Kategori: Ekonomi & Bisnis

  • Sepi Penumpang, Tukang Ojek Sanggam Paringin Beralih Menyadap Karet

    Sepi Penumpang, Tukang Ojek Sanggam Paringin Beralih Menyadap Karet

    PARINGIN, klikkalsel.com – Sepi tanpa aktivitas jelas terlihat di pangkalan persatuan Ojek Sanggam Paringin Kabupaten Balangan. Sehingga tukang ojek yang biasa mangkal di pangkalan tersebut ada yang beralih menjadi penyadap karet.

    “Sekarang saya ngojek hanya untung-untungan, jangankan memenuhi kebutuhan di rumah untuk mengisi bensin saja kadang harus merogoh kantong sendiri”, ucap Hasni Tukang ojek Sanggam.

    Diketahui pria yang sehari-hari juga sebagai kuli penyadap karet milik tetangganya ini, tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga jika hanya hanya mengharap penghasilan menarik ojek saja.

    “Dulu sebelum pandemi merebak, saya dalam sehari bisa saja dapat Rp40 ribu sampai Rp80 ribu perhari. Uang ini bisa digunakan untuk membiayai anak sekolah dan sisanya ditabung,” katanya.

    Tukang ojek lain pun turut merasakan imbas wabah Covid-19 seperti Idrus. Ayah dua anak ini dulunya hanya menggantungkan nasib dari hasil narik ojek.

    “Dulu hasil narik ojek cukup untuk makan sehari dan syukur-syukur bisa nabung, kalau sekarang narik ojek tidak dapat lagi diharap sebagai mata pencarian utama, kita terpaksa harus mengambil pekerjaan lain sebagai kuli penyadap karet milik orang lain,” ujar Idrus (08/08/2020).

    Pangkalan ojek yang berlokasi persis di depan tugu Sanggam Paringin ini, ketika didatangi mereka hanya mengobrol dan sambil tiduran menunggu penumpang. Saat ditanya belum ada seorangpun yang sudah narik penumpang. Imbuh mereka

    “Kalau seperti ini terus-terusan tidak menutup kemungkinan kita hanya akan fokus bekerja sebagai kuli penyadap karet,” tukasnya. (wawan)

    Editor : Akhmad

  • Harga Karet Merosot, Petani Sulit Penuhi Kebutuhan Hidup Hingga Merawat Kebun

    Harga Karet Merosot, Petani Sulit Penuhi Kebutuhan Hidup Hingga Merawat Kebun

    PARINGIN, klikkalsel.com – Dampak pandemi berimbas pada semua sektor perekonomian masyarakat tidak terkecuali harga karet terkhusus untuk warga Paran, Paringin yang 94 persen petani karet.

    Sudah 6 bulan terakhir harga karet anjlok, bahkan kemarin saat bulan Ramadhan harga karet di bawah Rp 3.000 per kilogram.

    Kondisi tersebut disampaikan Burhannudin, petani karet di Desa Paran, Paringin, Kabupaten Balangan .

    Tidak heran jika Petani karet merasa resah karena harganya tak kunjung naik. Dilihat dari kebutuhan sandang pangan, mereka harus mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya seperti membeli beras, sayur, ikan dan bumbu dapur lain.

    “Saat ini Alhamdulillah harga karet sudah sedikit lebih naik mencapi Rp4.500 per kilogram,” tutur Burhanuddin, Sabtu (8/8/2020).

    Menurutnya, harga Rp4500 per kilogram, tetap jauh dari sebelum pandemi mewabah. Ia menambahkan, jangankan melakukan perawatan kebun, untuk makan sehari-hari saja serba pas-pasan.

    Saat didatangi di kebun miliknya, Burhannudin sedang menyadap, terlihat rumput liar tumbuh lebat setinggi pinggang orang dewasa, hal ini tentunya mengganggu kenyaman saat menyadap.

    “Dengan harga karet saat ini kami tidak dapat melakukan perawatan rutin, terhadap kebun seperti memberi pupuk dan menyemprot tumbuhan liar dengan pestisida” sambung Burhannudin.

    “Semoga cepat berlalu pandemi dan harga karet bisa normal lagi” Tukasnya.

