BANJARMASIN, klikkalsel.com – Tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Minggu (13/9/2026) lalu, bukan menjadi catatan pertama musibah pelayaran di jalur yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Kalimantan.
Sekitar 130 tahun sebelumnya, jalur pelayaran menuju Banjarmasin juga telah mencatat sejumlah kecelakaan kapal. Peristiwa tersebut terekam dalam arsip kolonial Hindia Belanda, khususnya Koloniaal Verslag van 1897 yang memuat laporan kecelakaan kapal sepanjang 1896 di wilayah Zuid-Oost Borneo atau Karesidenan Kalimantan bagian Selatan dan Timur.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat. Mansyur menjelaskan, catatan tersebut memperlihatkan bahwa jalur pelayaran di sekitar Kalimantan sejak masa kolonial telah menghadapi berbagai risiko, mulai dari arus sungai, gelombang tinggi, cuaca buruk, hingga kondisi geografis perairan.
“Dalam arsip itu setidaknya tercatat empat kecelakaan kapal yang menarik perhatian, yakni Sari Antasan, Sri Medina, Sri Alam dan Fatahool Bohari,” ungkapnya, Kamis (17/9/2026).
Kapal Sari Antasan mengalami kecelakaan pada 9 Juni 1896 di sebuah gosong pasir di depan Sungai Assam-Assam, Tanah Laut, Borneo Tenggara.
Kapal layar berkebangsaan Hindia Belanda itu berlayar dari Banjarmasin menuju Assam-Assam dengan membawa hasil-hasil hutan.
Saat berada di muara Sungai Assam-Assam, kapal terlepas dari jangkar akibat arus yang kuat dan kemudian terdorong hingga kandas di gosong pasir.
Kapal beserta muatannya dinyatakan hilang. Namun, seluruh awak kapal berhasil diselamatkan.
“Peristiwa Sari Antasan memperlihatkan bagaimana kondisi alam, khususnya arus sungai yang kuat di kawasan muara, menjadi salah satu ancaman bagi pelayaran pada masa itu,” ujar Dr. Mansyur.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas pelabuhan dan teknologi navigasi membuat keselamatan kapal pada masa tersebut sangat bergantung pada kondisi alam, kemampuan awak kapal serta kekuatan perlengkapan kapal, termasuk jangkar.
Beberapa hari kemudian, tepatnya 12 Juni 1896, kecelakaan kembali terjadi. Kali ini menimpa kapal Sri Medina di sekitar Poeloe Matasiri, wilayah yang pada masa itu masuk kawasan Tanah Bumbu.
“Sri Medina merupakan kapal layar berkebangsaan Hindia Belanda yang membawa hasil hutan, rotan, kelapa dan kayu. Kapal mengalami kebocoran setelah dihantam gelombang laut tinggi,” jelasnya.
Dalam laporan kolonial, Sri Medina disebut sebagai onzeewaardige schip atau kapal yang tidak layak laut. Kapal akhirnya dibiarkan kandas sebagai langkah penyelamatan. Kapal dinyatakan hilang, tetapi awak kapal dan muatannya berhasil diselamatkan.
“Kasus Sri Medina menunjukkan bahwa kondisi kapal juga menjadi faktor penting. Ketika kapal tidak dalam kondisi layak laut, kemampuan menghadapi gelombang tinggi tentu menjadi lebih terbatas,” kata Mansyur.
Dua peristiwa tersebut menunjukkan adanya perbedaan penyebab kecelakaan. Sari Antasan lebih berkaitan dengan kondisi geografis dan arus perairan, sedangkan Sri Medina dipengaruhi kombinasi kondisi laut dan kelayakan kapal.

Baca Juga : Hasnur Group Serahkan Bantuan Konsumsi untuk Petugas dan Keluarga Korban KM Virgo Trasport 8
Baca Juga : Komisi V Pertanyakan KM Virgo Transport 8 Berusia 39 Tahun Bisa Beroperasi Hingga Tenggelam
Catatan berikutnya terjadi pada 21 Agustus 1896. Kapal Sri Alam mengalami musibah di antara Kwala Pemboeang atau Kuala Pembuang dan Tandjong Poeting atau Tanjung Puting.
