BARABAI, klikkalsel.com – Semenjak berpisah dengan sang suami dua tahun silam, Qamariah (29) kini harus menghidupi anaknya sendirian.
Ibu muda tangguh ini rela berjuang seorang diri berjualan jamu, demi menyambung hidup dan biaya berobat anaknya yang sakit parah.
Single parent ini memiliki anak berusia 3,5 tahun yang bernama Adistya Fadila atau kerap dipanggilnya Adis. Semenjak bayi, Adis sudah divonis memiliki jantung bocor, sehingga terasa berbeda dari anak lain pada umumnya.
“Sempat berulang kali dirawat dan sebelumnya harus menggunakan selang untuk makan, namun belum pernah menjalani operasi,” ungkapnya, Sabtu (12/3/2022) di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Qamariah menuturkan, saat memeluk Adis, detak jantungnya sangat terasa beda sekali dengan orang normal. Rasa takut kehilangan anak semata wayangnya itupun terus menghantui dirinya setiap saat.
“Saya selalu berpikir, sampai kapan Allah mau menitipkan Adis pada saya. Saya takut tiba-tiba detak jantung Adis berhenti,” ucapnya dengan penuh kekhawatiran.
Ia menceritakan, di usia Adis 8 bulan mengalami batuk-batuk beruntun selama beberapa hari. Lantas langsung dibawa ke dokter dan dinyatakan terkena Pneumonia. Dari situlah dilakukan pemeriksaan lanjutan dan ternyata divonis jantung bocor juga.
“Dunia serasa runtuh mengetahui itu. Adis langsung dipasang alat pernafasan dan selang. Saat itu saya tidak bisa tidur selama 2 hari. Tiap jam saya selalu ngecek Adis, takut sewaktu-waktu dia udah tidak ada,” ujarnya.
Baca Juga : Tabalong akan Terapkan Digitalisasi Desa, Kadis PMD : Awal Yang Bagus Untuk Kemajuan Desa di Tabalong
Baca Juga : Diduga Curi Besi, Pria Barabai ini Bonyok Diamuk Masa
Tak sampai disitu, Qamariah membeberkan hal yang paling sedih diingatnya sewaktu Adis harus pakai selang untuk makan. Badannya pun sampai kurus, diberi susu dimuntahkan, hingga waktu lepas selang juga hampir frustasi karena harus mengajari makan.
“Adis lapar, tapi makanan nggak bisa masuk ke mulut. Bahkan satu butir nasi aja, dia langsung muntah. Disitu saya sedih sekali mau nangis rasanya. Mana sewaktu itu, suami juga tidak ikut berperan membantu saya,” ceritanya.
Kemudian, sejak berpisah dengan suami pada 2020 silam, Qamariah mulai membuat jamu dan dijual untuk menghidupi dirinya dan anaknya sembari mengumpulkan biaya berobat.
Walaupun, biaya berobat selama ini ditanggung oleh BPJS, akan tetapi biaya hidupnya selama pengobatan itu dipikirkannya sendiri melalui berjualan jamu.
Terlebih lagi, saat ini Adis masih rutin melakukan perawatan di RS Kandangan dan dalam waktu dekat juga bakal dirujuk ke Banjarmasin, serta berpotensi melangsungkan Kateterisasi yang adanya di Jakarta.
Lika liku berdagang pun dialaminya. Jamu yang diberi namanya Rahayu Herbal itu dipasarkan melalui media Whatsapp dengan konsep pengantaran.
Biasanya, ia mengambil orderan dari konsumen yang jaraknya dekat tempat tinggalnya di seputaran Kota Barabai. Tak jarang, ia juga terpaksa melakukan pengiriman ke luar kabupaten saat orderan sepi.
“Pernah dapet orderan yang saya kira perempuan, karena gambarnya perempuan. Ternyata, waktu saya datangi laki-laki. COD di tempat rame tapi dia belum bayar dan minta saya buat ikuti dia yang mengarah ke tempat sepi. Di tengah jalan saya ngerasa asing sama tempatnya, langsung saya putar balik dengan mengikhlaskan jamunya nggak dibayar. Daripada saya kenapa-napa,” bebernya.
Menyiapkan jamu itu pun menjadi rutinitasnya, yang semenjak pagi Qomariah sudah mulai menyiapkan bahan-bahan dan membuat jamu. Disambung pada siang harinya mulai dikemas menggunakan botol plastik ukuran 250 ml. Hingga, jamu-jamu pesanan itu baru mulai dikirim sekitar pukul 16.30 wita.
“Walaupun kadang untuk makan sehari-hari saja tak cukup. Saya berharap bisa nantinya mendampingi Adis sampai bisa operasi dan bisa sembuh. Impian saya ingin sekali melihat Adis tumbuh sehat, panjang umur, bisa main, dan sekolah seperti anak-anak lain. Semoga ada orang baik yang mau bantu Adis, buat kesembuhannya,” imbuhnya dengan penuh harap. (dayat)
Editor : Herry Murdi





