BANJARMASIN, klikkalsel.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin yang kini menjadi rumah sakit rujukan terbesar di Kalimantan Selatan ternyata memiliki sejarah panjang yang bermula pada masa pendudukan Jepang.
Sejarawan Kalimantan Selatan Mansyur mengatakan, tepat pada September 1944, rumah sakit tersebut selesai dibangun dan mulai beroperasi dengan nama Minseibu Banjarmasin Byoin di kawasan Jalan Oelin atau kini Jalan Ahmad Yani.
“Keberadaan rumah sakit tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan layanan kesehatan di Banjarmasin, meski dibangun di tengah situasi perang yang serba sulit di masa itu,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
“Pada masa pendudukan Jepang, kondisi pelayanan kesehatan mengalami kemunduran akibat perang. Banyak fasilitas kesehatan dialihkan untuk kepentingan militer, obat-obatan sangat terbatas, bahkan rumah sakit mengalami kekurangan peralatan dan tempat tidur,” jelas Mansyur.
Sebelum berdiri di lokasi sekarang, rumah sakit umum berada di kawasan Fort Tatas. Pemerintah pendudukan Jepang kemudian memindahkan rumah sakit tersebut ke Jalan Oelin dan menyelesaikan pembangunannya pada September 1944.
Menurut Mansyur, sejumlah sumber sejarah, termasuk tulisan sejarawan Banjar Idwar Saleh (1981/1982), menyebut rumah sakit baru itu diberi nama Minseibu Banjarmasin Byoin. Penamaan Rumah Sakit Oelin sendiri berasal dari lokasi bangunannya yang berada di Jalan Oelin.
“Rumah sakit ini dibangun dengan ukuran yang cukup besar untuk ukuran zamannya dan menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat di Banjarmasin,” katanya.
Keberadaan rumah sakit tersebut juga diperkuat oleh dokumen NEFIS Interrogation Report No. 751 yang mencatat pembangunan Rumah Sakit Umum di Jalan Oelin telah selesai pada September 1944. Dalam laporan itu juga terdapat peta yang dibuat Allied Geographical Section pada 16 Januari 1945.
“Pada peta tersebut terdapat penanda ‘New Hospital’ di Jalan Oelin serta bangunan asrama perawat atau Nurses Quarter yang berada tepat di samping rumah sakit. Ini menjadi bukti kuat bahwa rumah sakit tersebut memang sudah beroperasi pada masa itu,” jelas Mansyur.

tahun 1950 hingga 1970 an. (Sumber: Bagian Arsip Rumah Sakit Ulin,
Banjarmasin/Mansyur)
Baca Juga : Bagian 1: Jejak Sejarah Rumah Sakit di Banjarmasin, Dari Fort Tatas hingga Berdirinya RSUD Ulin
Ia menambahkan, selama masa pendudukan Jepang, masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit harus lebih dahulu memperoleh izin dari kepala desa. Seluruh biaya pengobatan juga dikenakan pembayaran, meski besaran tarifnya tidak tercatat dalam arsip.
Di sisi lain, Jepang juga memanfaatkan berbagai fasilitas kesehatan untuk mendukung kepentingan perang. Seluruh rumah sakit berada di bawah pengawasan Eiseikyoku atau Dinas Kesehatan bentukan pemerintah militer Jepang.
Sementara dokter-dokter Belanda ditahan atau dipulangkan, sedangkan tenaga medis Indonesia tetap dilibatkan dalam pelayanan kesehatan.
“Rumah sakit lama di Fort Tatas juga sempat digunakan sebagai rumah sakit militer Jepang, sementara pelayanan kesehatan masyarakat dipindahkan ke rumah sakit baru di Jalan Oelin,” ujarnya.
Mansyur juga mengungkapkan, berdasarkan sejumlah sumber sejarah, pimpinan pertama Rumah Sakit Oelin adalah dr. Sutan Diapari Siregar.
Untuk mengatasi keterbatasan obat-obatan, pemerintah Jepang ketika itu memanfaatkan berbagai obat tradisional dan melakukan penelitian melalui perusahaan farmasi Jepang, Makassar Ken Kyoso Kabhushiki Kaisha yang memiliki laboratorium di kawasan Jalan Kalimantan, kini Jalan S. Parman, Banjarmasin.
Selain pembangunan Rumah Sakit Oelin, Jepang juga menyelesaikan proyek saluran air bersih Coeido yang sebelumnya belum rampung pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
“Meski pembangunan kota pada masa pendudukan Jepang sangat terbatas, penyelesaian saluran air Coeido dan pembangunan Rumah Sakit Oelin menjadi dua proyek infrastruktur penting yang meninggalkan jejak hingga sekarang,” tutur Mansyur.
Menurutnya, sejarah berdirinya rumah sakit tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan perkembangan pelayanan kesehatan di Kalimantan Selatan.
“Dari rumah sakit yang dibangun di tengah masa perang, kini RSUD Ulin telah berkembang menjadi rumah sakit rujukan utama dengan berbagai layanan kesehatan modern bagi masyarakat Kalimantan,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





