Berita Utama

Diduga tersulut Informasi Provokatif, Etnis Dayak dan Bugis Mediasi Isu Perpecahan di Kotabaru

BANJARMASIN, klikkalsel – Beberapa orang Perwakilan Suku Dayak di Kabupaten Kotabaru berhadir di Markas Polda Kalimantan Selatan (Kalsel), Jalan S Parman Banjarmasin, Kamis (14/11/2019) siang.
Kedatangan mereka didampingi Ketua DPRD Kabupaten Kotabaru, guna mediasi dan klarifikasi gesekan etnis dengan Suku Bugis.
Ketiga pihak itu menggelar pertemuan tertutup bersama Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Aneka Prystafuddin di ruang kerjanya. Proses mediasi dan klasifikasi tersebut berlangsung sekitar dua jam dari pukul 11.00-13.00 WITA.
Usai pertemuan, ketiga pihak menerangkan kepada awak media bahwa memang ada terjadi kegaduhan, yang bermula dari informasi salah satu media massa dalam jaringan atau online, kurun waktu sepekan terakhir.
“Ada pemberitaan dari salah satu media yang memberitakan akan terjadi pertumpahan darah dan peperangan etnis, bunyinya seperti itulah di media. Saya ada membaca,” sebut Ketua DPRD Kabupaten Kotabaru, Syairi Mukhlis.
Baca Juga : Tempat yang Kedapatan Jual Miras Ilegal Disarankan Ditutup
Informasi yang diduga memprovokasi antara etnis Dayak dan Bugis di Kabupaten Kotabaru, disisipkan media online tersebut di tengah konflik sengketa lahan antara perusahaan dengan warga.
Syairi Muklis sangat menyayangkan perilaku penulis berita, yang dapat memecah belah persatuan antar suku.
“Padahal kan hari ini di Kotabaru kondisinya sangat kondusif. Nah kalau ini dibiarkan akan mengganggu kondusifitas di wilayah Kotabaru. Sementara hubungan antara Suku Dayak dan Suku Bugis di Kotabaru sangat baik,” tandasnya.
Seperti diketahui sengketa lahan memang terjadi antara Perusahaan Jhonlin Agro Jaya dengan warga di Kecamatan Hampang dan Kecamatan Kelumpang Hulu. Pemerintah mengharapkan agar tidak terprovokasi isu yang menyulut perpecahan.
“Kalau terkait masalah tanah dan lahan ini ada proses yang harus ditempuh. Kalau ada kesalahan terkait legalitasnya ini akan berproses secara aturan. Kalau ada hal yang kurang tepat, silahkan melalui jalur hukum, saya rasa seperti itu,” sebutnya.
Baca Juga : Jenazah Aminuddin Latif Diantar Ribuan Pelayat
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Umat Kepercayaan Kaharingan Indonesia, Sukirman angkat bicara menyangkut pencatutan namanya. Seperti diberitakan media online tersebut, bahwa ‘Sukirman mewanti-wanti perampasan lahan oleh JAR bisa memicu konflik etnis antara Dayak dan Bugis’.
“Terimakasih atas ini saya bisa mengasih informasi tentang keberadaan kata-kata saya di media itu. Memang saya bicara di situ, tapi bicaranya bukan mengenai rasa untuk keetnisan itu. Tetapi kita mewanti-wanti supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya.
Ia menegaskan dalam pernyataannya di media massa tersebut, tak ada niatan untuk memprovokasi etnis antara Dayak dan Bugis. Dan dijaminnya, saat ini suasana di Kotabaru berlangsung kondusif.
“Sama-sama menjaga, kita berpegang kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI Harga Mati ! Kita jaga bersama itu,” tegasnya.
Baca Juga : Nyambi Cari Ikan saat Istirahat Bangun Rumah, Tukang Bangunan Tewas Kesetrum
Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Kalsel, Ahmad Alim Bachri mewakili etnis Bugis dalam pertemuan tersebut, berharap kerukunan antar suku tetap terjaga.
“Ternyata berita yang selama ini beredar tidak benar adanya, sehingga dengan demikian membuat lega kita semua, bahwa kerukunan antar etnis di Kalimantan Selatan insya Allah akan terjaga dengan baik,” sebutnya.
Dia juga berpesan dan mengajak antar etnis di Kalsel, agar tidak mudah untuk terprovokasi isu yang mengatasnamakan suku di tengah konflik agraria atau kepemilikan tanah. Seperti informasi yang keliru meresahkan warga di Kabupaten Kotabaru. (rizqon)
Editor : Akhmad
To Top