Budaya  

Jangan Salah Paham, Budaya Makan Batalam Bakipas Pangeran Bukan Simbol Feodalisme

TANJUNG, klikkalsel.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong bersama masyarakat menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas penetapan tradisi Makan Batalam Bakipas Pangeran serta Bagunung Perak sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan yang diumumkan pada 4 September 2026 tersebut menambah daftar warisan budaya asal Tabalong yang diakui secara nasional. Sebelumnya, pada 2025, tradisi Manyampir Buaya juga telah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tabalong, Gt. Judid Permana, menyampaikan apresiasi atas pengakuan yang diberikan pemerintah pusat terhadap budaya lokal yang selama ini dijaga dan diwariskan oleh masyarakat.

“Pencapaian ini adalah milik kita bersama. Terima kasih kepada pemerintah pusat dan Kementerian Kebudayaan yang membuat kami dan masyarakat Tabalong khususnya menjadi bangga dan bersyukur atas penetapan ini,” katanya.

Menurut Judid, pengakuan tersebut menjadi motivasi bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus menjaga, merawat, dan melestarikan kearifan lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ia menambahkan, pada 2027 Pemkab Tabalong juga berencana mengusulkan sejumlah tradisi lainnya, seperti Paliat, Tawas Ja’a, dan Mongket Manau untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Sementara itu, Camat Banua Lawas Arianto menjelaskan, Makan Batalam merupakan tradisi religius makan bersama dalam satu talam atau nampan besar yang rutin dilaksanakan masyarakat, terutama di Kecamatan Banua Lawas, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Nama tradisi ini berasal dari kata talam, yaitu nampan atau piring besar tempat menyajikan makanan. Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari satu abad dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, satu talam biasanya berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk seperti ayam atau itik, ikan panggang, sayur, dan kuah yang kemudian dinikmati bersama oleh empat hingga enam orang.

Baca Juga : Alpiya Rakhman Dorong Budaya Tertib Berlalu Lintas

Baca Juga : Bupati Tabalong Buka Festival Budaya Adat Dayak Maanyan Warukin

Menurut Arianto, tradisi tersebut mengandung nilai persatuan, silaturahmi, gotong royong, serta rasa syukur. Makan bersama dalam satu talam menjadi simbol kebersamaan yang mampu mempererat hubungan antarwarga dari berbagai desa.

“Maknanya adalah persatuan, silaturahmi, dan rasa syukur. Tradisi ini menjadi simbol pemersatu warga, mempererat rasa kekeluargaan, adab, dan gotong royong serta menjadi wujud doa bersama agar daerah senantiasa diberikan keberkahan,” katanya.

Arianto juga meluruskan pandangan sebagian masyarakat yang menganggap Bakipas Pangeran sebagai tradisi feodal karena berkaitan dengan lingkungan kerajaan.

Menurutnya, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat. Secara sederhana, bakipas berarti mengipasi, sedangkan pangeran merujuk pada tokoh yang dihormati pada masa kerajaan. Dalam konteks tradisi Batalam, istilah tersebut berkaitan dengan tata krama masyarakat dalam menyambut dan memuliakan tamu.

“Jadi konsepnya adalah tamu penting yang datang disambut, dihormati, kemudian dilayani dan diberikan jamuan makan. Pada masa lalu, kipas merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada orang yang dihormati,” jelasnya.

Seiring perjalanan waktu, tradisi tersebut tidak lagi berorientasi pada status kebangsawanan. Nilai yang diwariskan kepada masyarakat adalah budaya menghormati tamu, berbagi, dan memperkuat kebersamaan.

Dalam perkembangannya, tradisi Batalam berbaur dengan budaya Banjar dan nilai-nilai Islam. Ketika kemudian menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, penghormatan yang diberikan tidak lagi ditujukan kepada kalangan bangsawan semata, tetapi kepada ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu undangan, dan seluruh warga yang hadir.

Oleh karena itu, usai peringatan Maulid, masyarakat biasanya menampilkan pertunjukan seni budaya Bakipas Pangeran sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya leluhur. Pertunjukan tersebut menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan nilai budaya kepada generasi muda.

Arianto menegaskan, pentas seni Bakipas Pangeran bukanlah upaya menghidupkan kembali budaya feodal, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah serta sarana menanamkan nilai sopan santun, penghormatan kepada tamu, persaudaraan, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Sejarahnya kita hormati, tetapi feodalismenya tidak perlu kita warisi. Nilai baiknya yang kita ambil, yaitu menghormati tamu, berbagi, dan memperkuat persaudaraan dalam semangat kebersamaan dan kesetaraan,” tegas Arianto. (renn)

Editor : Akhmad