BANJARMASIN, klikkalsel.com – Perlawanan rakyat Banua terhadap kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19 tak hanya dipimpin tokoh besar seperti Pangeran Antasari, tetapi juga melibatkan sejumlah panglima lokal yang gigih bergerilya di berbagai wilayah.
Salah satunya adalah Haji Boejasin, yang jejak perjuangannya banyak tercatat dalam arsip kolonial.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, mengungkapkan bahwa Haji Boejasin menjadi salah satu figur penting dalam perlawanan di wilayah Tanah Laut dan sekitarnya pada kurun 1860–1864.
“Dalam sejumlah sumber arsip Belanda disebutkan, Haji Boejasin bersama Pembekel Mat Joesoep dan sejumlah pimpinan lokal menduduki benteng di Tabanio. Mereka diangkat oleh Pangeran Antasari untuk memimpin perlawanan di wilayah Tanah Laut,” ujar Mansyur, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, tokoh-tokoh yang disebut diangkat sebagai panglima benteng antara lain Kiaij Langlang, Djoeragan Idis, Orang Bugis Oewa Moesa, hingga Panghulu Hadji Doerachiman. Struktur kepemimpinan ini menunjukkan bahwa perlawanan telah terorganisir dengan baik.
Mansyur menjelaskan, pertempuran terus terjadi di berbagai titik strategis seperti Pelaihari, Bati-Bati, Tabanio, Satui, Maluka, Tambak Linik, Salingsing, Liang Anggang, Awang Bangkal hingga Tiwingan.
“Haji Boejasin dikenal menggunakan taktik gerilya. Ia menyerang secara diam-diam dan berpindah-pindah tempat. Ini yang membuat Belanda sangat kesulitan menangkapnya,” katanya.
Saking sulitnya ditangkap, pemerintah kolonial bahkan mengeluarkan sayembara dengan harga kepala Haji Boejasin sebesar 1.000 gulden.
“Jumlah yang sangat besar pada masa itu,” jelasnya.
Catatan dalam surat kabar Belanda Nederlandsche Staatscourant edisi 26 Februari 1863 juga menggambarkan dinamika perlawanan di wilayah Benoea Ampat (Margasari).
Baca Juga : Menyusuri Jejak Perjuangan Haji Boejasin dalam Perang Banjar 1859-1906 (Bagian 2)
Baca Juga : Menyusuri Jejak Perjuangan Haji Boejasin dalam Perang Banjar 1859-1906 (Bagian 1)
Disebutkan seorang tokoh bernama Pangeran Praboe melakukan pemberontakan dan kemudian bergabung dengan Haji Boejasin di wilayah Simpang Ampat.
Keterangan lain dari Meyners (1886) menyebutkan bahwa Antasari dan putra-putranya berada di Dusun Atas, sementara Amin Ullah di perbatasan timur Amuntai, Praboe Anom di Alayan dan Amandit bersama Demang Lehman.
Perlawanan di Riam Kanan dan Martapura disebut memiliki keterkaitan dengan gerakan Haji Boejasin di Tanah Laut.
“Ini menunjukkan jaringan perlawanan yang luas dan saling terhubung,” jelas Mansyur.
Selain menghadapi serangan gerilya, pasukan Belanda juga dilanda kesulitan internal. Pada Agustus dan September 1863, tentara Belanda di Tabanio dan Pelaihari dilaporkan banyak terserang penyakit beri-beri.
“Dalam dua minggu saja empat orang tewas dan sepuluh dievakuasi ke Banjarmasin. Sekitar 20 lainnya mengalami dampak ringan. Situasi ini tentu melemahkan kekuatan militer mereka,” ujar Mansyur.
Di tengah kondisi itu, Haji Boejasin terus berpindah lokasi persembunyian, dari Tanah Laut hingga Martapura. Ia diduga menetap sementara di Maluka pada Desember 1863, namun jejaknya tetap sulit dilacak mata-mata Belanda.
Baru pada awal Mei 1864, seorang pemimpin pasukan Belanda bernama Happe memperoleh informasi bahwa Haji Boejasin berada di antara Tambak Limik dan Oedjong Selingsing.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Belanda memperketat patroli. Pada 10 Mei 1864 dibentuk pasukan dari Tanah Laut dengan satu pemimpin dan 65 prajurit untuk mengawasi wilayah Tambak Limik, Tambak Balayang, dan Tambak Kayoe Batoe, serta berpatroli di Benkowang.
Baca Juga : Sejarah Panjang Lokasi Prostitusi “Bagau” Banjarmasin, Sempat Ada 600 PSK
Baca Juga : Bulan Ramadan dan Momentum Jihad dalam Sejarah Perjuangan Banjar
Di hari yang sama, pasukan tambahan dari Martapura juga diberangkatkan, terdiri dari satu perwira dan 30 prajurit. Satuan lain menyusul dengan satu perwira, 20 prajurit, tiga kuli, dan dua pemandu.
“Skala patroli ini menunjukkan betapa seriusnya Belanda memburu Haji Boejasin. Ia dianggap ancaman nyata bagi stabilitas kolonial di Tanah Laut,” tegas Mansyur.
Ia menambahkan, perlawanan Haji Boejasin menjadi bagian penting dari rangkaian besar Perang Banjar yang berlangsung sejak 1859.
“Meski namanya tak sepopuler Pangeran Antasari, peran Haji Boejasin sangat signifikan. Ia simbol perlawanan rakyat lokal yang bergerak lincah, terorganisir, dan sulit dipatahkan,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





