Anggota DPRD Hulu Sungai Selatan bersama pejabat Dinas Pertanian, tinjau lokasi persawahan yang tergenang.(foto : reyhan/klikkalsel)
KANDANGAN, Klikkalsel.com – Penyebab terajadinya genangan air yang berdampak lumpuhnya lahan pertanian di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan (HSS), akhirnya direspon oleh wakil rakyat di daerah tersebut.
Rombongan DPRD Hulu Sungai Selatan yang langsung dipimpin Ketua DPRD, Akhmad Fahmi, bersama Komisi II serta Dinas terkait, melihat langsung kondisi yang tengah dialami warga setempat.
Kepala Desa Tebing Tinggi Rizahumaini, mengungkapkan bahwa sawah warga terumata di RT.2 sudah tidak bisa digarap pertaniannya sejak lima tahun lalu, karena genangan airnya yang sangat tinggi.
Adanya perhatian dari DPRD Hulu Sungai Selatan kali ini, ia berharap bisa menyelesaikan permasalahan dan mencari penyelesaian, sehingga petani dapat kembali menggantungkan penghasilannya dilahan tersebut.
“Lahan yang tergenang seluas lebih dari 100 hektar, semoga ada solusi terbaik bagi warga kami,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian Hulu Sungai Selatan, Muhammad Noor, mengatakan dengan melihat kondisi yang ada, pihaknya akan segera menindaklanjuti keluhan warga khususnya para petani agar bisa kembali menggarap lahan persawahannya.
“Kami akan segera membentuk tim khusus dan melakukan survei guna mengetahui titik permasalahan yang terjadi, sehingga nanti bisa menentukan tindakan selanjutnya,” terangnya.
Sementara Ketua Komisi II DPRD Hulu Sungai Selatan, Kartoyo, menegaskan bahwa permasalahan yang tengah dihadapi warga Desa Tebing Tinggi kali ini harus segera diatasi, jika tidak maka akan berdampak pada menurunnya tingkat produksi padi dan ekonomi masyarakat setempat.
“Kita akan segera lakukan rapat di dewan, bahkan kalau perlu kita panggil beberapa pihak terkait termasuk perusahaan sawit yang diduga menjadi penyebabnya, agar kita tau kenapa sampai air sungai tidak mengalir lagi,” tegasnya.
Hingga kini lahan persawahan tersebut masih tidak bisa digarap karena tingginya genangan air, bahkan masyarakat setempat menduga hal tersebut dikarenakan adanya aktivitas bloking sungai di kawasan perkebunan sawit yang beraktivitas disekitar persawahan.(reyhan)