Menumbuhkan Humanisme Bersama Habiburrahman El-Shirazy, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta

Habiburrahman El-Shirazy. Sumber : Instagram.com/kangabik
Habiburrahman El-Shirazy. Sumber : Instagram.com/kangabi

Oleh : Mayvira Rista Afridha
Mahasiswi Universitas Airlangga
Fakultas Ilmu Budaya – Bahasa dan Sastra Inggris

Termasuk dalam kategori best-seller, novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang diterbitkan pada tahun 2003 ini memang menyampaikan banyak nilai moral untuk para pembacanya. Habiburrahman El-Shirazy, atau yang biasa disapa Kang Abik ini mencoba untuk menyampaikan pentingnya humanisme melalui karya-karyanya.

“Memanusiakan manusia lainnya”, kalimat ini merupakan pengertian sederhana dari humanisme yang pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Tujuan utama dari humanisme adalah membimbing manusia untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Kehadiran humanisme membawa kedamaian di kehidupan. Tanpa adanya humanisme, dunia mungkin saja hancur, manusia akan hanya peduli pada dirinya sendiri tanpa memiliki rasa kemanusiaan.

Dalam novel Ayat-Ayat Cinta, kita dapat menemukan beberapa scene dari tokohnya yang mencoba untuk menyampaikan bagaimana menerapkan humanisme dengan tolong-menolong sesama. Menolong tanpa melihat agama, suku, dan ras. Menolong apapun yang bisa dilakukan.

Hal itu merupakan cara menerapkan humanisme dalam kehidupan sehari-hari.
Tiga hal yang penting untuk diketahui dalam menumbuhkan dan menerapkan humanisme, yaitu: menolong, bantuan tidak selalu tentang materi, humanisme juga bisa diterapkan pada makhluk hidup lain selain manusia.

Banyak masyarakat Indonesia yang sudah menerapkan humanisme selama pandemi Covid-19 ini, pandemi yang banyak memberikan dampak pada semua sektor. Tidak sedikit masyarakat yang kesulitan ekonomi akibat hilangnya pekerjaan merupakan salah satu dampak yang dirasakan dalam sektor ekonomi.

Hal ini memunculkan banyaknya masyarakat atau komunitas sosial yang melakukan open donation untuk memberikan bantuan terhadap masyarakat yang membutuhkan, baik berupa sembako, uang, ataupun kebutuhan lain ini seakan-akan mencoba mengajarkan kita bagaimana adanya humanisme berperan besar terhadap kehidupan manusia. Dengan adanya bantuan-bantuan tersebut, banyak manusia yang akhirnya bisa melanjutkan roda kehidupan.

Apakah humanisme hanya dapat diterapkan dengan memberikan bantuan berupa materi? Jawabannya tentu saja tidak. Memberikan bantuan tidak selalu soal materi, tetapi dapat juga berupa tenaga, waktu, ataupun ilmu.

Kegiatan Komunitas 1000 Guru Kalsel. Sumber : instagram.com/tamiaditya

Ditemukannya banyak komunitas sosial di Indonesia yang beragam dengan fokus yang beragam, mulai dari komunitas yang menaungi tunawisma, bermain bersama dan mengembangkan bakat teman-teman disabilitas, hingga mengajar di pedalaman pun dapat kita temui di Indonesia. Komunitas-komunitas ini berusaha untuk merangkul semua elemen masyarakat agar bisa hidup bersama-sama dengan keadaan yang lebih baik.

Humanisme memiliki makna yang luas, humanisme tidak dapat diartikan hanya sesempit hubungan antara manusia dengan manusia. Humanisme juga dapat terjadi antara manusia dengan hewan. Street feeding, kegiatan memberi makan pada kucing-kucing liar yang ditemui di jalanan ini sudah cukup populer dilakukan dalam beberapa tahun kebelakangan ini. Melihat banyaknya pencinta kucing yang rela membawa makanan kucing di tasnya untuk diberikan pada kucing liar yang ditemui ini patut diapresiasi, mereka telah memberikan bukti bahwa dengan adanya humanisme, kita dapat membantu banyak nyawa.

Sebagai manusia, humanisme berada di tangan kita. Sebagai menusia, kita memiliki kekuatan untuk mewujudkan cita-cita utama dari humanisme. Mari kita lebih peduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan bersama-sama merubah dunia menjadi lebih baik lagi. (*)