Jumat, Januari 21, 2022

Warga HST Dihantui Banjir, Wakil Rakyat : Keseriusan Pemda Menyelesaikan Masalah Ini Diuji

BARABAI, klikkalsel.com – Musibah banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) masih kerap menghantui dan menimbulkan rasa kekhawatiran bagi masyarakat.

Pasalnya, belum sampai satu bulan alias dalam periode 15 November hingga 27 November 2021, warga Bumi Murakata sudah tiga kali bolak balik dilanda banjir.

Bahkan, menurut pernyataan Wati warga Jalan Hevea Kelurahan Barabai Darat yang merupakan salah satu lokasi terparah banjir “belum karing lancat, belancat pulang,” bebernya, yang mengisyaratkan sangat dilematis menghadapi bencana banjir tersebut.

Resah akan hal itu, Yajid Fahmi selaku wakil rakyat mendesak, keseriusan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam mengatasi permasalahan banjir ini diuji. Terlebih lagi, pemulihan pasca banjir masih belum maksimal dilakukan.

“Jangan sampai masyarakat berasumsi adanya pembiaran terhadap masalah ini. Untuk itu, saya mendesak agar pemerintah lebih giat dan lebih serius lagi menyelesaikan masalah banjir,” tutur Yajid Fahmi, Anggota DPRD Kabupaten HST, Sabtu (27/11/2021) di Barabai.

Menurutnya, pada APBD 2022 menjadi keharusan untuk lebih serius menangani permasalahan banjir, termasuk fokus untuk mengatasi permasalahan pencegahan dari hulu sampai hilirnya.

“Melihat kondisi hari ini dilanda hujan dua atau tiga jam saja Hulu Sungai Tengah sudah kebanjiran, berarti ada yang salah terhadap tatakelola pengairan kita,” ujarnya.

Baca Juga : Debit Air Meluap, HST Kembali Alami Banjir Yang Ketiga Dalam Satu Bulan

Ia melanjutkan, penting pula untuk menormalisasi sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten HST, agar masyarakat jangan sampai selalu dihantui dengan persoalan banjir.

Selain itu, para Petani juga was-was untuk menggarap lahan, para pedagang dihantui akan musibah di awal tahun terjadi lagi. Jadi, penting hadirnya Pemerintah untuk berupaya menghilangkan trauma-trauma akan hal itu.

Selain normalisasi sungai, mitigasi awal juga sangat penting di bagian hulu, agar bila hujan deras melanda, pemerintah paling tidak punya gambaran seberapa ketinggian air akan naik secara terukur.

“Selama ini justru banyak bergantung pada pihak swasta atau relawan, alangkah baiknya Pemerintah membentuk pemuda-pemuda relawan banjir, membangun desa-desa siaga banjir di wilayah bantaran sungai yang utama,” beber Yazid.

Kemudian, penanganan serius akan kerusakan lingkungan dan ilegal loging yang mengakibatkan bukaan lahan yang tak terkendali juga sangat penting ditangani. Sebab, ini akan berkaitan dengan tindakan hukum dan sangat diperlukan keseriusan Pemerintah untuk menyelesaikan.

“Ini, kalau tidak ditangani serius akan menjadi ancaman bencana alam besar, yang tentunya berdampak kerugian pada masyarakat termasuk anggaran pemerintah sendiri. Koordinasi dengan Polhut serta aparat penegakan hukum supaya pemerintah jangan sampai terkesan tidak berdaya dengan praktek perusakan hutan ini,” imbuhnya.

Terkait ilegak loging, Ustadz Supriadi, Anggota DPRD HST lainnya, juga mengharapkan, agar dengan segera kasus ilegal loging itu dituntaskan. Terlebih lagi, dibalik kasus ilegal loging tersebut, diduga kuat ada oknum-oknum dibelakangnya.

“Pemda harus segera bertindak tegas melalui aparat terkait menuntaskan kasus ini. Agar tidak semakin banyak lagi terjadi yang serupa. Adanya penebangan pohon ilegal loging itu turut mempengaruhi di daerah hulu yang merupakan kawasan Pegunungan Meratus,” tambahnya.

Sementara itu, hingga kini Sabtu (27/11/2021) sore, kondisi Kota Barabai sebagian ruas jalan dan pemukiman masih digenangi air. Beragam aktivitas masyarakat turut terhambat, dan sektor pasar pun banyak yang tutup karena sangat sepi.

Selain itu, pada sektor pertanian pun juga sangat mengkhawatirkan, karena banyak masyarakat yang tidak bisa bercocok tanam akibat dari sawahnya digenangi air yang begitu tinggi.

Hingga kini, Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten HST masih belum merilis terkait laporan kaji cepat ataupun laporan resmi terkait kondisi banjir yang terjadi keempat kalinya di Tahun 2021. Maka dari itu, untuk data desa yang terendam, jumlah rumah, dan titik pengungsian masih belum diketahui secara lengkap.

Saat dimintai keterangan oleh awak media, sejak Jum’at (26/11/2021) malam hingga berita ini diturunkan Sabtu (26/11/2021) pukul 18.21 Wita masih belum ada jawaban. (dayat)

Editor : Akhmad

Related Articles

Trending

Terbaru

TOPIK POPULER

IKUTI KAMI

1,763FansSuka
28,880PengikutMengikuti
630PelangganBerlangganan