BANJARMASIN, klikkalsel.com – Tahukah kalian di kawasan Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin terdapat nama Jalan Brigjen H. Hassan Basry. Namun, hingga sekarang masyarakat lebih akrab menyebutnya dengan sebutan Kayutangi. Lalu, dari mana sebenarnya asal-usul nama tersebut?.
Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansur menjelaskan, nama Kayutangi dan Brigjen H. Hassan Basry memiliki latar sejarah yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki kaitan kuat dengan perjalanan sejarah Kalimantan Selatan.
“Dari catatan sejarah nama Jalan Brigjen H. Hassan Basry secara resmi diresmikan pada 14 Mei 1985 oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Banjarmasin saat itu, M. Effendi Ritonga,” ujarnya, Sabtu (5/9/2026).
Peresmian tersebut dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Banjarmasin Nomor 621/147/HOT tertanggal 11 Mei 1985.
Nama Hassan Basry diabadikan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa tokoh pejuang Kalimantan yang dikenal sebagai Bapak Gerilya Kalimantan.
“Diabadikannya nama Bapak Gerilya Kalimantan ini pada sebuah jalan besar atau arteri merupakan sesuatu yang wajar, mengingat Hassan Basry merupakan salah seorang tokoh pejuang pada masa revolusi fisik melalui Divisi IV ALRI,” kata Mansur.
Sebelum nama tersebut diresmikan, kawasan jalan itu telah lebih dahulu dikenal masyarakat dengan sebutan Jalan Kayutangi. Menariknya, menurut catatan sejarah, nama Kayutangi ternyata jauh lebih tua daripada pembangunan kawasan Jalan Brigjen H. Hassan Basry seperti yang dikenal masyarakat saat ini.
Mansur menjelaskan, secara etimologis, nama Kayutangi diyakini berkaitan dengan vegetasi lokal yang dahulu tumbuh di sekitar kawasan tersebut.
Di sepanjang bantaran anak sungai di wilayah itu disebut pernah banyak tumbuh pohon yang dikenal masyarakat sebagai kayu tangi.
“Nama Kayutangi dikaitkan dengan keberadaan pohon yang dahulu banyak tumbuh di sekitar sungai. Bahkan, sebelum dikenal sebagai Sungai Martapura, salah satu bagian sungai tersebut pernah disebut Soengai Kajoe Tangi,” ungkap Mansur.
Namun, jejak Kayutangi tidak hanya berkaitan dengan nama tumbuhan.
Nama tersebut juga tercatat dalam sejarah panjang Kesultanan Banjar. Pada 1612, terjadi konflik yang menyebabkan keraton Kesultanan Banjar di kawasan Kuin mengalami pembumihangusan oleh VOC.
Pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke daerah yang lebih aman di pedalaman, yakni kawasan yang dikenal sebagai Kayutangi. Pada masa pemerintahan Sultan Tahlilullah sekitar abad ke-17, kawasan tersebut menjadi lokasi penting dalam perjalanan pemerintahan Kesultanan Banjar.

Baca Juga : Jejak Merah Putih dari Marabahan: Mengungkap Sejarah Kepanduan Kalsel Sebelum Pramuka
Baca Juga : Pemprov Kalsel Rangsang Pengetahuan Siswa SMP tentang Sejarah dan Budaya Lewat Lomba Cerdas Cermat
“Kayutangi pernah memiliki posisi penting dalam sejarah Kesultanan Banjar. Karena itu, dalam sejumlah literatur dan catatan asing, nama Kayu Tangi juga muncul dalam penyebutan wilayah kekuasaan Banjar pada masa itu,” jelas Mansur.
Sementara kawasan Kayutangi yang kini dikenal masyarakat Banjarmasin berkembang pesat seiring pembangunan kota pada era 1970-an. Pembangunan permukiman baru, pelebaran jalan, hingga pembangunan fasilitas pendidikan dan pemerintahan membuat kawasan tersebut semakin ramai.
“Pada masa pembangunan itu, kawasan ini mulai berkembang dengan pembangunan permukiman dan sejumlah fasilitas. Sejak saat itulah nama Kayutangi semakin melekat sebagai identitas kawasan,” ucapnya.
Catatan sejarah juga menyebutkan kawasan tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan di Banjarmasin dengan hadirnya sejumlah fasilitas, termasuk Universitas Lambung Mangkurat dan berbagai bangunan pendidikan lainnya.
Meski nama jalan kemudian resmi berubah menjadi Jalan Brigjen H. Hassan Basry pada 1985, masyarakat tetap mempertahankan sebutan Kayutangi. Inilah yang membuat hingga kini, ketika seseorang menyebut Jalan Hasan Basry, belum tentu semua orang langsung mengetahui kawasan yang dimaksud.
“Namun ketika menyebut Kayutangi, hampir semua warga Banjarmasin langsung memahami lokasinya,” imbuhnya.
Selain sejarah Kayutangi, Mansur juga menyoroti penulisan nama Hassan Basry.
Dalam sejumlah dokumen dan penggunaan sehari-hari, nama pahlawan tersebut kerap ditulis Hasan Basry atau Hasan Basri.
Namun, berdasarkan kajian sejumlah sumber sejarah, termasuk buku Kisah Gerilya Kalimantan yang ditulis oleh Hassan Basry sendiri, ejaan yang digunakan adalah Hassan Basry.
“Berdasarkan data, terutama Buku Kisah Gerilya Kalimantan yang ditulis Hassan Basry sendiri, ejaan nama beliau adalah Hassan Basry, bukan Hasan Basry ataupun Hasan Basri,” tegas Mansur.
Hassan Basry dikenal sebagai tokoh perjuangan Kalimantan dan Bapak Gerilya Kalimantan. Namanya juga memiliki kaitan erat dengan perjuangan ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan.
Ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 110/TK Tahun 2001 tertanggal 3 November 2001.
Lebih lanjut, kata Mansyur, salah satu bangunan yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah kawasan Kayutangi adalah Gedung Wanita.
Gedung tersebut diresmikan pada 21 Mei 1981 oleh Gubernur Kalimantan Selatan M. Mistar Tjoekroekoesoemo. Awalnya, aktivitas perkumpulan wanita berada di Gedung Perkumpulan Wanita di kawasan Jalan Taman Sari, Banjarmasin.
Selanjutnya, dibangun gedung baru di kawasan Jalan Brigjen H. Hassan Basry yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Gedung Wanita.
Kini, bangunan tersebut telah berganti nama menjadi Gedung Gusti Norsehan Djohansyah.
“Jadi, nama Kayutangi yang masih begitu populer hingga sekarang bukan sekadar sebutan sebuah kawasan. Nama tersebut menyimpan jejak sejarah yang panjang, mulai dari vegetasi lokal dan aliran sungai, perjalanan Kesultanan Banjar, hingga perkembangan Kota Banjarmasin pada era modern,” jelasnya.
Sementara nama Jalan Brigjen H. Hassan Basry menjadi simbol penghormatan terhadap salah satu tokoh besar perjuangan Kalimantan.
“Meski papan nama jalan telah berubah sejak 14 Mei 1985, satu hal yang tidak berubah adalah ingatan masyarakat Banjarmasin. Jalan Brigjen H. Hassan Basry tetaplah kawasan yang akrab disebut dengan satu nama Kayutangi,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






