Siapkan Inovasi Ekstrim, Sungai Martapura Akan Ditutup Menggunakan Trash Boom

Kepala Bidang Sungai, Dinas PUPR Banjarmasin, Hizbul Wathony.
BANJARMASIN, klikkalsel – Memasuki musim penghujan, Banjarmasin yang berjuluk Kota Seribu Sungai kerap kali dihadapkan dengan permasalahan sampah. Terlebih sampah yang datang dari hulu yang dibawa oleh arus sungai.
Menyikapi permasalahan sampah tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin berupaya untuk meningkatkan perangkap sampah atau trash boom, yang akan dibentangkan di wilayah perairan Banua Anyar.
Baca Juga : Timbun Ribuan Liter Bensin, Seorang Pelangsir Diringkus
Kepala Bidang Sungai, Dinas PUPR Banjarmasin, Hizbul Wathony, mengatakan, Trash Boom tersebut berfungsi untuk menghalau sampah kiriman berupa yang datang dari hulu disetiap musim penghujan.
“Trash Boom ini terbuat dari gabus apung. Nah itu fungsinya untuk memerangkap sampah,” ucapnya.
Trash Boom juga diharapkan bisa membersihkan sampah berupa enceng gondok dan kayu yang datang dari hulu tidak lagi masuk ke perairan Sungai Martapura. Sehingga permasalahan sampah yang selalu terjadi setiap tahunnya bisa teratasi.
Namun Toni, sapaan Akrab Kabid Sungai PUPR tersebut mengungkapkan, dengan adanya Trash Boom tersebut juga masih belum bisa secara maksimal mengatasi permasalahan sampah, apabila sampah yang datang dari hulu tersebut terlalu banyak batang pohon.
“Ketika banyak batang pohon yang masuk itu tidak bisa tertangani, tapi Kalau eceng gondok masih bisa tertangani. Saat ini perangkap eceng gondok itu hanya 1 per 3 dari luas sungai jadi yang tersangkut di sana hanya 20 persen,” tuturnya.
Baca Juga : Sudah Bayar Listrik tiap Bulan, PLN Malah Cabut Paksa KWh Meteran Warga Miskin
Selain itu, 1 unit kapal sapu-sapu yang saat ini bertugas menangkap sampah kiriman tidak bisa bekerja secara maksimal karena semakin banyaknya sampah eceng gondok dan kayu yang berdatangan.

Dinas PUPR akan melakukan penutupan Sungai Martapura dengan pemasangan Trash Boom. Hal ini diakuinya merupakan keputusan yang tergolong ekstrim.

Pasalnya, dengan penutupan tersebut tidak hanya sampah yang terhalang, namun juga berdampak negatif bagi transportasi sungai seperti perahu atau sejenisnya.
Menurutnya ketika Trash Boom dipasang otomatis berbagai macam kegiatan yang menggunakan transportasi sungai seperti perahu yang hilir mudik juga tidak akan melintas.
“Dampak negatifnya sungai jadi tertutup, itu konsekuensinya. Tapi soal eceng gondok dan kayu ini juga masalah ekstrim,” ujarnya.
Namun ia menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan solusi terkait akses transportasi air tersebut apabila nanti Sungai Martapura ditutup menggunakan Trash Boom.
Jadi transportasi sungai yang datang dari hulu menuju hilir maupun sebaliknya akan dialihkan melalui Sungai Pengambangan.
Toni berkata, pihaknya sudah mengajukan untuk pembuatan Detail Engineering Design (DED) revitalisasi Sungai Pangambangan di tahun anggaran 2020. Kondisi Sungai Pengambangan saat ini mengalami penyempitan, dari awalnya 22 meter saat ini hanya tersisa 2 meter.
Ini terjadi lantaran banyaknya banguan warga yang dibangun di bantaran sungai sepanjang kurang lebih 1 kilometer itu. Jika DED revitalisasi sudah dibuat, selanjutnya Dinas PUPR akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) untuk pembebasan.
“Kalau saat ini lebahnya tersisa 2 meter. Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) untuk pembebasannya,” pungkasnya.(fachrul)
Editor : Amran