    Kondisi merosotnya harga karet juga dialami para tengkulak dari petani. Harga karet merosot disebabkan oleh sedikitnya jumlah pabrik pembeli hasil karet dan ditambah memang harganya jauh turun dari sebelum pandemi.

    “Harga karet sebelum pandemi Rp8.000 per kilogram, sehingga para petani lebih makmur dan dapat melakukan perawatan kebun karet secara berkala,” tandas Sauqy.(wawan)

    Editor : Amran

  • Pabrik Tahu Lamongan di Teluk Keramat, Bertahan di Tengah Pandemi Corona

    Pabrik Tahu Lamongan di Teluk Keramat, Bertahan di Tengah Pandemi Corona

    PARINGIN, klikkalsel.com – Tempat usaha Tahu Lamongan di Desa Teluk Keramat, Paringin, Kabupaten Balangan, merasakan penurunan omzet di masa pandemi wabah virus Corona (Covid-19).
    Sejak bulan Maret lalu, usaha pabrikan tahu ini mulai merasakan penurunan penjualan, seiring dengan mewabahnya virus asal, Wuhan, China.
    Pendapatan tak seperti biasa ini diakui Uliya, pemilik pabrik Tahu Lamongan. Menurutnya, kendati ada penurunan omzet, ia terpaksa haris bertahan karena ini pengolahan tahu ini satu-satunya usaha yang digelutinya.
    “Di masa pandemi ini memang terjadi pengurangan omzet pabrik, terhitung setelah bulan Maret pendapatan berkurang seperempat dari sebelumnya,” tutur Uliya, Jumat, (07/08/2020).
    Baca Juga : 4 Terduga Kurir dan Penerima Sabu 300 Kg Diintai Sebulan
    Diketahui, pabrik Tahu Lamongan yang dikelola bersama suaminya, sudah beroperasi sejak 5 tahun lalu, mempekerjakan lima karyawan tetap untuk membantu produksi tahu olahannya yang menghabiskan 200 kilogram bahan baku per harinya.
    Bahkan ia mengklaim, warga setempat sudah terbiasa membeli produksi tahu miliknya, ia mengklaim, olahan tahu memang berbeda dengan tahu yang di beli di tempat lain, termasuk soal harga.
    Tidak heran jika pabrik tahu tersebut tetap beroperasi meski di tengah pandemi, karena sudah memiliki pelanggan setia dan tahu olahan mereka memang digemari oleh warga.
    “Selain di jual di tempat, kami juga memasok tahu ke pedagan-pedagang tahu keliling, serta kami juga menjual tahu ke pasar modern Adaro di Paringin dan dipasok ke pengusaha catering di Paringin,” tutur Uliya.
    Ia pun berharap, semoga tetap bisa menyiasati baik biaya produksi maupun pemasaran tahu, guna memperlancar produksi.
    Lana, warga yang tak jauh dari pabrik Tahu Lamongan milil Uliya juga mengakui tahu olahan dari pabrik tersebut memang berbeda dengan yang lain.
    “Selain harga tahunya yang terjangkau, rasanya yang enak untuk dikonsumsi sebagai lauk dan cemilan,” imbuh Lana.(wawan)
    Editor : Amran
  • Jamin Keakuratan Takaran dan Timbangan, Alat UTTP Semua Pasar di Tala Bakal Ditera Ulang

    Jamin Keakuratan Takaran dan Timbangan, Alat UTTP Semua Pasar di Tala Bakal Ditera Ulang

    PELAIHARI, klikkalsel.com – Bupati Tanah Laut (Tala) H Sukamta membuka secara langsung kegiatan Pelayanan Tera atau Tera Ulang kepada para pedagang pengguna Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) di Pasar Bati-Bati, Kecamatan Batibati pada Rabu (5/8/2020).
    Kegiatan tersebut digagas Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Perdagangan (Diskopdag) Tala, terlihat para petugas dari DIskopdag Tala melakukan Tera terhadap Alat UTTP milik para pedagang Pasar Bati-Bati.
    Baca juga : Pasien Sembuh Covid-19 di Kalsel Melebihi 50 Persen
    Para pedagang pun dikenakan retribusi sebesar Rp5 ribu dan Alat UTTP yang sudah di Tera atau Tera Ulang akan diberi tanda (tok) dan stiker tanda bahwa Alat UTTP tersebut benar-benar akurat.

