Budaya  

Kementerian Kebudayaan Apresiasi Arkais Festival: Gairah Muda Ekosistem Sastra

ARKAIS FESTIVAL. Tim Kerja Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian Kebudayaan RI, Willy Fahmy Agiska memukul gong tanda dimulainya Arkais Festival di Taman Budaya. (Foto: ARKAIS FESTIVAL)

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Kementerian Kebudayaan memberikan penghargaan terkait keputusan komunitas Arkalitera mengangkat tema sastra dan perjuangan dalam Arkais Festival, di Taman Budaya, Senin (28/9/2026).

“Ke depan kita ingin tokoh-tokoh lokal yang berjuang dalam sastra supaya lebih dikenal,” Tim Kerja Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian Kebudayaan RI, Willy Fahmy Agiska.

Arkalitera, kata Willy, adalah salah satu dari sekian komunitas sastra di Indonesia yang mendapatkan program penguatan sastra.

Arkalitera tahun ini dipilih karena dianggap memiliki konsistensi dan tujuan yang kuat untuk mengembangkan sastra, khususnya di Kalimantan Selatan.

“Penghargaan untuk mereka. Bangga, anak-anak muda memiliki semangat tinggi untuk menumbuhkan ekosistem sastra di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kadispersip Kabupaten Banjar, Kencana Wati melihat kalau Arkalitera dalam festival ini telah memberikan kerja nyata untuk meningkatkan kualitas hidup di Banua.

“Sastra itu penting untuk kepribadian, jiwa kita,” ujarnya.

Kencana juga secara khusus berterima kasih kepada sekolah dan kampus yang telah memberikan izin kepada pelajar dan mahasiswa untuk hadir di Arkais Festival.

Pertama kali mendapat program penguatan sastra dari Kementerian Kebudayaan, komunitas Arkalitera secara khusus mengangkat tema Mardahika sebagai bentuk penghargaan kepada pejuang sekaligus sastrawan asal Amuntai, Mas Husaini Maratus.

Baca Juga : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pecah Menjadi Tiga, Kadisdik Tunggu Arahan Pusat

Baca Juga : Wakil Menteri Kebudayaan Buka Audisi Panduan Suara GBN Tahun 2025 di Kalsel

“Beliau pernah berjuang di Divisi IV Alri di bawah komando Hasan Basri. Ketika perjuangan fisik usai, beliau memutuskan meneruskan perjuangan di bidang sastra,” kata Ketua Pelaksana Arkais Festival, Lorensius.

Kegiatan festival sendiri akan berlangsung selama tiga hari, 28 – 30 September. Diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya diskusi, pelatihan cerpen dan esai.

Sastrawan seperti Sandi Firly, Dadang Ari Murtono; penyair Micky Hidayat dan Ali Samsudin Arsi adalah beberapa dari seabrek narasumber yang akan mengisi materi-materi festival ini.

Bagaimana dengan kesan para peserta dalam pembukaan festival?

Mahasiswi ULM Banjarmasin, Nina Sri Savarina mengaku antusias, karena selain ada pelatihan cerpen, juga karena ada pelajaran menulis esai.

“Kapan lagi bisa berguru langsung dari para ahlinya? Sudah gratis, dapat buku sastra pula dari panitia,” ujarnya.

Sejauh ini katanya, materi diskusi yang menghadirkan para pelaku sastra, khususnya mereka yang mengenal dari dekat pergerakan Mas Hussain Meratus telah membuka wawasan dan pemahaman baru baginya.

Sekadar diketahui, pemerintah pusat lewat Kementerian Kebudayaan sejak beberapa tahun terakhir memang getol memberikan penguatan literasi.

“Komunitas sastra yang ada di berbagai penjuru Indonesia adalah penggerak utama ekosistem sastra, penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, serta wadah berkembangnya ragam wacana sastra,” kata Menteri Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon dalam keterangan resminya.

Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa.(klikkalsel/rilis)

Editor: Amran