BANJARMASIN, klikkalsel.com – Intrusi air laut mulai memengaruhi kualitas air baku di Banjarmasin. Fenomena yang terjadi akibat masuknya air laut ke aliran sungai ini menjadi perhatian serius PT Air Minum (PAM) Bandarmasih karena berpotensi memengaruhi proses produksi air bersih apabila kadar garam terus meningkat.
Saat ini, intrusi air laut diperkirakan telah mencampuri air sungai di Banjarmasin sekitar 15 persen. Meski demikian, kondisi tersebut masih berada pada batas aman dan belum mengganggu kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan bahwa kadar garam akibat intrusi air laut memang mengalami peningkatan. Namun, nilainya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan sebagai standar kelayakan air baku.
Ia menyampaikan, bahwa kandungan garam bisa dinyatakan berbahaya atau tidak layak konsumsi bila sudah mencapai 250 ppm.
Hal itu merujuk pada standar Kementerian Kesehatan, yakni kadar garam atau klorida maksimal 250ā300 ppm, atau nilai klorida 200 mg/L sebagai indikator awal.
āJika kadar telah melampaui ambang batas tersebut, air terasa asin dan tidak layak minum serta berbahaya bagi infrastruktur perpipaan,ā ucapnya.
Menurutnya, peningkatan kadar garam sangat dipengaruhi kondisi cuaca, terutama minimnya curah hujan yang menyebabkan debit air tawar dari hulu berkurang sehingga tekanan air laut semakin mudah masuk ke badan sungai.
āIa juga menyampaikan, potensi kenaikan kadar air laut bisa terjadi, jika tidak ada turun hujan. Per hari ini saja, kadar garam sudah mencapai 15 persen, besok bisa saja meningkat.ā
Skema Pencampuran Air Baku Jadi Antisipasi Utama
Baca Juga :Ā Jalan Ambles di Sungai Lulut Ganggu Pipa Air Bersih, PAM Bandarmasih Pastikan Distribusi Kembali Normal
Baca Juga :Ā WTP 26 Tahun Berturut-turut, PAM Bandarmasih Perkuat Transparansi dan Tingkatkan Pelayanan
Untuk menjaga kualitas air bersih yang diterima masyarakat, PAM Bandarmasih telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Strategi utama yang akan diterapkan apabila kadar garam terus meningkat adalah melakukan pencampuran (blending) air baku dari Sungai Tabuk dengan air baku yang berasal dari Sungai Martapura.
Skema ini dipilih karena air dari Sungai Tabuk memiliki karakteristik air tawar dengan tingkat salinitas yang lebih rendah. Dengan mencampurkan kedua sumber air tersebut, kadar garam pada air baku dapat ditekan sehingga tetap memenuhi standar pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi solusi untuk menjaga keberlangsungan produksi air bersih tanpa harus menghentikan operasional instalasi pengolahan air ketika intrusi air laut mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Antisipasi lain yang juga dilakukan adalah memaksimalkan sistem pompa dan jaringan perpipaan agar pasokan air baku dari Sungai Tabuk dapat dialirkan secara optimal menuju instalasi pengolahan.
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, PAM Bandarmasih mulai melakukan uji coba terhadap sistem tersebut guna memastikan seluruh infrastruktur dapat berfungsi maksimal apabila sewaktu-waktu diperlukan dalam kondisi darurat.
āKita telah mempersiapkan resiko besar jika kadar garam mencapai 250 ppm lebih. Hari ini kita mulai uji coba air baku dari Sungai Tabuk dipompa ke sini, sekaligus menguji perpipaan dan pompanya,ā ucapnya.
Melalui uji coba tersebut, PAM Bandarmasih ingin memastikan proses pengaliran air baku dari Sungai Tabuk dapat berlangsung lancar, baik dari sisi kapasitas pompa maupun kesiapan jaringan perpipaan.
“Dengan demikian, apabila kadar garam di Sungai Martapura terus meningkat akibat intrusi air laut, sistem pencampuran air baku dapat langsung dioperasikan tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya.(fachrul)
Editor: Amran