    Kepala Diskopdag Tala H. Syahrian Nurdin mengungkapkan, kegiatan Tera atau Tera Ulang ini baru dilaksanakan pada 2020 ini. “Sebelumnya hanya Banjarmasin, Banjarbaru dan Banjar yang melakukan Tera ini, namun kita tidak mau ketinggalan dengan peralatan seadanya dan Sumber Daya Manusia (SDM) kita lakukan kegiatan ini di seluruh pasar yang ada di Tala,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menjamin keakuratan Alat UTTP para pedagang, sehingga nanti terjalin kepercayaan antar pedagang dan pembeli. “Jika kedapatan ada Alat UTTP yang kurang akurat maka akan kami benarkan atau perbaiki, karena kegiatan ini sifatnya pembinaan,” tuturnya.

    Sementara itu Bupati Tala Sukamta mengungkapkan, pelayanan Tera atau Tera Ulang ini dilaksanakan agar Kabupaten Tala menjadi daerah tertib ukur dan menjamin kebenaran atau keakuratan dari Alat UTTP para pedagang.

    “Kami ingin seluruh Alat UTTP para pedagang memenuhi ketentuat yang tepat, masyarakat sebagai konsumen tidak dirugikan sehingga pasar menjadi tempat rezeki yang barokah,” harapnya.

    Bupati Sukamta pun mengapresiasi Kadiskopdag Tala karena kegiatan Tera atau Tera Ulang tersebut dapat terlaksana. “Saya ucapkan teriamkasih kepada Kadis dan jajaran Diskopdag Tala, kegiatan ini akan dilakukan ke semua pasar yang ada di Tala, semoga memberikan kemaslahatan bagi masyarakat Bui Tuntung Pandang,”tutupnya.(humas Pemkab Tala)

    Editor : Akhmad
  • Peran Dekranasda HSU Membantu Hidupkan Usaha Kerajinan Purun Dimasa Pandemi Covid-19

    Peran Dekranasda HSU Membantu Hidupkan Usaha Kerajinan Purun Dimasa Pandemi Covid-19

