BANJARMASIN, klikkalsel.com – Fenomena langka saat Matahari berada tepat di atas Ka’bah dimanfaatkan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kalsel untuk memastikan kembali akurasi arah kiblat. Pengukuran pun dilakukan di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Rabu (15/7/2026) sore.
Pengukuran dilakukan tepat pukul 17.27 Wita. Momen itu bertepatan dengan fenomena astronomi Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam, yakni saat posisi Matahari berada tepat di atas Ka’bah.
Momen tersebut dikenal sebagai waktu paling akurat untuk mengecek arah kiblat karena bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah berlawanan dengan posisi Ka’bah.
Kegiatan ini pun menarik perhatian masyarakat yang turut menyaksikan proses pengukuran secara langsung.
Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag Kalsel, Saribuddin, mengatakan kegiatan itu merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Agama yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
“Para penyuluh agama diminta mendampingi masyarakat untuk melakukan pengukuran arah kiblat pada momentum ini,” ujarnya.
Di Kalimantan Selatan, para penyuluh agama diterjunkan ke berbagai masjid, musala, hingga lokasi yang memerlukan pengecekan arah kiblat. Selain melakukan pengukuran, mereka juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara menentukan arah kiblat secara mandiri.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan Kanwil Kemenag Kalsel, arah kiblat di lokasi pengukuran dipastikan masih sesuai dan tidak mengalami perubahan.
Baca Juga : Bupati Tabalong Sambut Kepulangan Ratusan Jemaah Haji Kloter 19, Harapkan Menjadi Haji Mabrur
Baca Juga : Pemkab Kotabaru Gelar Pawai Gema Muharram 2025 M/ 1447 H
“Dari hasil pengukuran tadi tidak ada pergeseran. Masih sama,” sebutnya.
Ia menegaskan, anggapan bahwa arah kiblat dapat bergeser seiring waktu merupakan pemahaman yang keliru. Menurutnya, kesan tersebut umumnya muncul akibat posisi bangunan atau pemasangan lantai yang tidak benar-benar sejajar.
“Kadang-kadang orang mengira arah kiblat bergeser karena pemasangan keramik atau posisi bangunannya yang kurang presisi. Padahal arah kiblatnya tetap,” jelasnya.
Saribuddin berharap masyarakat dapat memanfaatkan fenomena Rashdul Kiblat sebagai sarana edukasi sekaligus kesempatan untuk memastikan kembali arah kiblat secara ilmiah.
Caranya pun cukup mudah. Masyarakat hanya perlu menyiapkan benda yang berdiri tegak di atas permukaan datar. Tepat pukul 17.27 Wita, bayangan yang terbentuk diamati, lalu ditarik garis dari ujung bayangan menuju pangkal benda.
Garis tersebut menunjukkan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, selama cuaca cerah dan sinar Matahari tidak tertutup awan.
Fenomena Rashdul Kiblat terjadi dua kali dalam setahun. Pada 2026, momen tersebut dapat dimanfaatkan pada 15 dan 16 Juli sebagai waktu terbaik untuk melakukan pengecekan arah kiblat secara mandiri. (rizqan)
Editor: Abadi





