampaikan Komitmen Menjaga Kelestarian Hutan Meratus

    Atas insiden itu, menurut laporan Pusdalops BPBD Kabupaten HST, tiga bangunan hangus terbakar. Kendati demikian, tak ada korban jiwa dari musibah itu.

    Lebih lanjut, data pemilik bangunan yang terbakar, meliputi Asmayah 1 kepala keluarga (kk) 4 jiwa bangunan semi permanen terbakar 100 persen, Rahmadi 2 kk 6 jiwa bangunan rumah kayu terbakar 100 persen, dan Arbayah 1kk 1 jiwa bangunan rumah kayu terbakar 20 persen.

    Sementara, penyebab kebakaran hingga kini masih belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

    Disamping itu, pada hari yang sama, tepatnya Jum’at (10/6/2022) pagi juga sempat terjadi kebakaran serupa di Simpang Nateh, Desa Batu Tangga, Kecamatan Batang Alai Timur.

    Untuk itu, seluruh warga pun dihimbau agar terus berhati-hati dalam menjalankan beraktivitas di dapur, menyalakan api, serta upayakan deteksi dini pada kabel-kabel yang berpotensi korsleting listrik. (dayat)

    Editor : Akhmad

  • Lakukan Ekspedisi ke Gunung Halau-halau, Bupati HST Sampaikan Komitmen Menjaga Kelestarian Hutan Meratus

    Lakukan Ekspedisi ke Gunung Halau-halau, Bupati HST Sampaikan Komitmen Menjaga Kelestarian Hutan Meratus

    BARABAI, Klikkalsel.com – Memiliki hutan hujan tropis dan Pegunungan Meratus yang masih tetap lestari menjadi tantangan tersendiri bagi Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) untuk terus mempertahankannya.

    Komitmen menjaga kelestarian hutan tersebut terus digaungkan hingga kini baik dari Pemkab HST, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun masyarakat adat dan masyarakat umum lainnya.

    Menyampaikan komitmen itu, Bupati HST, H Aulia Oktafiandi, Pj Sekda HST M Yani bersama rombongan, para turis pengurus Yayasan Bumi Kita Fantastik, Tim Kesehatan, Tim Rescue, dan masyarakat adat lokal melakukan Ekspedisi ke Gunung Halau-halau, puncak tertinggi Kalimantan Selatan selama 3 hari 2 malam.

    Rombongan mendaki dimulai dari Balai Adat Kiyu, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), pada hari Jumat (3/6/2022) pukul 09.30 Wita dengan melewati medan turun naik gunung, menyeberangi beberapa sungai, dan disuguhkan dengan keindahan hutan hujan tropis yang masih lestari.

    Perjalanan menuju puncak tersebut pun memakan waktu selama dua hari, hingga Bupati dan rombongan tiba di puncak pada Sabtu (4/5/2022) sore dan memutuskan untuk berkemah di sana hingga Minggu (5/6/2022) pagi.

    Saat itu, pada puncak Gunung Halau-Halau tersebut berada diketinggian 1901 MDPL dan suhu mencapai 14 derajat disertai kondisi berangin, hingga membuat suasana setempat begitu terasa dingin menembus kulit.

    Baca Juga : Tim Ekspedisi Meratus Tanam 5.000 Bibit Kopi di Gunung Halau-halau

    Baca Juga : Hari Lingkungan Hidup, Trail Runners Meratus Lakukan Penghijauan di Lokasi Pasca Bencana

    Ekspedisi inipun dipandang mengukir sejarah baru, yakni baru pertama kali ini Bupati HST yang sampai naik ke Puncak Gunung Halau-Halau sembari mempromosikan wisata alam pegunungan.

    Di samping itu, para turis dari Italia, Swiss dan Kanada dari Yayasan Bumi Kita Fantastik turut dilibatkan ikut serta dalam pendakian guna mempromosikan destinasi wisata tersebut agar dikenal lebih luas hingga ke Mancanegara.

