Pengalaman Ritual Pesugihan Berjualan Sate Burung Hantu

ilustrasi ritual pesugihan berjualan sate burung hantu.

HAMPIR setiap orang ingin menjadi kaya, apalagi dengan cara instan. Sebab, keperluan hidup setiap hari kian meningkat. Dan tak jarang orang melakukan jalan pintas untuk menjadi kaya tanpa susah payah.

Seperti melakukan hal-hal yang melanggar hukum seperti mencuri, hingga melakukan ritual pesugihan.

Hal tersebut pernah dilakukan sebut saja Anang (bukan nama sebenarnya), warga Sungai Andai, Banjarmasin Utara.

Pikiran yang sempit, sehingga ia nekat melakukan ritual pesugihan. Dari sekian cara pesugihan, Anang memilih berjualan Sate Burung Hantu untuk dijual kepada mahluk gaib.

Konon katanya sate Burung Hantu paling disukai mahluk gaib, tak peduli berapa harga satu tusuk satenya mahluk gaib tersebut akan membayarnya.

Mau tau ceritanya, begini kisah pengalaman berjualan sate burung hantu untuk ritual pesugihan yang dilakuan Anang, yang diceritakannya kepada klikkalsel.com

Kejadian mistis ini terjadi di 2012 silam, bermula saat Anang termasuk dalam pengerempengan atau pengurangan karyawan di salah satu perusahaannya alias terkena PHK. Sementara pesangon yang diberikan hanya mampu bertahan 3 bulan saja.

Berbagai usaha Anang lakukan untuk bisa menyambung kehidupannya pasca berhenti dari pekerjaannya. Ia pun rela melakukan pekerjaan apapun, kecuali melanggar hukum untuk mendapatkan uang.

Sampai-sampai datang seorang temannya yang memiliki kondisi ekonomi serupa membawa cerita cepat menjadi kaya dengan mengelar ritual pesugihan berjualan sate burung hantu. Temannya itu lantas mengajak Anang untuk melakukan ritual tersebut.

Tanpa babibu, Anang dan temannya itu kemudian mendatangi orang yang pernah berhasil melakukan ritual pesugihan tersebut di kawasan Liang Anggang, Banjarbaru.

Gayung bersambut, rupanya orang yang dimaksud dengan lancar menceritakan segala hal dan syarat yang dipakai untuk mempraktekan ritual jualan sate burung hantu. Salah satunya harus berjualan di tempat yang sangat sepi dan gelap, serta angker atau ada penunggunya.

Setelah Anang dan temanya pulang dan malam harinya langsung melakukan ritual tersebut yakni berdagang sate Burung Hantu.

Sebelum itu, Anang dan temannya mampir dulu di kawasan Ujung Murung sebelum ada siring, untuk membeli burung disitulah Anang dan temannya membeli burung Hantu tersebut. Serta membeli segala sesaji dan syarat yang diperlukan.

Sempat ragu apa yang dikerjakan, namun ia tepis sebab tuntutan dan keperluan hidup yang sangat mendesak.

Jam 10 malam Anang dan temannya berangkat ke lokasi yang telah ditentukan, yakni kawasan Liang Anggang. Sambil membawa barang ritual yang akan dilakukan, seperti Burung Hantu, Dupa Raja, Ketan Hitam yang sudah masak, Bunga 7 rupa, dan rokok.

Tepat jam 12 malam ketika Anang dan temannya sudah berada di lokasi yang sepi dan gelap. Ia segera memotong leher Burung Hantu tersebut hingga putus terus dipotongnya lagi menjadi bagian kecil tanpa harus dibasuh dengan air, jantung, hati burung tersebut dipisahkan kemudian dijadikan sate bersama daging burung hantu.

Setelah jadi sate, Anang kemudian membakarnya sambil menawarkan, “Sate.. sate.. sate burung hantu, sate burung hantu..hati dan jantungnnya juga ada siapa mau beli.”  Begitu kata Anang bak seorang pedagang di tempat yang gelap dan tak satupun manusia ada di kawasan tersebut.

