Lomba Motif Sasirangan Meriahkan 500 Tahun Banjarmasin, Pengrajin Baru hingga Jawara Lama Adu Kreatif

Pembukaan Lomba Motif Sasirangan dalam rangka Harjad ke-500 Kota Banjarmasin

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Semarak Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin terus bergulir. Kali ini, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Banjarmasin menggelar Lomba Desain Motif Sasirangan (LDMS) Tahun 2026 bertema “Melestarikan Budaya Maharagu Warisan Sasirangan di 500 Tahun Banjarmasin Maju Sejahtera”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Rumah Kemasan Disperdagin Kota Banjarmasin itu dibuka langsung Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin didampingi Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani. Hadir pula Plt Kepala Disperdagin Kota Banjarmasin Noorsyahdi, dewan juri, hingga para pegiat sasirangan.

Lomba ini menjadi salah satu rangkaian perayaan 500 tahun Kota Banjarmasin sekaligus upaya menjaga eksistensi kain sasirangan sebagai warisan budaya khas Banjar agar terus berkembang di tengah modernisasi.

Puluhan peserta dari berbagai kalangan menampilkan karya terbaik mereka. Mulai dari pengrajin pemula hingga para juara lomba tahun-tahun sebelumnya ikut bersaing menghadirkan desain motif sasirangan yang sarat filosofi dan identitas budaya Banjar.

Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Hj Neli Listriani mengatakan, pada tahun ini lomba dibagi menjadi dua kategori, yakni reguler dan best of the best.

“Ini dalam rangka 500 tahun Kota Banjarmasin, kami mengadakan lomba desain motif sasirangan dengan dua kategori, yaitu reguler dan best of the best,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kategori best of the best sengaja dihadirkan untuk mempertemukan kembali para pemenang utama lomba sasirangan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau sebelumnya biasanya hanya reguler saja, sekarang ada best of the best karena sudah banyak pemenang juara utama tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.

Baca Juga : Buka Lomba Desain Motif Sasirangan 2026, Wali Kota Banjarmasin Dorong Sasirangan Ekspor dan Sampah Diolah

Baca Juga : Sambut 500 Tahun Kota Banjarmasin, LDMS 2026 Disiapkan Jadi Panggung Besar Ekonomi Kreatif Sasirangan

“Jadi pada momentum 500 tahun ini, sesama pemenang kami lombakan kembali untuk mencari motif yang memang terbaik dari yang terbaik,” sambungnya.

Menurutnya, momentum 500 tahun Kota Banjarmasin harus menjadi ruang lahirnya motif-motif sasirangan yang lebih berkualitas tanpa meninggalkan akar budaya aslinya.

“500 tahun bukan perjalanan yang singkat tentunya, usia 500 tahun Banjarmasin ini, kami ingin memiliki motif yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, namun tetap tidak meninggalkan budaya asal munculnya sasirangan,” jelasnya.

Sementara kategori reguler dibuka untuk memberikan ruang kepada pengrajin baru agar dapat menunjukkan kreativitas dan inovasi mereka di dunia sasirangan.

“Untuk reguler, pengrajin-pengrajin baru bisa ikut berpartisipasi. Jadi kami berharap akan muncul karya-karya baru melalui lomba ini,” terangnya.

Dalam proses penilaian, peserta tidak hanya dinilai dari sisi visual desain semata. Filosofi, makna motif, pemilihan warna hingga keterkaitan dengan tema 500 tahun Kota Banjarmasin juga menjadi poin penting penilaian.

“Kami mengundang budayawan, ahli sejarah, dan desainer sebagai dewan juri. Pengrajin juga harus bisa menjelaskan filosofi kain yang dibuat, alasan pemilihan warna, hingga penempatan motif pada pakaian,” paparnya.

Ia menambahkan, peserta diperbolehkan mengembangkan motif sasirangan secara kreatif, namun tetap mengacu pada motif dasar sasirangan khas Banjar.

“Boleh dikreasikan, tetapi tetap harus bisa menjelaskan maknanya. Sasirangan memiliki 13 motif dasar seperti gagatas, gigi haruan, dan lainnya. Itu bisa dikolaborasikan dan dikaitkan dengan tema 500 tahun Kota Banjarmasin,” ungkapnya.

Menurut Neli, sasirangan bukan sekadar kain tradisional, melainkan bagian dari sejarah panjang budaya Banjar yang harus terus dijaga keberadaannya.

“Dulu sasirangan digunakan untuk pengobatan dan hanya dipakai kalangan kesultanan. Sekarang semua masyarakat bisa menggunakan sasirangan, tetapi jangan sampai meninggalkan motif dasar dan nilai budayanya,” tandasnya.(fachrul)

Editor: Amran