BANJARMASIN, klikkalsel – Penggabungan waktu pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg), dianggap mengurangi nilai subtansial pemilu.
Hal itu terlihat dari perhatian masyarakat lebih banyak terfokus pada pilpres. Sehingga tidak semua masyarakat benar-benar mengenali caleg yang akan mewakili mereka di parlemen.
Hal tersebut disampaikan pengamat politik, Dr Andi Tenri Sompa saat dimintai tanggapannya mengenai pelaksanaan Pemilu serentak ini, Kamis (26/4/2019).
Ć¢ā¬ÅJangan sampai hanya mempertimbangkan teknis pelaksanaan,ĆĀ ĆĀ namun kita melupakan subtansi Pemilu itu sendiri,Ć¢ā¬Ā tegasnya.
Selain itu kondisi tersebut diperparah dengan tidak munculnyaĆĀ ĆĀ foto calon legislatif pada surat suara legislatif kota, provinsi dan pusat yang membuat masyarakat bingung dan akhirnya membuatnya gagal memberikan suaraĆĀ ĆĀ secara maksimal.
Menurutnya, kebingungan tersebut karena banyaknya nama yang muncul, padahal tidak semua masyarakat tahu nama asli calon yang ingin didukungnya. Hal ini mengingat sebagian masyarakat terkadang hanya ingatĆĀ ĆĀ wajah atau nama panggilan si caleg.
Ć¢ā¬ÅApalagi kalau si pemilih terlalu lama dalam bilik suara maka ia pasti muncul rasa tidak enak, akhirnya dari pada mencari-cari nama calonnya yang akan memakan waktu maka akan dilakukan pemilihan asal coblos,Ć¢ā¬Ā ujarnya.
Untuk itu menurutnya perlu dilakukan revisi dan evaluasi terhadap mekanismeĆĀ ĆĀ dan UU Pemilu serentak ini, sehingga masyarakat benar-benar bisa menentukan pilihannya secara benar, bukan hanya asal coblos.(david)
Editor : Amran





