Memory Ford, Mobil Pertama di Banjarmasin Jadi Simbol Modernisasi Era Kolonial

Pasca tahun 1926, muncul booming pembelian mobil ford oleh para saudagar karet di Banjarmasin (sumber:KITLV/Mansyur)

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Kehadiran mobil di Banjarmasin pada awal abad ke-20 menjadi penanda perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Banjar. Kendaraan bermotor yang kala itu hanya dimiliki kalangan tertentu, perlahan berkembang menjadi simbol status sosial dan modernisasi di tengah era kolonial Hindia-Belanda.

Penulis dan pemerhati sejarah Banjar, Mansyur, mengungkapkan bahwa mobil mulai dikenal luas oleh masyarakat pribumi di Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Saat itu, berbagai produsen mobil asal Amerika dan Eropa mulai memasarkan produknya ke kawasan Asia, termasuk Hindia-Belanda.

“Produsen mobil besar seperti Benz, Daimler, Fiat, Ford, dan Chevrolet mulai bersaing merebut pasar di Hindia-Belanda, termasuk wilayah Kalimantan Selatan,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Menurut Mansyur, perkembangan modernisasi di Banjarmasin mulai terasa pada dekade kedua abad ke-20. Selain hadirnya film bisu dan gramofon sebagai hiburan masyarakat kota, kendaraan bermotor juga mulai masuk ke wilayah Borneo bagian selatan.

Ia menjelaskan, salah satu perusahaan importir mobil yang cukup terkenal saat itu adalah R.S Stockvis & Zonnen Ltd, yang memudahkan masyarakat Hindia-Belanda membeli kendaraan pribadi.

“Melalui jasa importir tersebut, mobil mulai dimiliki kalangan pribumi, meski hanya orang-orang kaya dan bangsawan yang mampu membelinya,” katanya.

Baca Juga : Sejarah Rumah Banjar Museum Wasaka, Monumen Cinta Juragan Intan Untuk Sang Anak

Baca Juga : Sejarah Kelam Pelacuran di Banjarmasin Era 1960-an

Di Kalimantan Selatan, mobil pertama disebut dimiliki oleh seorang saudagar karet Banjar bernama Pangeran Abdul Majid Kasuma. Ia merupakan putra dari Pangeran Arga Kasuma dan dikenal sebagai pengusaha kaya yang memiliki perkebunan karet di wilayah Pulau Gagah Lurus, yang kini dikenal sebagai kawasan Bincau, Martapura.

Mobil milik Pangeran Abdul Majid bermerek Ford dan dibeli sekitar tahun 1926. Pada masa itu, kendaraan Ford dipasarkan di wilayah Borneo oleh Ford Motor Company of Malaya Limited.

“Keberadaan mobil Ford milik Pangeran Abdul Majid menjadi tonggak awal hadirnya kendaraan pribadi di kalangan masyarakat Banjar,” jelas Mansyur.

Ia menambahkan, booming perdagangan karet pada era 1920-an membuat para saudagar di wilayah Hulu Sungai mulai ramai membeli mobil mewah. Tingginya keuntungan dari bisnis karet, bahkan disebut mencapai 40 persen, membuat para saudagar mampu mengganti kendaraan mereka dengan merek yang lebih mahal.

Fenomena tersebut juga memunculkan gaya hidup baru di kalangan saudagar Banjar yang mulai meniru kehidupan orang Eropa atau disebut “kebelanda-belandaan”. Mereka bahkan mendapat julukan his master’s voice atau “suara majikan”.

“Mobil pada masa itu bukan hanya alat transportasi, tetapi simbol kekuasaan, kemewahan, dan status sosial,” ujar Mansyur.

Saat itu, rakyat biasa hanya bisa menyaksikan mobil-mobil milik orang Eropa dan bangsawan pribumi melintas di jalan raya. Bunyi klakson kendaraan yang keras pun menjadi ciri khas tersendiri, bahkan dipercaya sebagai simbol kekuasaan pemilik mobil.

“Sejak itulah, mobil mulai menjadi bagian dari wajah modernisasi masyarakat Banjar dan menandai perubahan sosial di Kalimantan Selatan pada masa kolonial,” pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi