Simak, Ini 5 Tipe Karantina Saat Menghadapi Virus Corona

BANYAK istilah baru ketika dunia menghadapi pandemi virus Corona. Mereka datang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Indonesia, dan ahli medis yang ingin masyarakat waspada menghadapi wabah virus yang sudah mendunia ini, Covid-19.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona, satu di antaranya dengan melakukan karantina. Menurut WHO, karantina merupakan pembatasan kegiatan atau pemisahan orang yang tidak sakit, tetapi dapat terpapar agen atau penyakit menular.
Tujuan karantina, yakni untuk memantau gejala dan mendeteksi dini penyakit sedini mungkin. Dilansir dari WHO, karantina dilakukan selama 14 Hari sejak kali pertama terekspos dengan pasien Covid-19.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) telah membuat protokol atau tata cara karantina. Sebagian masyarakat mungkin telah mendengar istilah, seperti isolasi diri, karantina fasilitas khusus (FKF), karantina rumah sakit, hingga karantina wilayah.
Istilah-istilah tersebut memiliiki tujuan sama, tetapi mengandung definisi yang berbeda.
Hal itu sesuai Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, untuk mengurangi penyebaran suatu wabah perlu dilakukan Karantina Kesehatan.
Bola.com telah merangkum dari BNPB, lima tipe karantina dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 :
1. Karantina Rumah
Karantina rumah adalah upaya pencegahan penyebaran virus Corona dalam satu rumah beserta isinya yang terduga terjangkit virus Corona. Upaya pembatasan penghuni terduga terinfeksi virus Corona agar masyarakat luar terhindar.
Masyarakat lain tidak boleh berinteraksi atau bersentuhan dengan terduga terinfeksi virus Corona, bahkan dilarang memiliki kontak dengan barang yang digunakan oleh terduga terinfeksi virus ini.
Apabila masyarakat menjalani karantina rumah hal yang bisa dilakukan untuk berkomunikasi dengan keluarga di luar menggunakan telepon secara periodik untuk mendapatkan dukungan dan bantuan. Karantina rumah dilakukan melalui isolasi diri.
2. Isolasi Diri
Isolasi diri dilakukan dalam pantauan kesehatan diri sendiri dan menghindari kemungkinan penularan bagi orang sekitar, termasuk keluarga, laporkan kepada fasilitas kesehatan terdekat dengan kondisi kesehatan untuk mendapatkan informasi terkait isolasi diri.
Yang dilakukan ketika isolasi diri:
– Tinggal di rumah dan tidak boleh berinteraksi dengan masyarakat.
– Menggunakan kamar terpisah dari keluarga lain.
– Jaga jarak dengan anggota keluarga minimal 1 meter.
– Dianjurkan penggunaan masker selama isolasi diri.
– Melakukan pengukuran suhu harian dan obervasi gejala klinis.
– Hindari pemakaian bersama peralatan makan, peralatan mandi, dan linen atau sprei.
– Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
– Berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahri setiap pagi.
– Jaga kebersihan menggunakan disinfektan.
– Hubungi segera tenaga medis setempat jika mengalami perburukan gejala untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
3. Karantina Fasilitas Khusus
Karantina khusus adalah karantina yang dilakukan oleh pihak berwenang dengan fasilitas yang khusus disediakan kepada orang yang memiliki gejala dan riwayat kontak dengan pasien yang positif virus Corona. Karantina fasilitas khusus diperuntukkan oleh ODP atau orang dalam pemantauan. Yang dimaksud dengan karantina fasilitas khusus (FKK) sebagai berikut:
– Karantina dilakukan di fasilitas yang dikelola oleh pihak berwenang, seperti Wisma Hotel, Asrama Haji, dan tempat yang difungsikan sebagai rumah sakit darurat COVID-19.
– Diawasi oleh Lembaga atau Kementerian, Pemerintah Daerah setempat yang meliputi dari Dinkes, Puskesmas, Rumah Sakit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, TNI, POLRI, dan lain-lain.
– Pembiayaan dilakukan oleh pemerintah dan sumber lain yang sah.
– Penanggung jawab dilakukan oleh Kementerian, Lembaga, Gubernur, Walikota, atau Bupati.
4. Karantina Rumah Sakit
Karantina rumah sakit adalah pembatasan terduga terinfeksi Covid-19 di rumah sakit dengan penanganan sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau konstaminasi.
5. Karantina Wilayah
Pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah pintu masuk beserta isinya, yang diduga sebagai daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi virus Corona. Karantina Wilayah dilakukan sebagai pencegahan kemungkinan penyebaran penyakit ini. Karantina sangat diperlukan dilakukan di daerah episenter. Pimpinan daerah episenter bertanggungjawab melarang masyarakat melakukan perjalanan keluar daerah episentrum.
Bahkan pimpinan daerah yang belum menjadi daerah episenter memberikan informasi untuk melarang masyarakat agar tidak memasuki daerah episenter.
Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana, WHO
Editor : Amran/klikkalsel.com
Disadur dari : Bola.com