    Pada puncak tersebut, Bupati Aulia menandatangani prasasti dan menetapkan Gunung Halau-Halau menyandang gelar The Green Belt of Borneo. “Mari kita selamatkan Meratus, agar Halau-Halau terjaga dan menjadi destinasi wisata dunia,” ujarnya.

    Wisata alam ini, menurut Aulia, perlu digali potensinya dan ke depan akan dibenahi fasilitas yang ada dari segi pos-pos pendakian dan jalur-jalur aman pendakian.

    “Oleh karena itu, saya mengundang wisatawan baik domestik maupun Mancanegara untuk datang ke Puncak Halau-halau ini. Mudah-mudahan upaya untuk mempromosikan wisata ini bisa mendatangkan efek terutama adalah pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya.

    Sementara, Pj Sekda HST M Yani mengungkapkan, pendakian kali ini mengambil tema Ekspedisi The Green Belt of Borneo untuk mempromosikan pariwisata alam dan menunjukkan komitmen Pemkab HST untuk terus menjaga hutan Meratus.

    “Perjalanan ini sebagai tindak lanjut dari MOU dengan yayasan Bumi Kita Fantastik Mudfish No Plastic untuk tetap menjaga alam dari sampah plastik,” terangnya.

    Dari ketinggian Puncak Gunung Halau-halau itu, Bupati HST, para turis dan rombongan dapat menyaksikan bentang alam deretan Pegunungan Meratus yang ada di HST, disuguhkan pemandangan sunset dan sunrise yang begitu menawan, serta sempat merasakan langsung segarnya air terjun sungai karuh.

    Hingga kini, komitmen menjaga kelestarian Meratus pun tetap digaungkan melalui penanaman pohon setiap pegawai yang naik jabatan, gerakan Bank Sampah Murakata, dan berbagai kegiatan kelestarian lingkungan lainnya.(dayat)

    Editor : Amran

  • Aruh Baduduk di Labuhan, Kepala Adat : Tak Pernah Ada Judi Sejak Dulu

    Aruh Baduduk di Labuhan, Kepala Adat : Tak Pernah Ada Judi Sejak Dulu

    BARABAI, klikkalsel.com – Selama dua bulan, masyarakat Hindu Dayak di Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan menggelar Aruh Adat Baduduk usai panen padi yang dilaksanakan di Balai Adat setempat.

    Kepala Adat Dayak Labuhan Suan menceritakan, sejarahnya dari zaman dahulu sampai sekarang, Aruh Adat di Labuhan tidak pernah diadakan judi.

    “Jangan sampai kegiatan Aruh Adat ditunggangi oknum/pihak tertentu yang memanfaatkan agar bisa diadakan perjudian dan lain-lain. Kami atas nama Lembaga Adat dan masyarakat Labuhan pun sangat keberatan dan sangat menolaknya,” tegasnya, Rabu (8/6/2022).

    Menurutnya, upacara Panca Yadnya Aruh Baduduk 2022 masyarakat Hindu Dayak Labuhan dilaksanakan setiap setahun sekali setelah selesai musim panen padi dan dianggap sangat sakral.

    “Aruh yang pertama baru saja dimulai Minggu (5/6/2022) dan rangkaian Aruh Baduduk dilaksanakan dua bulan penuh sampai awal Agustus nanti tanpa dibumbui dengan permainan judi,” tuturnnya.

    Dijelaskan, sebanyak 34 rumah yang akan melaksanakan Aruh Baduduk yang terdiri 100 umbun/kepala keluarga di laksanakan rumah masing-masing.

    Baca Juga : Yayasan Bumi Kita Fantastik Beri TOT Guru di HST

    Baca Juga : Imbas Insiden Pembunuhan di Aruh Adat, Damang Adat Dayak Meratus Jatuhi Sanksi

    “Panca Yadnya adalah lima jenis upacara suci yang diselenggarakan secara tulus ikhlas oleh umat Hindu dalam usahanya untuk mencapai kesempurnaan hidup,” jelasnya.