    AMUNTAI, klikkalsel.com – Tanaman purun merupakan tanaman yang banyak dijumpai di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Hampir di seluruh Kecamatan dikelilingi oleh rawa, sehingga tanaman purun mampu dimanfaatkan dan dibudidayakan oleh sebagaian masyarakat HSU.
    Hal itu diulas dalam Program B.Talk (Bicara Apa Saja) yang selenggarakan salah satu media, dengan narasumber Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten HSU, Hj Anisah Rasyidah Wahid, secara virtual melalui video conference (Vicon) di Mess Negara Dipa Amuntai, Selasa, (4/8/2020).
    Sebagai narasumber Hj. Anisa Rasyidah Wahid menjelaskan, kerajinan purun merupakan salah satu industri kecil menengah dari Kabupaten HSU yang telah banyak dikenal baik di dalam daerah hingga nasional.
    “Purun sampai kini menjadi sumber ekonomi selain bertani bagi sebagian masyarakat desa dan sudah membudaya di kalangan masyarakat Kabupaten HSU, dengan tanpa harus dipaksa banyak tangan terampil yang membuat kerajinan khas alam ini,” katanya.
    Lebih lanjut Anisah menjelaskan, berbagai kerajinan dihasilkan oleh pengrajin dari anyaman purun seperti tas, tikar, topi, bakul, hiasan dinding, bahkan sedotan dan aksesoris lainnya.
    “Penjualan produk ini mencakup dalam dan luar daerah mencakup Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Pulau Bali, bahkan melakukan penjualan hingga ke luar negeri antara lain Jerman dan Swedia,” terangnya.
    Kemudian lanjutnya lagi, pada kisaran Maret sampai dengan Juni 2020 saat masa pandemi covid-19 sangat berpengaruh terhadap produksi kerajinan, terjadi penurunan yang drastis atas penjualan produk kerajinan purun dimana tercatat nilai produksi per bulan hanya mencapai Rp.517.313.000,- per bulan.
    “Pemasaran kerajinan menurun hampir 30 persen, yang mana disebabkan menurunnya daya beli konsumen, kenaikan harga bahan baku, biaya produksi juga mengalami kenaikan serta terhambatnya distribusi produk,” ungkapnya.
    Untuk itu, pada Juli 2020 era New Normal, Dekranasda dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) HSU, gencar kembali melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi kerajinan di Kabupaten HSU.
    Berbagai upaya yang dilakukan antara lain diadakannya pelatihan digital marketing kepada pelaku Industri Kecil dan Menegah (IKM) serta menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga untuk pemasaran produk di antaranya dengan Bank Indonesia dan Badan Restorasi Gambut (BRG) serta mendukung Bangga Buatan Indonesia.
    Pemkab HSU juga telah mengeluarkan kebijakan edaran dan himbauan untuk menggunakan produk kerajinan sebagai pengganti plastik, yang bertujuan untuk mengurangi limbah plastik serta meningkatkan penggunaan produk kerajinan purun.
    “Tercatat pada akhir Juli 2020 nilai produksi mencapai Rp.620.775.000,- perbulan, dapat meningkat kembali sebesar 20 persen. Meskipun masih belum kembali seperti sedia kala, peningkatan tersebut sudah signifikan meningkatkan produksi dan pemasaran produk kerajinan,” ujarnya.
    Sementara, untuk meningkatkan pemasaran, para pengrajin juga dibekali dengan pelatihan menggunakan media sosial untuk memperluas jaringan pemasaran. Yang mana sudah ada 5 kelompok usaha yang aktif memasarkan produknya melalui marketplace Bukalapak, yaitu Kelompok usaha Desa Sungai Namang, Darussalam. Pulantani, Teluk Haur dan Kaludan Kecil.
    “Saya selaku Ketua Dekranasda Kabupaten HSU mengucapkan terima kasih kepada B.Post yang turut mempromosikan seluk beluk yang ada di Kabupaten HSU, tak lupa saya mengimbau kepada masyarakat Kabupaten HSU untuk bersama-sama menggunakan produk buatan Kabupaten HSU, kalau tidak melestarikan siapa lagi,” tutupnya. (doni)
    Editor : Akhmad
  • Pendapatan Pengepul Kulit Sapi di Kawasan Kolonel Sugiono Menurun

    Pendapatan Pengepul Kulit Sapi di Kawasan Kolonel Sugiono Menurun

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Pengepul kulit sapi di Jalan Kolonel Sugiono, Banjarmasin, yang biasanya kebanjiran orderan dari warga yang menjual kulit sapi dari hewan kurban di Hari Raya Idul Adha, kali ini tak banyak harus menjualnya kembali ke Pulau Jawa.
    Masa pandemi wabah virus Corona (Covid-19) menjadi penghalang pengiriman kulit sapi ke daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Namun, karena kekurangan mengumpulkan kulit sapi tahun ini hanya 50 persen, mengakibatkan pengirman ke Pulau Jawa tidak mencapai target.
    Baca juga : Penjual ‘Kambang Barenteng’ Meraup Rezeki di Hari Raya Idul Adha
    Menurut Asik, seorang pengepul kulit sapi di Jalan Kolonel Sugiono, tahun ini pabrik di Pulau Jawa juga tutup sementara. Biasanya kulit sapi yang dikirim akan dibuat kerupuk.
    Sejak tahun 90 an, Asik sudah menggeluti pekerjaan mengumpulkan kulit sapi yang masih utuh. Biasanya ujarnya, kulit sapi yang dibeli dari warga yang mula harga sebelum Covid-19 berkisar Rp70 ribu, saat ini ia hanya berani membeli dengan harga Rp30 ribu sampai Rp40 ribu.
    “Yang penting kulitnya dari badan sapi tersebut utuh dan tidak ada yang sobek, saat ini kami sudah mengumpulkan kulit sapi sebanyak 25 ton selama dua hari sejak hari pertama Hari Raya Idul Adha,” tutur Asik kepada klikkalsel.com, Minggu (2/8/2020).
    Sebelum menerima dari penjual, Asik harus terliti memeriksa kondisi seluruh bagian kulit, mulai dari ketebalan hingga kondisi fisik kulit apakah ada sobek atau pun masih utuh.
    “Ya harus teliti karena saya harus menjualnya kembali ke pengepul yang langsung berhubungan dengan pabrik di daerah Jawa, saya menjualnya kembai dengan harga Rp2 ribu/ perkilonya,” sebut Asik.
    Menurutnya, sebelum kulit sapi yang dikumpulkannya dikirim ke Pulau Jawa, kulit yang sudah dikumpulkan dimasukan ke gudang dan diberi garam selama 3 hari dulu.
    Selain mengumpulkan kulit sapi, Asik kesehariannya juga menjual makanan khas Madura, yakni Soto Madura dan sate kambing, ayam, dan sapi.(airlangga)
    Editor : Amran
  • Penjual ‘Kambang Barenteng’ Meraup Rezeki di Hari Raya Idul Adha

