Ekonomi & Bisnis

Ramai Digandrungi, Thrifting Jadi Peluang Usaha Menggiurkan

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Sejumlah masyarakat tengah menggandrungi aktivitas membeli pakaian bekas yang dijual kembali di pasar atau dikenal thrift, thrifting dan thrift shop. Selain itu, aktivitas ini juga menjadi peluang bisnis yang menggiurkan di tengah pandemi corona.

Agar lebih dimengerti, thrift adalah suatu barang bekas yang berasal dari barang-barang import. Karena barang thrift merupakan barang second, kondisinya tidak 100 persen mulus. Namun bila beruntung pembeli dapat menemukan barang thrift yang masih terlihat seperti baru.

Thrifting sendiri dapat menghemat pengeluaran dan membantu ekologi dengan mengurangi limbah tekstil. Thrifting biasanya dilakukan dengan cara berjualan di kios dan pinggir jalan, bahkan belakangan merambah ke toko daring atau online shop.

Selanjutnya thrift shop merupakan pasar atau wadah yang menjual barang barang thrift pilihan untuk dijual kembali.

Ganang Prasetyo, owner lapaksecondbjm yang belum lama menggeluti bisnis tersebut mengatakan, maraknya aktivitas thrifting dikarenakan semakin maraknya thrift shop yang bermunculan di berbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan situs lainnya.

“Pasalnya saat thrifting tak jarang, kita bisa mendapatkan barang barang branded dengan harga yang sangat terjangkau,” katanya kepada klikkalsel.com, Rabu (6/1/2021).

Ditambahkanya, thrifting merupakan kegiatan yang sangat mengasyikan, apalagi buat orang yang sangat menyukai barang barang vintage.

“Thrifting juga bisa membantu melatih kesabaran kita, contohnya saja saat kita thrifting di pasar, kita harus memilih barang secara detail dan teliti agar pada barang yang kita pilih tidak terdapat noda,” jelasnya.

Dari pantauan klikkalsel.com di sejumlah sosial media, akhir akhir ini, thrift Shop sangat diminati oleh kalangan muda karena dengan harga yang sangat terjangkau tersebut, mereka bisa memenuhi kebutuhan fashion mereka agar tetap stylish dan tentunya tidak membuat kantong jebol.

Selain itu, pembeli juga dapat menemukan barang-barang langka yang jarang dijumpai. Bahkan pembeli mungkin saja mendapatkan barang limited edition yang sudah tidak diproduksi.

“Selain untuk digunakan sendiri juga bisa dijual kembali,” tuturnya.

Salah satu pedagang pakaian bekas tersebut, Ancah mengaku sudah puluhan tahun menjadi pelaku usaha di Jalan Pangeran Antasari, Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin atau yang kerap diketahui masyarakat dengan sebutan barang kapal jalan jati

“Sejak tahun 90-an ikut menjajakan pakaian bekas, mulai ikut orang dan alhamdulilah sekarang buka sendiri,” ujar Ancah.

Diakuinya, usaha tersebut sangat menguntungkan, karena ia mampu memperoleh keuntungan hampir 40 persen dari modal awal.

“Tergantung ambilannya, misalkan 1 karung kemeja isi 400 lembar dibeli dengan harga 10 juta, kemudian di jual kembali dengan harga 35 ribu perlembarnya, artinya kita mengantongi 14 juta, itu masih hitungan kotor,” ujarnya

Ditambahkanya, disetiap karung tidak semua kualitas 100 persen bagus, disitu kita harus pandai memilah yang mana masih layak dijual dengan harga yang sesuai.

“Di setiap pembelian per karung juga ada yang tidak bisa dijual, barang yang kondisinya hanya 40 persen kelayakanya akan diobral murah,” terangnya

Selain kemeja, juga ada jaket yang dijual, setiap item memiliki varian harga dan jumlah, oleh karena itu tidak semua bisa dipatok dengan harga yang sama.

Ancah sendiri mengaku mendapatkan barangnya dari Sulawesi dengan jadwal pengambilan barang tidak menentu. Dalam sehari Ancah bisa memperoleh lebih 900 ribu jika lapaknya ramai.

“Paling banter, jika sepi 100 ribu bisa dibawa pulang,” tutupnya. (airlangga)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top