BANJARBARU, klikkalsel.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus meluas. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, 863 kejadian karhutla tercatat menghanguskan 2.675,11 hektare lahan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel periode 14 Juli hingga 9 Agustus 2026 juga mencatat 2.870 titik panas atau hotspot tersebar di sejumlah wilayah.
Kabupaten Tanah Laut menjadi daerah dengan luas lahan terbakar paling besar. Dari 156 kejadian, luas lahan yang terbakar mencapai 623,68 hektare.
Kabupaten Banjar berada di posisi berikutnya. Sebanyak 165 kejadian karhutla membakar lahan seluas 600,66 hektare.
Sementara itu, Kota Banjarbaru tercatat sebagai daerah dengan kejadian karhutla terbanyak. Sebanyak 181 kejadian terjadi di wilayah tersebut dengan luas lahan terbakar mencapai 487,16 hektare.
Kondisi berbeda terlihat di Kabupaten Tapin. Meski jumlah kejadiannya hanya 70, wilayah ini justru mencatat hotspot tertinggi di Kalsel, yakni mencapai 921 titik.
“Data hotspot tersebut berdasarkan pemantauan satelit SIPONGI Kementerian Kehutanan melalui NASA-MODIS, SNPP, dan NOAA20,” tutur Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra melalui Kabid Kedaruratan, Pormandi, Senin (10/8/2026).
Selain Tapin, hotspot cukup tinggi juga terpantau di Hulu Sungai Selatan sebanyak 414 titik, Kabupaten Banjar 389 titik, Tanah Laut 337 titik, serta Balangan 201 titik.
Baca Juga : Polda Kalsel Sita 2.574 Botol Miras Ilegal dari Lima Kafe di Banjarmasin dan Banjarbaru
BPBD Kalsel saat ini memfokuskan penanganan karhutla di kawasan rawan dan vital. Meningkatnya karhutla membuat penanganan kini diarahkan ke sejumlah kawasan yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama wilayah yang berdekatan dengan fasilitas vital dan kawasan lindung.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kawasan hutan lindung serta wilayah utara Bandara Syamsudin Noor. Sementara kawasan selatan bandara, seperti Pengayuan, Peramuan, dan Guntung Manggis Kota Banjarbaru, juga tetap menjadi sasaran penanganan tim.
“Wilayah yang penting untuk ditangani sekarang adalah hutan lindung dan kawasan utara bandara, meski selatan bandara seperti di Pengayuan, Peramuan, Guntung Manggis, tetap menjadi perhatian dalam penanganan,” ucap Pormandi.
Penanganan dilakukan dengan mengerahkan satgas darat yang diperkuat pemadaman melalui udara atau water bombing, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.
Upaya lain yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi tersebut kembali akan digunakan apabila kondisi atmosfer memungkinkan penyemaian awan untuk menghasilkan hujan.
“OMC akan dilakukan lagi apabila awan memungkinkan untuk disemai menjadi hujan,” tandasnya.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pemantauan hotspot dan patroli di wilayah rawan terus dilakukan untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan yang berdekatan dengan permukiman, fasilitas publik, dan kawasan lindung. (rizqan)
Editor: Abadi