    Penjual ‘Kambang Barenteng’ Meraup Rezeki di Hari Raya Idul Adha

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Hari raya Idul Adha 1441 Hijriah yang dilaksanakan Umat Muslim di Kota Bamanjarmasin membawa dampak kepada para pedagang ‘Kambang Barenteng’ (bunga tabur) dadakan.
    Sebagian warga Banjarmasin pada umumnya, menjelang dan pada saat Idul Adha dimanfaatkanya untuk ziarah ke makam sanak keluarga atau para ulama.
    Mama Anai yang membuka lapak di Jalan Antasan Kecil Timur, menuju kubah KH Ahmad Zuhdiannor (Guru Zuhdi), yang muasalnya berjualan gorengan, kini beralih profesi menjual ‘Kambang Barenteng’ dan poster Guru Zuhdi semenjak kubah dibuka.
    “Dulunya bejual gorengan sebelum bejualan kambang, baru sebulan bajual kambang dan poster setelah kubah dibuka,” tuturnya, Sabtu (1/8/2020).
    Baca Juga : Trend Angka Kesembuhan Covid-19 di Hulu Sungai Utara Terus Meningkat
    Ia bersyukur di hari Raya Idul Adha ini ada peningkatan penjualan dari hari-hari biasanya, mulai dari ‘Kambang Barenteng’ dijual Rp5 ribu sampai Rp10 ribu perkantong sesuai keinginan pembeli. Sedangkan poster berkisaran Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
    Sementara, Rosinah, pedagang ‘Kambang Barenteng’ di Jalan Malkon Temon mengaku saat hari raya ia sudah membuka lapaknya sejak pukul 07.00 Wita, hingga sampai sore.
    “Hanya membuka lapak berjualan bunga tabur pada saat Idul Adha dan Idul Fitri saja,” ucapnya.
    Menurutnya, berjualan ‘Kambang Barenteng’ di hari raya tidak sebanding dengan sebelum-sebelumnya, sebab ada penurunan dibanding hari raya sebelumnya” tandasnya.(airlangga)
    Editor : Amran
  • Welfare Brand Lokal Asal Tabalong, Angkat Budaya Borneo Lewat Fasion