    Dalam aruh adat itu, selain pelaksanaan bersama warga adat Dayak, juga diperlukan sesajen, seperti lamang, kue pupudak, dodol, ayam kampung, wajik, kelapa, dodol putih, cangkaruk, cucur, pisang amas, pisang paleng, hingga gula merah.

    Sedangkan, aruh ganal biasanya menggunakan kerbau dan kambing. Untuk aruh adat bahan utama yang tak boleh ketinggalan yakni ketan yang dimasak untuk berbagai menu seperti lamang, dodol dan wajik, serta kue lainnya yang terbuat dari tepung beras.

    Dalam persiapan aruh itu, pihaknya pun menyiapkan secara beramai-ramai yang nantinya akan dijadikan makanan bagi peserta aruh dan tamu yang hadir.

    “Makna aruh ini intinya adalah sebagai wujud syukur karena hasil panen yang melimpah dan untuk terciptanya rasa kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi di masyarakat,” tambahnya..

    Pada pelaksanaan aruh kali ini berharap agar diberikan keselamatan berkah kepada seluruh masyarakat Labuhan dan mudah-mudahan jika ada rejeki tahun depan bisa melaksanakan Aruh Adat kembali.

    “Pada saat berlangsungnya pelaksanaan Aruh Baduduk tidak boleh di campuri dengan kegiatan yang akan mengganggu kesucian/kesakralan aruh tersebut seperti perjudian, sabung ayam dan minuman keras karena upacara tersebut sangat lah sakral bagi suku dayak,” tuturnya. (dayat)

    Editor : Akhmad

  • Yayasan Bumi Kita Fantastik Beri TOT Guru di HST

    Yayasan Bumi Kita Fantastik Beri TOT Guru di HST

    BARABAI, klikkalsel.com – Fenomena sampah plastik sekali pakai masih kuat menghantui Indonesia, tidak terkecuali Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

    Demi mengupayakan pengurangan pemakaian itu, Yayasan Bumi Kita Fantastik berikan pelatihan training of trainer (TOT) kepada pada guru Sekolah Adiwiyata di Bumi Murakata, Selasa (7/6/2022) di Aula Lantai II Bappeda HST.

    Mellisa salah seorag trainer dari Swiss mengatakan, semua yang dibutuhkan manusia berasal dari alam, karena itu sudah sepatutnya mencintai alam.

    Baca Juga : Plt Kadisdik HST Benarkan Ada Indikasi Guru Sering Bolos di Sekolah Daerah 3T

    Baca Juga : Empat Calon Paskibraka Asal HST Ikuti Seleksi Tingkat Nasional

    Pihaknya pun memberikan gambaran penyadaran melalui pembuatan tas kain daur ulang, lagu-lagu wawasan lingkungan, serta beragam gerakan dan kreativitas sederhana yang dapat dilakukan guna pengurangan sampah plastik sekali pakai.

    “Melalui edukasi dan pelatihan yang diberikan, diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran para peserta untuk menjaga alam serta lingkungan sekitar,” tambahnya.

    Di samping itu, para peserta workshop nantinya harus membagi dan mengajarkan pengetahuan yang didapatkan kepada para siswa di sekolahnya masing-masing agar sadar betapa pentingnya menjaga alam.

    “Jangan sampai kawasan pegunungan Meratus yang merupakan sabuk hijau Kalimantan ini tercemar. Mari bersama kita selamatkan Meratus. Save Meratus, No Plastic,” ujarnya.

    Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) HST, Mursidi mengatakan, TOT yang diikuti para guru Sekolah Adiwiyata ini, nantinya akan disosialisasikan kembali gerakan pengurangan sampah plastik kepada para siswa di sekolah masing-masing.

    Lebih lanjut, melalui kegiatan ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mampu mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.

