Sampah Jadi Alat Musik, Festival di Teluk Kelayan Hidupkan Ruang Publik dan Kesadaran Lingkungan

Sampah Jadi Alat Musik, Festival di Teluk Kelayan Hidupkan Ruang Publik dan Kesadaran Lingkungan
Para peserta Festival Musik Sampah di RTH Teluk Kelayan, Banjarmasin

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Festival Musik Sampah membuat Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Kelayan semakin meriah ketika dentuman irama tak biasa.

Beragam alat musik berbahan barang bekas dimainkan para seniman dan mahasiswa, menghadirkan pertunjukan kreatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Festival yang digelar melalui kolaborasi Pemko Banjarmasin bersama Kementerian Kebudayaan dengan dukungan LPDP itu menjadi salah satu upaya menghadirkan edukasi pengelolaan sampah dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi dan pegiat seni lokal.

“Festival ini kolaboratif dengan Kementerian Kebudayaan. Ada dosen dan mahasiswa Unlam bidang kesenian yang bersama tim sudah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota,” ujar Ibnu Sabil, Sabtu (9/6/2026) sore.

Menurutnya, festival ini sengaja dirancang untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah yang selama ini identik dengan barang tak berguna. Melalui kreativitas seni, barang bekas justru dapat memiliki nilai baru yang lebih bermanfaat.

“Tujuan utamanya menyampaikan kepada masyarakat bahwa sampah itu bukan barang yang harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan kembali. Bahkan barang bekas bisa disulap menjadi alat musik,” tegasnya.

Baca Juga : Siswa SDN 1 Wawai Tewas Terlindas Truk Setelah Terjatuh dari Sepeda

Baca Juga : Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk

Tak hanya menjadi ruang edukasi lingkungan, festival tersebut juga dimanfaatkan sebagai momentum menghidupkan kembali kawasan RTH Teluk Kelayan agar lebih aktif sebagai ruang publik kreatif dan ramah masyarakat.

Selama ini, kawasan tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan seni maupun edukasi.

“Ini juga momentum untuk menghidupkan kembali Taman Teluk Kelayan yang selama ini masih belum maksimal,” bebernya.

“Harapannya festival musik sampah ini bisa memberi edukasi kepada anak-anak agar membuang sampah pada tempatnya dan memahami bahwa sampah bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat,” tambahnya.

Selain pertunjukan musik kreatif, festival itu juga menghadirkan edukasi pengolahan sampah, pameran karya daur ulang, hingga kolaborasi seni antara mahasiswa dan komunitas lokal.

“Konsep ini diharapkan mampu membangun kesadaran baru bahwa persoalan sampah tidak selalu harus dipandang sebagai masalah, melainkan juga peluang untuk melahirkan kreativitas dan nilai ekonomi baru di tengah masyarakat,” pungkasnya.(fachrul)

Editor: Amran