TABALONG, klikkalsel.com – Berangkat dari keresahan melihat banyak pasien diabetes melitus (DM) yang tidak rutin minum obat, seorang dokter muda di UPT Puskesmas Muara Harus menciptakan inovasi sederhana namun berdampak besar bagi masyarakat.
Ia adalah dr. Yuna Rezkia Kartika (28), dokter umum yang bertugas sejak April 2025 di Puskesmas Muara Harus, Kabupaten Tabalong. Ia menggagas inovasi bernama SMART-DM atau Sistem Monitoring Aktif, Rutin, dan Terpadu Diabetes Melitus.
Inovasi tersebut lahir dari pengalamannya sehari-hari menangani pasien DM di wilayah pelayanan Puskesmas Muara Harus, yang merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Kecamatan Muara Harus dan melayani tujuh desa di sekitarnya.
“Seringkali saya menjumpai pasien diabetes melitus yang kadar gulanya tidak terkontrol karena tidak rutin minum obat,” ujar dr. Yuna, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, setelah dilakukan analisis dan diskusi bersama pasien maupun tenaga kesehatan lain, ditemukan sejumlah penyebab utama rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
“Penyuluhan medis sebelumnya masih belum optimal karena medianya kurang menarik, belum ada sistem monitoring kepatuhan, serta keterbatasan waktu tenaga kesehatan untuk berinteraksi secara langsung dan berkelanjutan dengan pasien,” jelasnya.
Baca Juga : Tanah Kambatang Lima Segera Jadi DOB, DPRD Kalsel Beri Persetujuan
Baca Juga : Polisi Ungkap Aksi Viral Konvoi Sajam di Banjarmasin, Delapan Remaja Diamankan
Dari kondisi tersebut, lahirlah SMART-DM yang dijalankan melalui beberapa tahapan, mulai dari pembuatan video edukasi kreatif dan lembar balik penyuluhan, kartu pengingat berobat sederhana yang dibawa pulang pasien, hingga penyuluhan terpadu di poli umum, posyandu, dan layanan home care.
Yang menarik, pasien juga diberikan sistem reward berupa stempel bergambar senyum pada kartu pengingat apabila rutin minum obat dan hasil gula darahnya menunjukkan perbaikan.
Selain itu, pihak puskesmas juga membentuk grup WhatsApp khusus pemantauan pasien diabetes yang melibatkan pasien, keluarga, dokter, perawat hingga kepala puskesmas.
Meski sederhana, penggunaan kartu pengingat justru menjadi salah satu kunci keberhasilan inovasi tersebut. Hal itu disesuaikan dengan kondisi mayoritas pasien diabetes di wilayah tersebut yang merupakan lansia dan tidak memiliki telepon genggam.
“Karena sebagian besar pasien diabetes di sini adalah orang tua, bahkan ada yang tidak punya handphone. Jadi pendekatan paling efektif adalah menggunakan kartu sederhana yang bisa mereka bawa setiap kontrol,” katanya.
Tak hanya itu, faktor geografis juga menjadi tantangan tersendiri. Jarak Puskesmas Muara Harus dari pusat kota sekitar 15 kilometer dan menjadi fasilitas kesehatan terdekat bagi sejumlah desa yang masuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Namun hasil dari inovasi tersebut mulai terlihat. Dalam waktu kurang dari satu tahun pelaksanaan, tingkat kepatuhan pasien DM untuk kontrol dan minum obat meningkat hingga 40 sampai 50 persen.
“Dampak utamanya adalah meningkatnya kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus. Secara langsung ini membantu mengendalikan kadar gula darah dan menurunkan risiko komplikasi seperti gangguan jantung, ginjal, mata, hingga luka diabetik,” ungkap dr. Yuna.
Ke depan, ia berharap SMART-DM dapat membentuk budaya patuh berobat pada pasien penyakit kronis, khususnya diabetes melitus.
“Saya berharap pasien bisa lebih disiplin menjaga kesehatannya, komplikasi menurun, dan kualitas hidup mereka meningkat. Saya juga berharap keluarga ikut berperan aktif mengingatkan pasien untuk rutin berobat,” tuturnya.
Meski demikian, dr. Yuna mengaku masih ingin terus mengembangkan sistem SMART-DM.
“Tujuannya agar lebih optimal sebelum nantinya diadaptasi untuk pemantauan penyakit kronis lainnya,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





