Itik Alabio Jadi Andalan, Pemprov Kalsel Kembangkan Agribisnis Terintegrasi

Program SITI HAWA LARI berkembang pesat dengan terbentuknya 803 klaster budidaya itik dan populasi lebih dari 3,1 juta ekor. Produksinya mencapai 2.098 ton daging itik dan lebih dari 25 ribu ton telur.

BANJARBARU, klikkalsel.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) terus memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pengembangan peternakan itik, dengan menjadikan itik alabio sebagai komoditas unggulan daerah. Upaya ini diwujudkan melalui inovasi Sistem Integrasi Ternak Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering (SITI HAWA LARI).

Program tersebut tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis itik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi menerangkan itik alabio sebagai plasma nutfah atau sumber daya genetik) khas Banua memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Melalui program SITI HAWA LARI, kami tidak hanya meningkatkan populasi dan produksi itik, tetapi juga membangun sistem usaha peternakan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan,” tuturnya, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, pendekatan yang diterapkan mengusung model closed loop dengan memanfaatkan sumber daya pakan lokal di lahan rawa maupun lahan kering. Program ini juga melibatkan kelompok peternak secara swadaya melalui kemitraan terpadu.

Baca Juga : Dinsos Banjarmasin Siapkan Rehabilitasi 125 Rumah Tak Layak Huni di 2026

Baca Juga : Dorong Percepatan Fasilitas Pendukung Jalan Bypass Banjarmasin–Batulicin

Hingga saat ini, implementasi SITI HAWA LARI telah berkembang pesat dengan terbentuknya 803 klaster budidaya itik dan populasi mencapai lebih dari 3,1 juta ekor. Dari jumlah tersebut, produksi tercatat sebesar 2.098 ton daging itik dan lebih dari 25 ribu ton telur itik.

“Capaian ini menunjukkan program ini mampu memberikan nilai tambah bagi peternak, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus membuka lapangan kerja, termasuk bagi generasi muda yang mulai tertarik di sektor peternakan,” imbuh Suparmi.

Dia menambahkan, pengembangan itik alabio juga berperan dalam menjaga kelestarian plasma nutfah lokal serta mendukung stabilitas harga pangan, sehingga turut berkontribusi terhadap pengendalian inflasi daerah.

Ke depan, Pemprov Kalsel menargetkan pengembangan hingga 1.000 klaster serta mendorong keterlibatan sektor swasta melalui skema kemitraan dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), termasuk dari sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan.

“Kami ingin menjadikan SITI HAWA LARI sebagai model pengembangan agribisnis itik yang modern, inklusif, dan berkelanjutan, dengan dukungan multipihak sesuai semangat ‘Bekerja Bersama Merangkul Semua,” pungkasnya.

Melalui inovasi ini, Kalsel semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan itik alabio sekaligus salah satu penopang ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di Indonesia. (rizqan)

Editor: Abadi