Wihaji Terpilih Ketua Umum MKGR, Hasnuryadi: Beliau Sosok Pemimpin Militan Segudang Pengalaman

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Kalsel, Hasnuryadi Sulaiman menyambut baik atas terpilihanya Dr. H. Wihaji sebagai Ketua Umum MKGR periode 2026–2030, melalui Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) MKGR yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Terpilihnya Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut diyakni akan membawa era baru dalam sebauh organisasi MKGR.

Wihaji terpilih secara aklamasi menggantikan Adies Kadir yang mengundurkan diri setelah mendapat amanah sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).

Hasnuryadi juga menyebutkan, terpilihnya Wihaji menandai dimulainya babak baru kepemimpinan MKGR. Sebagai salah satu organisasi pendiri Partai Golkar, MKGR diharapkan semakin memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas kaderisasi, serta melahirkan kader-kader berkualitas yang mampu berkontribusi bagi Partai Golkar maupun pembangunan bangsa.

“Beliau adalah sosok pemimpin militan dan mempunyai segudang pengalaman. DPD MKGR Kalsel sangat meyakini akan ada terobosan baru dipundak Ketum MKGR, Wihaji,” ungkap Hasnuryadi Sulaiman.

Wakil Gubernur Kalsel ini menambahkan, Wihaji menawarkan perpaduan yang relatif jarang ditemukan dalam lanskap politik Indonesia saat ini. Ia merupakan seorang santri yang tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam, sekaligus seorang teknokrat yang memahami bagaimana organisasi dan pemerintahan bekerja berdasarkan sistem, perencanaan, dan ukuran kinerja.

Latar belakang akademiknya menjadi salah satu kekuatan yang patut dicermati. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Ngrombo 2 Plupuh Sragen, lalu ke MTs-N Plupuh dan Madrasah Aliyah Negeri 1 Surakarta. Tak berhenti di sana. Semangat menimba ilmunya menuntunnya untuk menapaki dunia universitas. Dan lagi-lagi, ia masuk dalam dunia pendidikan berbasis keagamaan. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga.

Pendidikan tinggi yang ditempuh di STAIN Salatiga (sekarang UIN Salatiga) ini, membentuk fondasi intelektualnya yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga pada tradisi berpikir kritis, moderat, dan dialogis.

Baca Juga : Ketua Bidang Organisasi PMI Pusat: Muskot PMI Kota Banjarmasin Sah Sesuai Syarat Hukum dan Legalitasnya

Baca Juga : Bagian 1: Jejak Sejarah Rumah Sakit di Banjarmasin, Dari Fort Tatas hingga Berdirinya RSUD Ulin

Tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam telah lama dikenal melahirkan intelektual yang mampu memadukan nilai-nilai keagamaan dengan dinamika kehidupan kebangsaan. Bisa kita sebut di sini pemikir Islam seperti Nurcholish Majid, Ahmad Wahib, Azyumardi Azra, Dawam Rahardjo, Komarudin Hidayat adalah mereka-mereka yang lahir dan muncul dari kancah pemikiran dunia kampus berbasis keagamaan/IAIN.

Selain itu ujar Hasnuryadi Sulaiman, dalam dunia organisasi modern, pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman praktis. Ia juga dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan, memahami kompleksitas persoalan, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional. Pendidikan akademik memberikan bekal penting untuk memenuhi tuntutan tersebut.

“Dari sinilah kami yakin sosok Wihaji bisa membawa perubahan di tubuh MKGR sebagaimana yang disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyambut baik pencalonan Wihaji sebagai Ketua Umum DPP Ormas MKGR. Menurutnya, Wihaji merupakan sosok yang memiliki kapasitas dan pengalaman untuk membawa MKGR semakin maju sekaligus memperkuat peran organisasi dalam mencetak kader-kader berkualitas.

“Sangat tepat kalau salah satu calon Ketua Umum MKGR ke depan adalah Pak Wihaji. Saya kenal betul Pak Wihaji sejak kami masih muda, sama-sama susah,” ujar Bahlil.

Bahlil meyakini kepemimpinan Wihaji akan membawa MKGR semakin berkembang dan mampu menjawab berbagai tantangan organisasi di masa mendatang. “Saya sudah kenal lama sama Pak Wihaji. Punya kemampuan dan kapasitas yang mumpuni untuk insyaallah membawa MKGR jauh lebih baik,” ucapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Adies Kadir yang dinilai berhasil memimpin MKGR selama ini. Menurut Bahlil, pergantian kepemimpinan harus menjadi momentum untuk melanjutkan transformasi organisasi. “Seorang pemimpin harus bisa lebih baik dari pendahulunya. Itulah yang disebut transformasi dan regenerasi,” kata Bahlil.(restu)

Editor: Amran