    “Untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di masyarakat memang bukan hal yang mudah, untuk itu dilakukan bertahap. Sebagai langkah awal kita prioritaskan untuk Sekolah Adiwiyata,” tambahnya.

    Kegiatan ini masih dalam rangkaian peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada setiap 5 Juni.

    Sebelumnya, Pemkab HST juga telah teken MoU dengan Yayasan Bumi Kita Fantastik (Mudfish No Plastic) untuk edukasi tentang persampahan di Balai Adat Kiyu di Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT) pada 3 Juni lalu dan dilanjutkan dengan pendakian Gunung Halau-Halau. (dayat)

     

    Editor : Akhmad

  • Raperda Pemekaran Kecamatan Ditolak Tiga Fraksi

    Raperda Pemekaran Kecamatan Ditolak Tiga Fraksi

    BARABAI, klikkalsel.com – Sebanyak tiga dari enam fraksi DPRD Hulu Sungai Tengah (HST) menolak usulan Raperda pemekaran Kecamatan Batu Benawa, Batang Alai Selatan dan pembentukan Kecamatan Batang Alai Barat Daya yang diusulkan Pemkab HST pada agenda pandangan umum fraksi di Aula Dewan, Kamis (2/6/2022) siang.

    Penolakan itu disodorkan oleh Fraksi Nasdem, PKS dan PPP.

    Salhah juru bicara Fraksi Nasdem menyampaikan, masalah dapur Pemda masih banyak yang harus dibenahi, hal ini lebih urgen dibandingkan usulan itu.

    “Bayaknya pimpinan SKPD yang masih berstatus Plt, termasuk sejumlah SKPD yang menjadi urusan wajib pemerintahan, yaitu Dinas Pendidikan, Kesehatan dan PUPR. Ini seharusnya segera ditindaklanjuti,” terangnya.

    Lebih lanjut, Fraksi PPP yang disampaikan H Supian Noor juga berpandangan Raperda tersebut saat ini memiliki tingkat urgensi yang rendah, tidak mendesak untuk diwujudkan dan terkesan dipaksakan.

    “Untuk mewujudkan hal tersebut, tidak sedikit dana dan sumberdaya yang akan dialokasikan. Sementara saat ini kita memiliki anggaran yang terbatas, defisit. Kurang sejalan dengan upaya penghematan dan pendaya gunaan anggaran yang saat ini dijalankan Pemda,” ujarnya.

    Kemudian, Supriadi Fraksi PKS pun tak sejalan dengan berpandangan, mengacu data BPS tahun 2021 bahwa Kabupaten HST mendapatkan persentase penduduk miskin tertinggi ke-3 dan indeks pembangunan manusia (IPM) memiliki persentase terendah ke-3 se Kalimantan Selatan.

    “Pemerintah harusnya lebih memprioritaskan kebijakannya terhadap program pengentasan kemiskinan daripada menggelontorkan anggaran besar untuk melakukan pemekaran kecamatan dan pemindahan ibukota kecamatan ini,” tegasnya.

    Baca Juga : DPRD Kalsel Sambangi Kemenkes Upayakan Peningkatan Mutu RSUD Ulin Banjarmasin

    Baca Juga : Aturan Baru, Siswa Diminta Tunjukan Pedulilindungi dan Surat Lengkap Imunisasi dari Puskesmas

    Di samping itu, pertimbangan lainnya pun turut disampaikan tiga fraksi yang menolak itu berupa upaya mitigasi dan pemulihan pasca banjir yang lebih diutamakan, naskah akademik dan perlunya uji publik terhadap usulan itu, serta masih perlu dikaji mendalam karena terkesan dipaksakan.

    Sementara tiga fraksi lain, yakni Gerindra, Golkar, Bintang Persatuan Indonesia Perjuangan menerima usulan itu untuk dibahas.