    Welfare Brand Lokal Asal Tabalong, Angkat Budaya Borneo Lewat Fasion

    TANJUNG, klikkalsel.com – Mengangkat budaya atau kultur lokal tidak mesti hanya melalui sebuah karya seni, nyanyian atau tarian. Di sisi lain, dapat dilakukan dengan mengaplikasikannya ke dalam dunia fasion.
    Seperti yang dilakukan Koko Indarko, pria berusia 29 tahun. Ia bersama tiga orang rekannya membuat brand lokal dengan nama Walfare yang mengangkat tema Kultur Borneo.
    Berdiri sejak tiga tahun lalu, tepatnya pada 25 Desember 2017 lalu, Walfare sendiri memiliki arti Kesejahteraan.
    Baca juga : Jemaah Salat Idul Adha di Masjid Sabillal Muhtaddin tak Dibatasi
    “Disini maksudnya dengan adanya brand ini dapat memberikan kesejahteraan kepada kawan-kawan yang tergabung di Welfare,” kata Owner Walfare yang akrab disapa Koko.
    Tema Kultur Borneo yang di produksi di Walfare beraneka ragam desain, mulai budaya dayak, banjar hingga hewan pandemik di Kalimantan.
    “Agar kita lebih mengerti bahwa budaya itu ada penting dan selalu ada dalam sebuah kehidupan, dimanapun dan kapanpun,” jelas Koko.
    Untuk tetap menjaga kualitas produknya, Koko menuturkan, dirinya hanya memproduksi tiap desain dalam jumlah terbatas. Harganya juga cukup terjangkau, berkisar antara Rp115 ribu hingga Rp 145 ribu.
    Baca juga : Aliansi Buruh Salurkan 1.500 Paket Sembako Bantuan Kapolda Kalsel
    Produk Walfare sendiri tak hanya kaos, ada juga produk lainnya seperti, jaket dan topi.
    “Kedepannya rencana kita produksi celana serta sepatu,” ujar Koko.
    Dalam memasarkan produknya, Koko tak hanya menjualnya secara offline, namun juga melalui penjualan via online.
    Hingga kini, penjualan produk Walfare sudah merambah hingga ke pulau Jawa. Untung jutaan rupiah pun sudah dinikmati Koko bersama rekan-rekannya.
    Kedepan, Koko juga menargetkan akan membuka satu lagi store cabang di Tabalong. “Target dua tahun lagi terdapat store lain,” ujarnya.
    Dan saat ini, setelah tiga tahun lamanya brand yang didirikannya tersebut juga telah memiliki brand ambassador.
    “Brand ambassador kita yaitu teman-teman dari band asal Banjarmasin The Rindjink,” jelas Koko.
    Bagi anda yang tertarik ingin membeli langsung dapat langsung mengunjungi workshop Walfare di jalan Belimbing Raya, RT 02, No 34, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong.
    Sedangkan, yang ingin membeli secara online dapat melihat jenis – jenis produknya di instgaram resminya @welfarestreetwear.(arif)
    Editor : Amran
  • RUU Cipta Kerja Jalan Tengah Kepentingan Investasi, UMKM, dan Pekerja

    RUU Cipta Kerja Jalan Tengah Kepentingan Investasi, UMKM, dan Pekerja

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja yang saat ini masih dibahas oleh DPR dianggap sebagai jalan tengah antara kepentingan investasi, UMKM, dan kepentingan pekerja.
    Hal tersebut terungkap dari hasil survei nasional Cyrus Network “Penilaian Publik Terhadap RUU Cipta Kerja dan Penanganan Dampak Covid-19” yang dipaparkan secara virtual, Senin (27/7/2020).
    “Secara umum, persepsi terhadap RUU Cipta Kerja cukup baik dengan 69 persen responden setuju terhadap RUU ini. Bahkan, publik menilai RUU Cipta Kerja merupakan jalan tengah antara kepentingan investasi, UMKM, dan kepentingan pekerja.
    Baca juga : Jemaah Salat Idul Adha di Masjid Sabillal Muhtaddin tak Dibatasi
    Hal ini terlihat dari 72 persen responden yang menilai RUU ini pro investasi, tapi tidak serta merta mengabaikan UMKM karena 67 persen responden juga menilai RUU ini pro terhadap UMKM, dan 64 persen responden menganggap RUU ini pro terhadap pekerja,” kata Riswanda, Ph.D. yang merupakan pemapar dan tim ahli dari rilis survei Cyrus Network.
    Tingkat pengetahuan responden terkait RUU Cipta Kerja mencapai angka 20,7 persen dari total seluruh responden. Tercatat, 80 persen dari responden yang pernah mendengar soal pembahasan RUU Cipta Kerja tersebut, merasa memang perlu ada penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya oleh pemerintah.
    Baca juga : Aliansi Buruh Salurkan 1.500 Paket Sembako Bantuan Kapolda Kalsel
    Bahkan, sebanyak 85 persen responden sadar dan setuju bahwa penciptaan lapangan kerja perlu dilakukan dengan mempermudah syarat masuknya investasi dan pendirian usaha di Indonesia.
    “Sebanyak 84 persen responden juga mendukung penyederhanaan regulasi yang berbelit-belit dan mempersulit investasi. Tercatat, 73 persen responden juga menganggap tingkat kesulitan memulai usaha di Indonesia cukup tinggi,” kata Riswanda.
    Hal-hal yang dianggap responden menjadi permasalahan sulitnya investasi dan memulai usaha di Indonesia antara lain adalah produktifitas tenaga kerja yang rendah (60 persen), skill dan kemampuan tenaga kerja Indonesia yang masih rendah (58 persen), dan daya saing yang lebih rendah dibanding tenaga kerja asing (57 persen).
    “Lebih jauh lagi, 61 persen responden menilai bahwa RUU Cipta Kerja ini adalah solusi untuk perbaikan ekonomi pasca krisis yang diakibatkan wabah Covid-19 yang melanda Indonesia,” kata pengamat kebijakan publik dari Universitas Sultan Ageng Tritayasa ini.
    Cyrus Network melaksanakan survei pada tanggal 16-20 Juli 2020. Bisa dikatakan ini adalah survei tatap muka pertama yang digelar secara nasional setelah Indonesia diserang pandemi Covid-19. Survei ini mencuplik responden sebanyak 1,230 orang dan tersebar secara proporsional di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error dari survei ini sebesar +/- 2,85 persen.(david)
    Editor : Amran
  • Pengamat Ekonomi : Jika Disahkan, RUU Cipta Kerja Dapat Jadi Solusi Percepatan Pengurangan Pengangguran

