Perguruan Tinggi di Era Disrutif

DR Jarkawi
DR Jarkawi, Wakil Rektor I Uniska Banjarmasin

AWAL tahun 2018 berbagai perguruan tinggi secara inten menyusun startegi promosi perguruan tingginya dalam membangun brand image, keberbagai sekolah, mulai dari sekolah yang berada di pekotaan dan kabupaten sampai kekecamatan, dengan harapan agar para siswa yang lulus dari sekolahnya berminat dan bergabung keperguruan tinggi yang dipromosikan.

Gaya dan lagak promosi perguruan tinggi terus terjadi perubahan, mulai dari hard copy dengan desain yang menarik, dan sampai dunia maya melalui wibsite dengan tampilan yang menarik, dimana salah satu tampilan dalam promosinya menampilkan lulusan yang telah berhasil berkarir di dunia kerja.

Perguruan tinggi setelah masa promosi berakhir, akan berlanjut dengan menerima mahasiswa baru serta melakukan orentasi pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi, agar para mahasiswa baru mengenal tentang pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi, dengan harapan agar perkembangan prestasi akademik mahasiswa selama studi dapat berkembang optimal dan bermakna bagi mahasiswa itu sendiri, orang tua, masyarakat, negara dan bangsa serta umat manusia di era disruptif.

Perkembangan perguruan tinggi terus berubah dengan cepat dan tidak terduga, sehingga terciptanya suatu pergerakan sosial cultural akademik yang organis dan dinamis serta bersipat non linear, sebagai dampak dari kemajuan teknologi dan informasi yang semakin bergerak cepat dan melompat dengan robotic, big data, artipical intelegency.

  1. Robotic telah menggantikan tenaga manusia yang selamana ini menjadi andalan, sehingga mengakibatkan berkurangnya kebutuhan tenaga kerja dalam melakukan suatu pekerjaan.
  2. Big data, untuk mengefektifkan dan mengefesiensikan serta peningkatan produktivitas pekerjaan, dimana setiap pekerjaan membutuhkan data yang real time, sehingga perlu disadari aka pentingnya big data (I have you dan ‘i have, I don’t have you have).
  3. Artipical intelegency merupakan suatu kecerdasan dibuat dan dimasukkan ke dalam suatu mesin/ komputer agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dikerjakan oleh manusia.

Perguruan tinggi harus menyadari bahwa diera disruptif tidak hanya mengandalkan jumlah mahasiswa yang banyak untuk bisa bertahan dan bersaing, akan tetapi harus melakukan rekronstruksi pendidikan dan pengajarannya, dimana rekronstruksi pendidikan dan pengajaran dilakukan melalui regulasi pendidikan dan pengajaran, agar para mahasiswa memiliki kompetensi dan keterampilan yang sesuai dengan keperluan di era disruptif.

Dimana konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu, maka dalam proses belajar para mahasiswa harus membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi dan interprestasi, begitu pula tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran harus melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik, agar mahasiswa termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidak menentuan dan perbedaan.

Mahasiswa di perguruan tinggi memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan, tergantung pada pengalaman dimana lingkungan bergaulnya mahasiswa, dan presfektif yang dipakai mahasiswa dalam menginterprestasi. Sedangkan untuk keberhasilan mengajar ditentukan oleh kesiapan mahasiswa yang belajar (readness of learning) dan kontrol serta kedisiplinan dalam pembelajaran bagi mahasiswa.

Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2013) dalam bukunya The Innovator ‘s DNA yang mengemukakan 5 (lima) “Discovery Skill of True Innovator”,yakni; associating; questioning, observing, experimenting, and networking.

  1. Associating adalah kompetensi berpikir asosiasi seseorang (mahasiswa) dalam menghubungkan bidang ilmu, masalah dan ide, dimana orang lain memandangnya tidak berhubungan, serta dalam menyelesaikan setiap masalah selalu ditinjau dari berbagai presfektif dan multi disipliner.
  2. Questioning adalah kompetensi bertanya yang sangat penting bagi seseorang (mahasiswa) dalam usaha mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru.
  3. Observing Skill adalah kompetensi mengamati bagi seorang (mahasiswa) innovator carefully, intentionally, and consistenly look out for small behavioral details.
  4. Experimenting Skill adalah kompetensi melakukan percobaan bagi seorang (mahasiswa) innovator dengan selalu mencoba melalui pengalaman baru dan mengemudikan ide-ide baru tersebut. Bagi seorang (mahasiswa) inovator tidak ada kegagalan, semua ketidak berhasilan melakukan eksprimen merupakan sebuah kesuksesan yang tertunda. Thomas Alva Edison mengatakan, “I haven’t failed, I have found 10. 000 ways that do not works”.
  5. Networking Skill adalah kompetensi melakukan jejaringan bagi seorang (mahasiswa) inovator. Para (mahasiswa) inovator menghabiskan banyak waktu danenergi untuk menemukan dan menguji ide-ide melalui berbagai jaringan individu dan social yang berbeda latar belakang dan prespektif, mencari secara aktif dan dinamis akan ide-ide baru dengan berbincang bersama orang yang memberi pandangan tentang sesuatu yang secara radikal berbeda.

Di era disruptif perguruan tinggi harus berani keluar dari comfort zone yang selama ini merasa aman dan nyaman dengan kelompok dan koleganya, tanpa mau melakukan rekontruksi pendidikan tingginya. Kalau tidak ingin mengalami kolep perguruan tinggi tersebut karena ditinggalkan stake holder, maka suatu perguruan tinggi untuk tetap bertahan dan bersaing diera disrupsi tentunya mindset perguruan tinggi berubah dengan melakukan adaptasi terhadap lingkungan pendidikan tinggi agar lulusannya sesuai kebutuhan era disrupsi dengan rekruntruksi pendidikan dan pengajaran melalui regulasi pendidikan dan pengajaran.

 

Penulis : DR Jarkawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.