    Usulan Raperda itu dipandang sudah sesuai aturan, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan meningkatkan serta mempercepat pelayanan, serta berkembangnya perekonomian dan pengelolaan potensi daerah kecamatan tersebut.

    Fraksi Partai Golkar, yang diketuai H Johar Arifin menyarankan, usulan ini harus melibatkan aspirasi masyarakat.

    Di samping itu, Pemkab HST harus menyiapkan anggaran pemekaran wilayah, administrasi pemekaran, perubahan administrasi kependudukan serta sumber daya manusia dan sarana prasarana wilayah yang dimekarkan.

    Selain Raperda pemekaran Kecamatan Batu Benawa, Batang Alai Selatan dan pembentukan Kecamatan Batang Alai Barat Daya, turut pula para fraksi memberikan pandangan terhadap Raperda pemindahan ibukota Kecamatan Hantakan, dan Raperda sistem kesehatan daerah.

    Terkait dua Raperda itu, tiga fraksi juga menolak dengan pemindahan Ibukota kecamatan Hantakan itu dengan alasan penolakan yang serupa dengan yang telah disampaikan. Sementara, Raperda sistem kesehatan daerah, semua fraksi setuju untuk ditindaklanjuti untuk pembahasan yang lebih mendalam. (dayat)

    Editor : Akhmad

  • Plt Kadisdik HST Benarkan Ada Indikasi Guru Sering Bolos di Sekolah Daerah 3T

    Plt Kadisdik HST Benarkan Ada Indikasi Guru Sering Bolos di Sekolah Daerah 3T

    BARABAI, klikkalsel.com – Warga Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mengeluhkan pembelajaran di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) masih jauh dari maksimal. Pasalnya, masih banyak guru yang masih sering tak hadir untuk mengisi jam pelajaran yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.

    Menurut pengakuan warga yang identitasnya enggan dimediakan, fenomena itu berlangsung di sejumlah sekolah yang berada di daerah Pegunungan Meratus, seperti SDN Batu Perahu, SDN Aing Bantai, SDN Datar Ajab 2, dan sekolah-sekolah lainnya yang memiliki geografis serupa.

    Hal yang paling disesalkan, guru-guru di daerah seperti itu mendapatkan intensif lebih daripada guru pada umumnya yang seharusnya harus dibarengi tanggungjawab penuh untuk mencerdaskan anak bangsa, meskipun berada di lokasi yang sulit dijangkau.

    “Guru-guru di daerah Pegunungan Meratus ini sudah digaji dan mendapatkan intensif lebih, semestinya tanggungjawab mereka harus dijalankan pula untuk mencerdaskan anak-anak di Pegunungan Meratus ini dengan pembelajaran yang lebih maksimal. Jangan curi-curi waktu, jarang turun,” ungkapnya, Selasa (31/5/2022).

    Menurutnya, hal itu sudah berlangsung sejak lama dan tak kunjung ada tindakan yang pasti. “Semoga ada tindakan jelas kedepan. Jangan sampai para siswa-siswi dikorbankan,” harapnya.

    Menanggapi keluhan masyarakat itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) HST Muhammad Anhar tak menampik hal itu.

    Menurutnya, memang benar ada indikasi terkait seperti itu, guru bergantian, dan berbagai macam sejenisnya seperti yang dikeluhkan masyarakat.

    Baca Juga : Disdik HST Komitmen Majukan Pendidikan di Desa 3T

    Baca Juga : Imbas Insiden Pembunuhan di Aruh Adat, Damang Adat Dayak Meratus Jatuhi Sanksi

    Untuk itu, pihaknya pun mengaku tak pandang bulu, dari segi tanggungjawab tak ada perlakuan khusus baik itu guru yang di daerah atas maupun yang di bawah.

    “Sanksi disiplin, bahkan sampai pemecatan kita proses. Tanpa pandang bulu siapapun,” terangnya kepada media ini, apabila ada temuan sesuatu yang tak beres.

