HST  

Masih Trauma dan Waswas Musibah Banjir, Warga HST Kembali Dihantui Bencana Pergerakan Tanah

Desa Alat, Kecamatan Hantakan, HST usai dilanda banjir bandang 14 Januari 2021 silam. (foto : dayat/klikkalsel.com)

BARABAI, klikkalsel.com – Di tengah musibah banjir yang masih mengancam, warga Hulu Sungai Tengah (HST) kini dihantui dengan prakiraan gerakan tanah yang berpotensi terjadi longsor.

Rilis yang dikeluarkan Setdaprov Kalimantan Selatan (Kalsel), ada empat titik rawan di kabupaten ini, yang diperkirakan terjadi gerakan tanah, yakni Kecamatan Batang Alai Timur, Batu Benawa, Hantakan dan Haruyan.

Secara topografi, keempat kecamatan itu berada pada kawasan Pegunungan Meratus dan masuk dalam kategori menengah. Pada zona tersebut dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau lereng mengalami gangguan.

Berkaca itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST Budi Haryanto menyatakan, pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bencana.

“Kita teman-teman TRC BPBD jaga 1×24 jam terbagi dalam 2 shift guna memantau kondisi baik lewat Repeater Orari dan medsos,,” katanya, Sabtu (15/1/2022).

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan berkoordinasi, dengan aparat kecamatan, desa serta relawan apabila terjadi peningkatan debit air di sungai ataupun ada curah hujan.

“Kalau sudah begitu, agar bersama-sama menginformasikan kepada warga di sekitar daerah rawan bencana,” katanya.

Ia juga mengimbau, masyarakat tetap waspada dan jangan panik menghadapi kondisi yang ada, serta agar tetap berhati-hati apabila terjadi hujan kembali.

Sementara itu, Rahmi warga penyintas banjir di Desa Alat, Kecamatan Hantakan HST masih trauma, jika mengingat banjir yang pernah melanda pemukimannya.

Baca Juga : 13.898 Jiwa di 3 Kabupaten Terdampak Banjir Awal Tahun

Baca Juga : Wakil Ketua Dewan Ini Prihatin Insiden Pedagang Tewas Dijatuhi Tembok Parkir

Ia pun mengisahkan pengalamannya, saat bersama keluarga dan para warga terjebak banjir bandang.

“Waktu banjir bandang itu, antara hidup dan mati. Tak sanggup berenang melewati terjangan air yang begitu deras. Sehingga, saya dan keluarga bertahan selama berjam-jam pada pegangan rumah sebelum akhirnya deretan rumah yang di bantaran sungai itu roboh tersapu banjir,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menyatakan, masih sangat was-was ketika terjadi hujan.

“Selama setahun ini, bila hujan begadang untuk berjaga-jaga. Sekalian juga rutin mengontrol debit air di sungai untuk menginformasikan kepada yang lainnya, sebagai antisipasi suatu hal yang tak diinginkan terjadi,” tambahnya

Diketahui, kabupaten ini pernah dilanda banjir besar pada pertengahan Januari 2021 silam. Musibah itu, mengakibatkan 29.062 kepala keluarga dengan 88.321 jiwa terdampak dan 10 korban jiwa, serta menghancurkan berbagai macam fasilitas umum setempat.

Kemudian pada November 2021, kabupaten berjuluk Bumi Murakata ini, empat kali dilanda banjir. Luasan banjir mencapai 10 kecamatan dan 51 desa dengan 6.059 kepala keluarga atau total 17.360 jiwa terdampak, serta fasilitas umum mengalami banyak kerusakan.

Selanjutnya di awal 2022, lagi-lagi HST kembali diterjang banjir dengan cakupan 3 kecamatan, ada 438 kepala keluarga dan 1.278 jiwa terdampak.

Kalau dihitung, sejak 2021 hingga Januari 2022 sudah enam kali warga Bumi Murakata merasakan banjir. Serta menjadi catatan bencana terparah. (dayat)

Editor : Akhmad