BANJARMASIN, klikkalsel.com – Memasuki usia satu dekade Forum Sineas Banua (FSB) mendeklarasikan Yayasan Ruang Sinema Banua sebagai wadah baru yang memiliki legalitas kelembagaan lebih kuat.
Langkah tersebut diambil agar memperkuat pengembangan perfilman di Kalimantan Selatan, tanpa menghilangkan peran FSB sebagai ruang komunitas yang selama ini menjadi tempat berkolaborasi para sineas lokal.
Melalui pembentukan yayasan, aspek administrasi, kemitraan, hingga pengembangan program diharapkan dapat berjalan lebih terstruktur.
Sementara itu, Forum Sineas Banua tetap dipertahankan sebagai komunitas yang bersifat terbuka, dinamis, dan menjadi ruang kreatif bagi para pegiat film di Banua.
Momentum 10 tahun FSB juga menjadi ajang refleksi atas perjalanan perfilman Kalimantan Selatan sekaligus penyampaian berbagai gagasan strategis untuk memperkuat ekosistem industri film di daerah.
Ketua Forum Sineas Banua, Munir, mengungkapkan bahwa dinamika pergantian kepala daerah, baik di tingkat kota maupun provinsi, selama satu dekade terakhir turut memengaruhi kesinambungan kolaborasi di sektor perfilman.
“Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang-ruang seperti ini masih ada dan terjaga di luar bentuk formalnya. Harapannya bukan sekadar sampai ke 20 tahun, tetapi bagaimana merancang langkah hingga 100 tahun ke depan,” ujar Munir.
Baca Juga : Cegah Balap Liar, Satlantas Polresta Banjarmasin Tindak 26 Pelanggar Saat Patroli Dini Hari
Baca Juga : Tiga Rumah di Komplek Fadillah Perdana Lima Ambruk, Penghuni Dievakuasi ke Rumah Sakit
Menurutnya, kualitas SDM perfilman di Kalimantan Selatan saat ini terus mengalami perkembangan. Kemampuan sineas lokal untuk kategori dasar hingga menengah sudah cukup mumpuni.
Adapun keterlibatan tenaga ahli dari luar daerah dinilai sebagai hal yang wajar selama bertujuan melengkapi kebutuhan kompetensi tertentu, sekaligus menjadi sarana transfer pengetahuan agar kualitas sineas Banua semakin meningkat.
Meski produksi film lokal terus bertumbuh, mulai dari film pendek hingga film panjang yang tayang di bioskop, akan tetapi masih terdapat satu mata rantai penting dalam industri perfilman yang perlu diperkuat, yakni aspek distribusi karya agar film-film produksi daerah dapat menjangkau penonton lebih luas.
Menjawab tantangan tersebut, Pembina Forum Sineas Banua, Adi Hidayat, mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan dua program prioritas yang akan dijalankan melalui Yayasan Ruang Sinema Banua.
Program pertama adalah mendorong kehadiran bioskop mandiri di Kalimantan Selatan. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang pemutaran sekaligus apresiasi bagi karya-karya sineas lokal, khususnya dari sekitar 64 komunitas film yang tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Selain itu, yayasan juga berencana membuka Bimbingan Belajar Perfilman mulai tahun depan. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis maupun artistik para anggota komunitas sehingga regenerasi sineas lokal dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Menurut Adi, penguatan kapasitas SDM merupakan salah satu kunci agar perfilman Kalimantan Selatan mampu berkembang secara profesional sekaligus memiliki daya saing yang lebih tinggi di tingkat nasional.
Meski mengedepankan kemandirian komunitas, pihaknya tetap membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam memajukan perfilman Banua.
“Tentu ketika pemerintah ingin berkolaborasi, kami sambut dengan baik. Salah satunya seperti program pembiayaan film pendek ‘Banua Film Fund’ bersama Dinas Pariwisata serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” pungkasnya.(fachrul)
Editor: Amran






