Penelpon Gaib Beri Minyak Rindu Menangis

ilustrasi penelpon menakutkan. (azka/klikkalsel)

DALAM kehidupan ada hal-hal yang tak bisa diterima logika, tetapi terkadang dianggap hanya kebetulan meski tak bisa dijelaskan dengan logika dan akal.

Seperti kejadian aneh tapi nyata yang dialami Anang (bukan nama sebenarnya), seorang penjaga atau tepatnya wakar salah satu bangunan kantor tak terpakai di kawasan Jalan DI Panjaitan Banjarmasin.

Walau tak terpakai namun di bangunan tersebut masih ada sejumlah peralatan kantor yang ditinggalkan, mulai dari meja, lemari, kursi, telpon, dan TV. Anang pun memulai kerja dari sore jam 18.00 Wita hingga pagi.

Kepada klikkalsel.com, Anang menceritakan kejadian tersebut terjadi Januari 2016 silam. Mulainya Anang diajak temannya untuk menemani menjaga sebuah bangunan bekas salah satu kantor perusahaan swasta. Apalagi pekerjaannya ia angkap ringan, karena hanya menjaga bekas kantor swasta yang tak memiliki barang-barang beharga karena sudah pindah keluar kota.

Nah, awal bekerja menjaga di bangunan beton tingkat dua tersebut, usai adzan Maghrib Anang langsung mengontrol peralatan kantor di lantai bawah hingga atas. Selepas itu, ia kemudian berjaga di lantai bawah.

Baru saja duduk, tiba-tiba terdengar suara dering telpon di atas meja kantor yang terletak di bagian dalam lantai bawah. Anang pun tak menghiraukan, karena orang baru ia pun enggan mengangkat telpon tersebut. Jam 02.00 Wita dinihari lagi-lagi telpon itu berdering dan tetap tak digubris Anang.

Begitu pula di malam kedua, Anang berjaga. Telpon di atas meja berbunyi sebanyak tiga kali namun diacuhkan kembali oleh Anang.

Kemudian Anang yang penasaran lalu mendatangi meja yang terletak telpon tersebut. Kalau menelpon lagi, biar langsung diangkat, siapa tahu bos atau temannya yang menelpon.

Rupanya ditunggu-tunggu telpon tak juga berbunyi. Namun anehnya saat Anang tanpa sengaja ia melihat ternyata kabel telpon tersebut tak tersambung alias sudah lama diputus.

Tengah malam berikutnya kembali telpon berbunyi. Namun Anang yang mengetahui kabelnya tak nyambung, tak berani menerima telpon tersebut meski berkali-kali berdering.

Besoknya ketika masuk kerja dan ingin ganti shift. Anang berpapasan dengan temannya, kemudian diceritakan soal telpon yang berbunyi. Temannya justru menanggapi dingin dan hanya melempar senyum.

Sepulang temannya, Anang pun masuk dan berjaga. Usai waktu Maghrib, lagi-lagi telpon berbunyi, tapi tak dihiraukan Anang.

Sampai akhirnya, ketika tepat tengah kembali telpon berbunyi. Anang pun memberanikan diri mengangkatnya.

Dengan spontan Anang pun bertanya siapa yang menelpon. Tapi, alangkah terkejutnya Anang saat mendengar suara pria yang serak berat dan menakutkan dari telpon tersebut dan langsung menyebut namanya. Terlebih kaget bukan kepalang ia baru menyadari kalau sambungan telpon yang ia terima kabelnya sudah putus.

Dalam percakapan telpon tersebut, rupanya si penelpon gaib memerintahkan Anang mengambil sebuah botol kecil yang tergantung di depan pintu kantor.

Namun untuk mengambil botol tersebut ada syarat, yakni Anang diminta ‘merabun’ membakar kemenyan saban malam Jum’at.

Anang mengacuhkan perintah tersebut, namun sebaliknnya telpon terus berbunyi di waktu yang sama ketika habis Maghrib dan tengah malam hingga berlangsung selama satu minggu.

Mendapat teror telpon yang berbunyi setiap. Anang mulai berpikir untuk berhenti kerja, tapi karena sayang dengan pekerjaan, akhirnya Anang memutuskan untuk merawat botol tersebut.

Anang pun begegas ke luar dari bangunan itu kemudian membeli dupa raja di Pasar Lama, tak jauh dari tempat jaganya itu.

Setibanya di tempat jaga, Anang pun langsung lakukan ritual bakar dupa (merabun) sambil berjalan menuju pintu kantor. Rupanya benar, setelah diatas angin-angin atas pintu kantor depan itu ada botol kecil, seperti yang dikatakan si penelpon misterius. Setelah dicek Anang, dalam botol kecil itu berisi minyak warna hitam.

Tak lama setelah itu, usai dupa terbakar habis. Herannya lagi, tiba-tiba telpon berbunyi. Kemudian diangkat Anang.

Dan tak masuk akalnya lagi, saat gagang telpon diletakan ke kuping Anang, si penelpon dengan suara menyeramkan itu malah tertawa. Lalu berkata “Dia milikmu. Kau mau apa saja, bisa kau gunakan.”

Anang lantas bertanya dengan suara yang ada ditelpon, minyak apa gerangan ini, dan apa fungsinya maupun kegunaannya? “Itu namanya minyak Rindu Menangis. Jika kau berurusan akan gampang terlebih jika digunakan sebagai pelet kepada perempuan. Dan tak ada yang mampu menangkalnnya,” kata si penelpon gaib singkat dan telpon pun langsung putus.

Keesokan harinya, Anang pun menguji khasiat minyak Rindu Menangis, apakah benar seperti yang dikatakan si penelpon gaib itu.

Anang membawa botol tersebut dalam kantongnya. Dan memang benar pernah dicoba oleh Anang ternyata berhasil dalam berbagai urusan.

Lalu Anang pun hampir tiap hari membawa botol tersebut, jika ada urusan, sebab orang yang berususan dengannya akan mudah dan lancar. Seandainya dibohongi pun tetap percaya. Tapi Anang enggan mencoba, apalagi dipakai untuk memelet perempuan.

Belakangan permasalahan muncul, si penelpon gaib tersebut melalui telpon tiap malam minta syarat sesaji yang disediakan ditambah, yang awalnnya kemenyan dupa menjadi bertambah dengan berbagai syarat tambahan seperti bunga, ketan hingga darah ayam.

Berjalan dua tahun, Anang pun memutuskan untuk tak memakai minyak tersebut dan mengembalikan botol ke tempat awal ia dapat, yakni di atas pintu depan kantornya.

Baru saja meletekkan botol itu. Telpon pun berbunyi, dan sejak botol dikembalikan kejadian telpon berbunyi hampir setiap malam. Hingga kemudian Anang bermimpi bertemu dengan sosok yang menakutkan, seorang pria tinggi besar mengenakan pakaian hitam dengan taring panjang meliuk seperti babi, dan rambut menyambung dengan jenggot dan kumisnya yang panjang tak teratur, serta perut buncit ditambang matanya bulat tajam.

Dalam mimpin itu pria menakutkan itu mengancam Anang agar tetap merawat botol berisi minyak Rindu Menangis itu.

Tapi Anang terus menolak dan setiap malam pula Anang dalam mimpinya ditemui makhluk menyeramkan tersebut.

Akhirnya Anang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut.

 

Penulis : Azka

Editor : Akhmad