Dampak Persaingan Komoditas Minyak Nabati Dunia, Bisnis Kelapa Sawit Diselimuti Isu Negatif

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia. Bahkan ekspornya pun sampai ke seluruh penjuru dunia dan merupakan komoditas penghasil devisa ekspor terbesar bagi Indonesia.

Namun ironisnya capaian luar biasa dari sektor kelapa sawit tersebut masih diselimuti berbagai isu negatif. Baik dari dalam maupun pihak luar negeri.

Hal tersebut dikatakan Manager Kebun PT Citra Putra Kebun Asri (CPKA) Jorong Factory Eko Prianto pada saat kunjungan lapangan Partisipasi Media di kegiatan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), di perkebunan CPKA di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Kamis (11/11/2021).

“Isu serta tuduhan negatif terhadap sawit banyak yang berasal dari luar Indonesia dan umumnya tidak berdasarkan fakta objektif di lapangan. Beberapa isu ini diproduksi sebagai dampak dari persaingan dagang komoditas minyak nabati dunia,” katanya.

Padahal, kata dia, minyak Sawit lebih memiliki keunggulan komparatif dibandingkan minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, dan sebagainya.

Baca Juga : Banjarmasin Terdampak Luapan Air Sungai, Pemko Siapkan Apel Siaga

Baca Juga : Setubuhi Gadis 13 Tahun, Kakek Bejat di Tabalong Dipolisikan

Yang disayangkannya pula tanpa disadari beberapa kelompok masyarakat Indonesia turut berperan dalam mengamplifikasi isu negatif tersebut di dalam negeri. Seperti anggapan perkebunan industri sawit penyebab hilangnya hutan tropis, isu sawit sebagai penyebab kebakaran hutan isu minyak sawit tidak baik bagi kesehatan, isu penggunaan tenaga kerja anak di perkebunan sawit, dan bermacam isu negatif lainnya.

“Semuanya itu tanpa fakta padahal kecemburuan sosial belaka sebab Sawit yang memiliki keunggulan berlebih dan hanya bisa berproses dengan baik di Kawasan Indonesia dan sekitarnya,” katanya.

Dengan adanya kegiatan Kemitraan Insan Press untuk dapat menyebar luaskan informasi yang objektif tentang sektor perkebunan dan industry sawit BPDPKS. Dimana selama ini stigma negatif terhadap sawit teralienasi dari masyarakat yang justru mengkonsumsinya setiap hari.

“Ini sungguh sebuah paradoks hasil negeri sendiri yang memiliki manfaat begitu banyak, justru belum dipahami dan bahkan banyak dikritik oleh masyarakat dalam negeri sendiri. Dalam jangka panjang, isu-isu negatif ini akan merugikan perkebunan dan industri sawit nasional dan tentu akan berdampak pula bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (azka)

Editor : Akhmad