    Kemudian, ia pun membeberkan terkait upaya pendisiplinan guru itu melalui presensi online (E-Presensi), yaitu melalui geolokasi 1 handphone 1 orang dan harus melangsungkan presensi di lokasi yang memang titik sekolah.

    Terkait di beberapa sekolah daerah Pegunungan yang tidak ada sinyal, E Presensinya dilakukan ke titik sinyal terakhir dekat lokasi sekolah. “Contoh di SD Alat, di sekolah itu tidak ada sinyal, presensinya kita pindah ke kantor pembakal. Sama halnya di Datar Ajab, Batu Perahu,” jelasnya.

    Kendati demikian, pihaknya pun kedepan akan memantau hasilnya, karena masih dalam tahap simulasi. “Disana nanti ketahuan mana yang disiplin mana yang tidak. Bisa jadi memang karena ada kendala sistem lagi eror atau berbagai macam lainnya, kita tidak bisa memungkiri juga,” tambahnya.

    Melalui sistem ini, menurut Anhar, pihaknya tidak hanya mendapatkan informasi melalui laporan masyarakat saja, melainkan juga pihaknya juga memiliki bukti secara otentik untuk melakukan teguran, bahkan sampai pemecatan sekalipun. (dayat)

    Editor : Akhmad

  • 218 PPPK Guru Tahap II Kabupaten HST Dilantik

    218 PPPK Guru Tahap II Kabupaten HST Dilantik

    BARABAI, Klikkalsel.com – Sebanyak 218 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Guru Tahap II di lingkungan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Pemkab HST) menerima Surat Keputusan (SK) dan resmi dilantik, serta diambil sumpah/janjinya.

    Secara simbolis, SK diserahkan Bupati HST H Aulia Oktafiandi kepada perwakilan PPPK Guru, serta dilanjutkan pelantikan, dan pengambilan sumpah/janji di Halaman Kantor Pemkab HST, Selasa (31/5/2022).

    Salah satu guru penerima SK, Siti Fatimah mengungkapkan, sebuah perjuangan panjang bersama guru lainnya telah dilakukan hingga akhirnya bisa menerima SK tersebut.

    Ia mengisahkan, mulanya diawal 2021 mengikuti seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) PPPK Guru tahap I. Berbagai tahapan pun diikutinya, namun kala itu tidak dinyatakan lulus.

    “Ikut seleksi tahap pertama kemarin belum rejeki,” jelasnya.

    Kemudian, ada kesempatan kembali untuk mengikuti seleksi ASN-PPPK Guru Tahap II. Ia pun mencoba kembali mendaftar dan mengikuti segala tahapan seleksi tahap II itu.

    Usai semua tahapan dilalui, pada Oktober 2021 ia bersama ratusan guru lainnya berhasil dinyatan lulus seleksi yang diketahui lewat pengumuman kelulusan tahap II.

    Setelah dinyatakan lulus, dilanjutkan dengan tes Napza dan pemberkasan pun dilengkapi pada Desember 2021. Namun, kala itu cukup lama tidak ada kabar kelanjutan, hingga ia dan guru lainnya pun sempat bolak balik menanyakan kepada BKPSDMD kapan kepastian mendapatkan SK tersebut.

    “Alhamdulillah, setelah sekian lama sekitar 6 bulan, akhirnya ada titik terang dan dilaksanakanlah pelantikan hari ini,” tuturnya.

    Baca Juga : Empat Calon Paskibraka Asal HST Ikuti Seleksi Tingkat Nasional

    Baca Juga : Keluh Kesah Warga Terhadap Pelayanan Samsat Tanjung, Bupati Tabalong Ikut Bersuara

    Siti Fatimah bersama para guru ASN-PPPK lainnya pun mengatakan, semangat mengabdi menjalankan tugas dan berharap lima tahun mendatang akan diperpanjang lagi tugasnya.

