BANJARMASIN, klikkalsel.com – Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) serius di Kalimantan Selatan (Kalsel). Persoalannya bukan sekadar soal ada atau tidaknya bangunan sekolah, tetapi juga terbentur ekonomi keluarga, akses geografis hingga minimnya transportasi di wilayah pesisir dan pelosok.
Kondisi tersebut menjadi sorotan Komisi IV DPRD Kalsel saat menggelar rapat kerja bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Senin (10/8/2026).
Komisi IV menilai penanganan ATS harus dilakukan lebih agresif dan terukur. Pendataan anak yang tidak bersekolah harus benar-benar akurat agar tidak ada anak yang luput dari perhatian pemerintah.
Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, Jihan Hanifha, menegaskan, persoalan ATS tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun sarana pendidikan.
Menurutnya, pemerintah juga harus menyentuh akar persoalan, terutama kondisi ekonomi keluarga dan rendahnya motivasi sebagian orang tua untuk memastikan anak tetap mengenyam pendidikan.
Baca Juga : Peringati Hari Anak Nasional, Wali Kota Yamin Ajak Semua Pihak Bersatu Siapkan Generasi Emas
“Penanganan Anak Tidak Sekolah membutuhkan perhatian khusus dan kerja lintas sektor. Kita tidak bisa hanya membangun sekolah, tetapi harus memastikan anak-anak tersebut benar-benar kembali mendapatkan hak pendidikannya,” tegas Jihan.
Ia memastikan, Komisi IV DPRD Kalsel siap mengawal program penuntasan ATS, baik melalui fungsi pengawasan maupun dukungan anggaran.
“Kita siap mendukung penuh program Disdikbud Kalsel agar persoalan Anak Tidak Sekolah ini dapat dituntaskan dan akses pendidikan benar-benar merata sampai ke pelosok,” ujarnya.
Tak hanya ATS, persoalan pemerataan tenaga pendidik juga ikut mencuat. Sejumlah sekolah di wilayah pesisir dan pelosok masih menghadapi keterbatasan guru, termasuk guru agama non-Islam.
Jihan meminta, persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. Salah satu opsi yang bisa dilakukan yakni menghadirkan guru tamu hingga menggandeng yayasan keagamaan di daerah.
“Kita tidak hanya melihat tantangannya, tetapi berfokus pada solusi konkret. Kita coba dengan skema guru tamu hingga opsi kolaborasi dengan yayasan keagamaan daerah,” pungkas Jihan.(azka)
Editor : Akhmad