Kapal layar berkebangsaan Hindia Belanda tersebut membawa sarung dan berbagai barang perdagangan dari Singaradja, Bali, menuju Banjarmasin.
Dalam perjalanan, Sri Alam mengalami kehancuran akibat cuaca buruk. Arsip menyebutkan seluruh awak kapal berhasil diselamatkan.
“Peristiwa Sri Alam menarik karena memperlihatkan bahwa hubungan perdagangan Bali dengan Banjarmasin sudah berlangsung melalui jalur pelayaran antarpulau pada akhir abad ke-19,” jelas Mansyur.
Menurutnya, kondisi kapal yang sudah tua juga menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan dalam membaca peristiwa tersebut.
Kapal layar pada masa itu sangat bergantung pada kekuatan struktur lambung, kondisi layar serta kemampuan awak kapal menghadapi perubahan cuaca.
Sebulan kemudian, kecelakaan kembali terjadi. Pada 18 September 1896, kapal Fatahool Bohari mengalami musibah di Pamoekan-baai atau Teluk Pamukan, wilayah Residentie Zuider- en Oosterafdeeling van Borneo.
Kapal layar tersebut berlayar dari Soemalantakan menuju Tjengal dengan membawa beras, minyak tanah dan berbagai barang perdagangan lainnya.
Dalam perjalanan, kapal menabrak batu karang bawah laut. Benturan menyebabkan kebocoran hingga kapal akhirnya tenggelam.
Kapal dan muatannya dinyatakan hilang, sementara seluruh awak kapal berhasil diselamatkan.
“Fatahool Bohari memperlihatkan tantangan lain dalam pelayaran, yakni kondisi geografis perairan. Batu karang bawah laut menjadi ancaman serius karena pada masa itu teknologi pemetaan dan navigasi belum seperti sekarang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, jika dibandingkan, empat kecelakaan kapal yang tercatat pada 1896 menunjukkan beragam faktor yang mengancam keselamatan pelayaran di wilayah Kalimantan.
Sari Antasan mengalami kecelakaan akibat arus kuat dan kandas di gosong pasir. Sri Medina mengalami kebocoran setelah dihantam gelombang tinggi dengan kondisi kapal yang disebut tidak layak laut.
Sri Alam hancur akibat cuaca buruk, sementara Fatahool Bohari tenggelam setelah menabrak batu karang bawah laut.
Mansyur menyebut catatan tersebut penting bukan hanya sebagai sejarah kecelakaan kapal, tetapi juga sebagai gambaran mengenai aktivitas ekonomi dan jaringan perdagangan pada masa Hindia Belanda.
“Kapal-kapal tersebut membawa berbagai komoditas, mulai dari hasil hutan, rotan, kayu, kelapa, sarung, beras hingga minyak tanah. Artinya, pelayaran menjadi bagian penting dari jaringan ekonomi dan distribusi barang di wilayah Kalimantan,” tuturnya.
Menurut dia, keberadaan catatan kecelakaan tersebut juga menunjukkan bahwa jalur pelayaran menuju Banjarmasin telah memiliki sejarah panjang.
Lebih dari satu abad kemudian, kecelakaan KM Virgo Transport 8 kembali mengingatkan bahwa jalur Laut Jawa menuju Borneo tetap menjadi jalur strategis yang digunakan untuk mobilitas manusia dan distribusi barang.
“Kalau kita melihat catatan sejarahnya, jalur ini memang sudah sejak lama menjadi jalur penting. Namun, di balik fungsi strategis tersebut selalu ada tantangan keselamatan yang dipengaruhi oleh cuaca, kondisi perairan, faktor teknis kapal dan aspek navigasi,” pungkas Dr. Mansyur. (airlangga)
Editor: Abadi