    Sementara itu, Wahyudi Rahmad Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Daerah (BKPSDMD) HST mengungkapkan, dalam suratnya, berbagai kelengkapan dokumen pun turut disyaratkan untuk pengambilan SK PPPK Guru tahap II.

    Syarat pengambilan SK kepada 218 PPPK Guru tahap II itu diantaranya, menyampaikan surat vaksinasi covid-19 bagi PPPK dan keluarganya.

    Kemudian, para guru PPPK pun turut diminta menanam lima pohon/tanaman di lingkungan sekolah tempat tugas masing-masing. Setelah, jika berkas sudah lengkap, pengambilan SK dilakukan di kantor BKPSDMD pada jam kerja.

    Di samping itu, sebanyak 13 calon PPPK guru yang sempat dinyatakan lulus dilakukan pembatalan oleh Pemkab HST, karena dinyatakan tak memenuhi syarat oleh BKPSDM HST usai diverifikasi dan validasi.

    Terkait itu, pihaknya pun mengaku masih menunggu respon dari Kementrian PAN-RB usai dilayangkan surat hasil rapat dengar pendapat DPRD HST, Dinas Pendidikan, BKPSDMD, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, dan Dinas Kesehatan HST terkait permasalahan tersebut.

    “kita sama-sama masih menunggu,” ucap Wahyudi saat ditemui media ini usai seremonial penyerahan SK PPPK Guru tahap II. (dayat)

    Editor : Akhmad

  • Supriadi Nilai Raperda Pemekaran Kecamatan Terkesan Dipaksakan

    Supriadi Nilai Raperda Pemekaran Kecamatan Terkesan Dipaksakan

    BARABAI, klikkalsel.com – Baru-baru ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Tengah (HST) mengajukan tiga Raperda ke DPRD HST. Satu dari tiga Raperda yang digulirkan itu, yakni Raperda pemekaran dua kecamatan dan pembentukan kecamatan baru, yaitu Batang Alai Barat Daya.

    Anggota Komisi II DPRD HST, Supriadi pun angkat bicara terkait pengajuan Raperda itu. Ia menilai Raperda pemekaran kecamatan yang diusulkan Pemkab tersebut terkesan dipaksakan.

    “Ada apa ini? Ulun melihat Raperda pemekaran kecamatan yang diusulkan Pemkab itu seperti prioritas dijadikan Perda, dan terkesan dipaksakan,” ucap Politisi PKS kepada awak media ini, Jum’at (27/5/2022).

    Dia pun seakan tak habis pikir di tengah defisit anggaran yang sekarang ini. Menurutnya, ada pertanyaan mendasar yang ingin digalinya ke Pemda terkait usulan Raperda pemekaran kecamatan yang disampaikan Bupati HST, H Aulia Oktafiandi itu.

    “Di suasana defisit anggaran, di tengah pandemi Covid-19, dan tingginya angka kemiskinan yang harusnya diturunkan, kenapa Raperda ini menjadi prioritas. Saya ingin menggali alasan-alasan Pemda menjadikan Raperda itu,” terangnya.

    Baca Juga : Duel Maut di Aruh Adat, Lim Tewas dengan Luka Menganga di Perut

    Baca Juga : Pro Kontra Sepeda Listrik yang Tengah Digandrungi di Banjarmasin, Ini Tanggapan Pihak Terkait

    Supriadi melanjutkan, di tengah suasana demikian, kenapa Pemkab malah ingin menggelontorkan biaya besar dan bahkan bisa membebani APBD untuk realisasi Perda pemekaran kecamatan ini.

    “Pembebanan anggaran ini justru yang paling urgen,” pungkasnya.

    Raperda itu sudah bergulir ke DPRD HST dan sekarang sedang berproses. Selanjutnya, DPRD akan membentuk Pansus. Melalui Pansus itu pula nanti yang akan menilai dan menentukan apakah Raperda pemekaran kecamatan ini layak diteruskan dibahas menjadi sebuah Perda atau ditahan dulu. (dayat)

    Editor : Akhmad