BANJARMASIN, klikkalsel.com – Hampir sebagian besar masyarakat, baik anak-anak, remaja maupun dewasa pernah menikmati jajanan yang dijual ditepi jalan atau di tempat keramaian seperti pasar, lokasi wisata ataupun sekolah.
Jenis jajanan seperti pentol bakso, burger, sosis ataupun nugget adalah sebagai dari jajanan yang banyak di gandrungi. Tak jarang saat mereka mulai mencicipi, mereka ketagihan dan ingin terus membelinya.
Agar jajanan tersebut terasa lebih nikmat, para penjual biasanya akan menambahkan bumbu-bumbu tertentu seperti saus tomat ataupun bubuk penyedap rasa. Bahkan sebagian orang menjadikan bumbu tersebut sebagai suatu keharusan yang tak boleh dilupakan saat menikmati jajanan.
Padahal, di balik kenikmatannya, saus tomat dan bubuk penyedap rasa ternyata tersimpan bahaya jika dikonsumsi berlebihan.
Menurut Akademisi Kesehatan Masyarakat dari salah satu perguruan tinggi swasta Kalsel, Netty, SKM, M. kes, saat ditemui klikkalsel.com mengatakan, sebagian besar orang mungkin berpikir bahwa saus tomat dan bubuk penyedap rasa atau bahan tambahan pangan yang bukan dari bahan baku pangan dinilai tidak berbahaya untuk kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Hal itu karena sebagian besar masyarakat memahami bahwa saus tomat itu terbuat dari tomat asli yang didalamnya diketahui kaya akan vitamin A dan C, lycopene, serat, dan kandungan nutrisi lainnya yang baik bagi tubuh.
“Sayangnya, kandungan saus tomat dan tomat asli jauh berbeda. Terlalu banyak mengonsumsi saus tomat atau mengkonsumsinya untuk jangka panjang bisa membahayakan kesehatan,” kata Netty,SKM,M.kes, Jumat (8/1/2021).
Untuk itu ia meminta masyarakat agar ekstra waspada dan lebih memperhatikan kandungan dari saus tomat yang biasa mereka konsumsi.
Dijelaskannya bahwa pada umumnya, makanan kemasan memang mengandung natrium atau garam dan kandungannya pun tidak selalu sama.
“Ada yang rendah, ada yang tinggi. Saus tomat termasuk yang tinggi kandungan natriumnya,” ujarnya.
Tubuh memang membutuhkan garam, tetapi asupan garam berlebih justru akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti hipertensi, sakit ginjal, hingga jantung.
“Juga terdapat kandungan tidak sehat yang ada dalam saus tomat yaitu sirup jagung tinggi fruktosa,” jelasnya.
Sebagian besar saus tomat mengandung sirup jagung tinggi fruktosa yang bertanggung jawab atas tingginya risiko diabetes dan obesitas.
“Jika kebiasaan konsumsi saus tomat dibiarkan, bukan tidak mungkin di masa mendatang berisiko terserang berbagai penyakit lain yang lebih berbahaya,” imbuhnya.
Selain itu, saus tomat terkadang juga menggunakan pewarna berbahaya, bahan pewarna yang diperbolehkan oleh kementrian Kesehatan atau BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Karena pewarna makanan dan penyedap rasa itu adalah termasuk dalam bahan tambahan pangan yang diperbolehkan oleh pemerintah
“Ada aturanya boleh menggunakan bahan tambahan pangan itu diatur dalam peraturan menteri kesehatan Nomor 033 Tahun 2012 Tentang bahan tambahan pangan atau makanan,” ungkapnya.
Kemudian, masih Netty mengatakan hal itu juga diatur dalam Kepala BPOM Nomor 36 Tahun 2013 tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan tersebut.
“Jadi jika mengkonsumsi jajan tersebut yang langsung dicelupkan ke saus tomat dan taburkan penyedap secara langsung sebenarnya prinsipnya itu tidak boleh atau dianjurkan, karena dinilai penggunaan yang berlebihan, kecuali dimasukan dan di masak itu boleh saja” menurutnya.
Disamping itu, dijelaskannya lagi bahwa saus dan penyedap rasa tidak termasuk bahan mempertahankan ataupun meningkatkan nilai gizi oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk penggunaan yang berlebihan.
“Tidak termasuk bahan untuk mempertahankan gizi dan meningkatkan nilai gizi,” pungkasnya. (airlangga).





