Banjarmasin

Guru Wildan Dituding Lakukan Kampanye Terselubung Hingga Diolok-olok

BANJARMASIN, klikkkalsel.com – Video pidato Guru Wildan atau KH Muhammad Wildan Salman mendukung calon gubernur Sahbirin Noor viral di jagat media sosial. Bersamaan dengan ini muncul tudingan dugaan kampanye terselubung.

Praktisi hukum, Imam Satria Jati membantah tudingan tersebut dan berharap Bawaslu harus mengklarifikasi secara cermat.

Imam mencermati dalam video itu, ulama kharismatik Kalsel yang berdomisili di Martapura, Kabupaten Banjar, Guru Wildan berpidato saat memberi pengajian internal kepada murid-muridnya dalam majelis tertutup Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran Darussalam Martapura.

“Guru Wildan berbicara kepada murid-murid beliau di internal pondok, artinya dalam majelis tertutup khusus para murid. Beliau juga tidak memaparkan visi dan misi paslon, juga tidak ada spanduk atau poster paslon di majelis, sehingga jelas tidak bisa disebut beliau telah melakukan kampanye terselubung,” ujar Imam Satria Jati yang juga Ketua KNPI Kota Banjarmasin, Senin (19/4/2021).

Baca juga : https://klikkalsel.com/tak-ada-riwayat-korupsi-guru-wildan-beri-dukungan-ke-paman-birin/

Menurutnya tudingan Guru Wildan berkampanye terselubung sulit untuk dibuktikan. Sebab itu, Imam mengimbau masyarakat jangan mudah terhasut opini yang menodai marwah ulama.

“Harus dilihat saat menyampaikan pernyataan mendukung Paman Birin, Guru Wildan bertindak sebagai apa? Sebab beliau sudah jelas bukan paslon, juga bukan tim kampanye, juga bukan relawan. Artinya sebagai subyek hukum, beliau sudah jelas tidak memenuhi unsur pelanggaran melakukan kampanye terselubung,” tegasnya.

Menurut Imam, video pernyataan Guru Wildan sebagai ulama kharismatik Kalsel, justru harus dilihat dari sisi sosial kemasyarakatan. Imam menegaskan, sangat wajar jika seorang Guru, Kiai, Ulama, Habaib, atau pemuka agama memberi nasihat, wejangan dan arahan kepada para muridnya.

Terlebih lagi, kata Iman, apa yang disampaikan Guru Wildan adalah wejangan dalam konteks kontestasi demokrasi karena pemimpin yang bakal terpilih akan sangat menentukan kemaslahatan masyarakat dan jalannya pemerintahan ke depan.

“Seorang Guru pastilah mumpuni secara ilmu dan adab, sehingga dijadikan suri tauladan dan panutan oleh para muridnya dan bahkan masyarakat luas. Jika Guru Wildan menyarankan murid-murid beliau untuk mendukung Paman Birin, tentu beliau memiliki pertimbangan tersendiri berdasarkan mata hati nurani beliau,” katanya.

Guru Wildan Jadi Olok-olokan di Grup Gubernur Hanyar

Bersamaan dengan beredarnya video Guru Wildan tersebut, muncuk olok-olokan terhadap ulama kharismatik asal Martapura itu hanya karena persoalan PSU di Grup Privat Facebook ‘Gubernur Hanyar Pilihan Masyarakat Kalsel’. Grup ini sendiri yang diadmini Denny Indrayana.

Seperti diketahui, pernyataan Guru Wildan lewat video telah diunggah di Grup ‘Gubernur Hanyar Pilihan Masyarakat Kalsel’ yang beranggotakan 28,6 ribu orang yang dimoderatori pendukung militan atau tim sukses Denny Indrayana. Bahkan akun resmi Denny Indrayana terdaftar sebagai salah satu admin, sebelum akhirnya dicopot setelah ramai pemberitaan tentang olok-olok terhadap Guru Wildan di grup tersebut.

“Tidak patut dan tidak elok Guru Wildan yang menjadi panutan masyarakat Banua dan bahkan luar Banua diolok-olok di Grup FB Gubernur Hanyar. Apalagi Bawaslu sudah turun tangan untuk mengklarifikasi video itu, maka seharusnya moderator atau admin grup memberi peringatan anggota agar tak berkomentar bernada mengolok,” ujar Imam meluapkan keprihatinannya.

Hal yang paling Imam sesalkan, cagub Denny Indrayana ternyata juga berada di dalam grup dan bahkan menjadi salah satu admin grup sebelum kini dihapus.

“Prof Denny kan profesor di bidang hukum tata negara, sehingga pastilah sangat paham proses di Bawaslu. Jadi sudah seharusnya Prof Denny justru menjadi orang pertama yang mengingatkan, memberi arahan, atau memberi tauladan anggota grup dan seluruh pendukungnya agar tak mengolok-olok seorang ulama kharismatik Banua seperti Guru Wildan,” sesal Imam.

Pada akhirnya Imam sebagai tokoh muda Banua berharap agar kedua paslon dan seluruh elite politik menjadikan PSU sebagai ajang pendidikan politik bagi masyarakat Kalsel.

“Jangan karena terlalu berambisi sehingga justru memberi contoh buruk bagi masyarakat,” pungkasnya. (rizqon)

Editor : Akhmad

To Top