Banjarmasin

Mapala Minta Pemko Menarik Izin Sirkus Lumba-Lumba

BANJARMASIN, klikkalsel – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Univeritas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, menyesalkan Pemko Banjarmasin telah mengeluarkan izin sirkus keliling ikan lumba-lumba di Taman Kamboja, di Jalan H Anang Adenansi.

Sejak tanggal 15 Maret 2018, keberadaan lumba-lumba yang dijadikan bisnis berkedok edukasi tersebut, cukup menjadi perhatian warga Banjarmasin.

Ikan yang pintar dan akrab dengan manusia itu, dijadwakkan melakukan atraksi hingga 15 April 2018. Namun kehadiran sirkus lumba-lkumba itu kini disoalkan oleh Mapala Uniska Banjarmasin dan mendesak agar Pemko menarik izin operasional pihak manajeman sirkus lumba-lumba tersebut.

Mapala Uniska mendesak Pemko Banjarmasin segera mencabut izin sirkus lumba-lumba. (foto : istimewa)

Ketua Umum Mapala Uniska Banjarmasin, Syaid Wahid menilai, sirkus yang diklaim sebagai edukasi tersebut hanya didesain. Sehingga terlihat bermanfaat bagi dunia pendidikan.

“Tidak ada sama sekali nilai edukasinya. Malah ini upaya pembodohan yang didesain sedemikian rupa sehingga kesannya seakan-akan bermanfaat bagi dunia pendidikan dan konservasi, sehingga Pemko Banjarmasin harus segera mencabut izinnya,” kata, Minggu (18/3/2018).

Menurut Wahid yang juga mahasiswa semester akhir itu menjelaskan, bahwa sirkus lumba-lumba ini sangatlah tidak mendidik, menghibur pun tidak.

Bahkan, sirkus satwa laut keliling ini lebih mencerminkan penganiayaan keji terhadap satwa laut tersebut. Sehingga ia mendesak pemerintah daerah agar segera mencabut izin pelaksanaan sirkus lumba-lumba keliling tersebut.

“Aneh saja, pelanggarannya sudah di depan mata tapi izinnya masih dikeluarkan,” cetusnya.

Sebagai contoh kata dia, Walikota Balikpapan telah mengeluarkan pernyataan komitmen bahwa Balikpapan bebas eksploitasi satwa. Bahkan, didalam surat pernyataan yang dikeluarkan tanggal 31 Januari 2017 tersebut mengajak warga kota untuk turut serta mendukung semua kegiatan positif.

Sehingga Syaid juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Kalsel, khususnya Banjarmasin untuk dapat menahan diri dan tidak datang menonton sirkus yang penuh dengan atraksi kekejaman itu.

“Satu-satunya cara untuk menghentikan kekejaman itu adalah dengan tidak datang menonton. Jangan tergiur dengan iming-iming edukasi dan konservasi. Itu pembodohan,” ucap Wahid.

Suara yang sama juga datang dari Mapala Piranha Fakultas Perikanan Dan Kelautan ULM Banjarbaru. Menurut Riza Ketua Umum Mapala Piranha sirkus Lumba-Lumba keliling ini terselenggara di atas landasan kebohongan yang mengatasnamakan edukasi.

“Makanya, mari kita hentikan sirkus Lumba-Lumba keliling itu sebelum masanya berakhir. Lebih cepat lebih baik. Jangan ditonton. Itu pembodohan,” pintanya. (baha)

Editor : Amran

 

To Top