    Pengamat Ekonomi : Jika Disahkan, RUU Cipta Kerja Dapat Jadi Solusi Percepatan Pengurangan Pengangguran

    BANJARMASIN, klikkalsel.com – RUU Cipta Kerja dinilai dapat menjadi solusi percepatan pengurangan pengangguran jika disahkan menjadi Undang-Undang (UU).
    “RUU Cipta Kerja jika disahkan dapat menjadi salah satu solusi untuk percepatan mengurangi pengangguran,” ujar Pengamat ekonomi Santo Dewatmoko dalam acara webinar bertajuk Memadankan RUU Cipta Kerja : Antisipasi – Solusi Ketenagakerjaan yang diselenggarakan Pusat Studi Humaniora dan Kemasyarakatan STIA Bagasasi.
    Baca juga : 25 Tahun Mengabdi, Akabri Angkatan 1995 Bimacakti Gelar Bakti Sosial
    Dosen Ekonomi Bisnis di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bagasasi ini menjelaskan, saat ini masih terdapat 7,05 Juta Pengangguran; 2,24 Juta Angkatan Kerja Baru; 8,14 Juta; Setengah Penganggur, dan 28,41 Juta Pekerja Paruh Waktu (45,84 Juta Angkatan Kerja yang bekerja tidak penuh).
    Penciptaan lapangan kerja masih berkisar 2 sd. 2,5 Juta per-tahunnya. Tingginya angka pengangguran, kata Santo, diperparah dengan adanya wabah pandemi Covid-19.
    ”Pada masa Covid 19 ini, memaksa sebagian besar pengusaha melakukan PHK pekerjanya, sehingga banyak terjadi pengangguran. Kejadian ini bisa menjadi bahan pertimbangan/kajian untuk Pengusaha dan Serikat Pekerja, agar dapat duduk bersama dalam mencari titik temu untuk segera menuntaskan RUU Cipta Kerja bersama DPR dan Pemerintah,” tambah Santo.
    “RUU Cipta Kerja memiliki nilai positif yakni bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak. Sehingga pengangguran bisa ditekan dan berkurang,” jelas Santo.
    Selain itu, Santo juga menilai RUU Cipta Kerja dapat menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi bonus demografi yg di alami Indonesia. Menurutnya, bonus demografi ini bisa menjadi peluang atau ancaman.
    “Lebih dari 68% penduduk Indonesia berada di usia produktif. Kelompok usia produktif ini harus disiapkan lapangan pekerjaan agar bonus demografi tidak menjadi bencana demografi,’’ ujar Santo.(david)
    Editor : Amran