Satu jam menawarkan sate, tiba-tiba sesosok tubuh besar penuh bulu berdiri di hadapan Anang dan temannya memandang sate yang dibakar.

Karuan saja, Anang menjadi kaku dengan terbata bata menawarkan dagangan burung hantunya, namun sosok gaib tersebut diam seribu bahasa.

Hampir 5 menit makhluk tersebut di hadapannya, tapi tak ingin membeli sate burung hantu jualan Anang. Setelah itu sosok tersebut menghilang dan tak ada transaksi yang seperti Anang inginkan. Hingga menjelang subuh Anang dan temannya bergegas pulang, ritual pesugihan jualan sate burung hantu di malam pertama pun gagal.

Kejadian tersebut membuat Anang dan temannya yakin bahwa dagangan sate burung hantu tersebut akan membawa hasil. Malam besoknya Anang dan temannya itu kembali melakukan ritual di kawasan yang sama, namun tak ada peristiwa ghaib lagi.

Lantaran dua malam belum berhasil rasa penasaran membuat Anang mencoba di berbagai tempat. Namun lagi-lagi tetap gagal.

Sampai akhirnya Anang dan temannya mendengar  lokasi yang banyak penghuni dan disebut-sebut sebagai kerajaan dedemit. Namun di lokasi ini, menjadi yang sangat dikenang Anang, karena hampir merenggut nyawanya, yakni kawasan Tambang Ulang, Tanah Laut.

Di lokasi itu, Anang dan temannya sudah punya gelagat mistis. Sebab, lokasi yang berada 4 Kilometer dari salah satu desa di kawasan Tambang Ulang itu masih sangat sepi dan hanya ditumbuhi pohon besar.

Baru saja memulai ritual berjualan burung Hantu, Anang dan temannya silih berganti didatangi puluhan mahluk gaib.

Baca Ini : Penelpon Gaib Beri Minyak Rindu Menangis

Tiba-tiba muncul sesosok makhluk berbadan besar berbulu dan bertanduk dengan sorot mata tajam. Anang dan temannya kemudian menawarkan sate burung hantunya. Akan tetapi makhluk menyeramkan itu berpaling dan

bertaring panjang, serta ada yang memiliki bau yang sangat menyengat dan bermacam macam rupa wajah yang menyeramkan justru meminta Anang dan temannya untuk pergi, kemudian berpaling pergi.

Anang dan temannya tak menghiraukan, mereka berdua makin asik mengipas sete burung hantu, agar aroma sate tersebut tercium makhluk lainnya.

Di tengah itu, sesosok wanita yang sangat menyeramkan menampakan diri. Mukanya pucat pasi dengan pakaian serba hitam rambut panjang hingga lutut dan taring panjang.

Anang dan temannya sedikit bergidik, tapi karena ingin kaya mereka tetap tak beranjak. Bahkan Anang dan temannya kembali menawarkan sate burung hantu, satenya…satenya…

Si perempuan menakutkan itu dengan cepat mendatangi Anang dan temannya, lalu mendekat ke tempat bakaran sate dan mencium aroma asap sate, si perempuan langsung menatap tajam Anang dan temannya. Lalu menghilang.

Setelah itu rupanya berbagai dedemit berdatangan dari yang tanpa kepala, berbadan besar, berkuku panjang dan lainnya.

Pun begitu Anang tidak takut apalagi ambil langkah seribu didatangi berbagai makhluk menyeramkan tersebut. Anang terus saja menjajakan sate burung hantunya, dan berharap para mahluk dedemit tersebut akan membeli sate miliknya.

Namun kenyataannya para makhluk tersebut malah menyerang Anang dan memporak porandakan sesaji jualan sate burung hantu tersebut.

Bahkan sampai-sampai Anang diseret makhluk berbadan besar berbulu dan bertanduk dengan sorot mata tajam yang muncul pertama kali.

Beruntung suara Adzan terdengar dan sejumlah makhluk tersebut hilang dengan begitu saja.

Mendapat pengalaman menakutkan itu, Anang pun jera dan tidak lagi mencoba pesugihan berjualan sate burung hantu.

 

Penulis : Azka

Editor : Akhmad