Mengenal Kapidaraan dan Cara Menyembuhkannya

Saniah sedang menyembuhkan anak yang kapidaraan dengan pengobatan tradsional. Pengobatan ini hanya bisa dilakukan oleh keturunan pendahulunya. (foto : david/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel– Anak itu terus saja menangis walau berada dipangkuan ibunya. Tangisannya melengking, badannya demam panas namun kaki, tangannya dan telinganya dingin.

Dihadapan anak kecil itu, duduk seorang wanita paruh baya. Usianya sekitar 60 tahun. Terlihat dari bibir wanita tua itu, sedang mengunyah sesuatu, sementara tangannya memarut kunyit atau yang dalam bahasa banjar dikenal dengan nama janar.

Parutan janar tadi ditampung pada sebuah mangkuk kecil yang kemudian dicampur dengan sedikit beras dan kapur sirih.
Sejurus kemudian, parapin (tungku kecil berisi arang) dinyalakan.

Setelah bara menyala, diatasnya ditaburkan dupa. Seketika harum dupa menyeruak ke ruangan kecil berukuran dua kali tiga meter.

Saniah sedang menyembuhkan anak yang kapidaraan dengan pengobatan tradisional. Pengobatan ini tergolong unik dan merupakan warisan dari pendahulunya. (foto : david/klikkalsel)

Setelah itu tangan si nenek kembali mencampur janar, beras dan kapur sirih dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih parang kecil yang sedari tadi tergeletak disampingnya.

Setelah bahan tercampur, janar diperas. Ajaib, mungkin itulah yang dapat diungkapkan. Perasan itu mengeluarkan air yang cukup banyak untuk ukuran sebongkah kecil janar.

“Iya ae nah, anak ikam ne kepidaraan (Iya, anak kamu memang kepidaraan),” ujar si nenek.

Sementara, ibu si anak mengangguk-angguk sambil berupaya menenangkan anak mereka yang terus saja menangis.

Parang kecil yang tadi diraihnya dengan tangan kiri, dirabung (diasapi) di atas parapin yang mengepulkan asap dupa. Harum, namun bernuansa magis.

Kemudian parang tadi diputarkan diatas kepala si anak yang diyakini kepidaraan tadi sembari mulut si nenek terus berkomat kamit.

Selanjutnya, ubun-ubun sang anak yang terus saja menangis sambil sesekali meronta itu, ditaburi beras  yang sudah berubah warna menjadi kuning, akibat tadi dicampur dengan parutan Janar.

Usai itu, dikening sang anak, tepatnya diatas kedua alis,Janar dicoretkan, yang kemudian dilanjutkan mencoret kedua telapak tangan dan kaki si anak.

Namum kali ini coretannya berbentuk tanda silang bukan berupa garis seperti dikening. Baras putih yang tadi ditaburkan ke bumbunan sang anak, diambilnya.

Kemudian sejumput Baras putih itu dibuang, dilemparkan ke halaman rumah. Sembari mulutnya tetap komat-kamit merapal mantera.

Maka berakhirlah prosesi bapidara, dan ajaibnya kadang tak butuh waktu lama untuk si anak sembuh seperti sedia kala. Orang tua yang bernama Saniah ini mengaku mendapatkan keahlian mamidarai ini dari ibunya yang dulu juga kerap kali diminta warga untuk memidarai.

“Arwah mama dulu yang malajari, sidin beamanat mun ada urang minta tulungi, wajib ditulung (Almarhum ibu yang dulu mengajarkan, beliau berpesan kalo ada orang minta tolong, harus ditolong),” cerita perempuan yang akrab dipanggil Nini Saniah ini.

Nini Saniah tidak pernah mematok harga untuk jasa pengobatannya. “Sapambari haja. Kada dibari kada papa jua (Sekedarnya saja, Tidak diupah tidak apa-apa juga). Aku ikhlas,” ucapnya tulus.

Saat ditanya tentang mantra yang dirapalkannya saat memidarai, dirinya mengatakan itu hanya doa dari ayat Al Quran.

“Itu doa dari surah-surah pendek haja, lain mantra (Itu doa dari Sura-surah pendek saja, bukan mantra),” ujarnya menjelaskan.

Menurutnya kepidaraan itu kemungkinan bisa disebabkan oleh gangguan makhluk halus yang menegur manusia yang berakibat kepidaraan.

Melihat peralatan saat mamidarai dan jalannya prosesi, sungguh tidak masuk akal bila olesan Janar mampu menurunkan panas tubuh dan perasaan tidak enak yang diderita.

Namun faktanya, itulah yang terjadi. Entah, apakah sugesti yang lebih berperan ataukah memang ada mistik disitu.

Bagi yang percaya, itu sebuah pengobatan. Bagi yang tidak percaya, mungkin hanyalah sebuah kepercayaan masa lalu yang tercecer hingga sekarang. Sebuah prosesi animisme yang mengalami transformasi agama.

Terlepas dari itu, kapidaraan, ma-midarai dan tukang pidara, mulai terkikis zaman dan terpinggirkan. Tersingkirkan seiring pergeseran nilai dan perubahan pola pikir yang terjadi di masyarakat.(david)

Editor : Amran