Budaya

Yayasan Bina Banua Pandamai Berjuang Lestarikan Permainan Rakyat, salah satunya Bagasing

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Lajunya perkembangan modernisasi mengakibatkan banyak anak-anak tidak mengetahui sejumlah permainan rakyat atau olahraga tradisional, yang sehari-hari di permainkan pada masanya dan sulit dipisahkan dari keseharian warga Banua.

Nah, berjuang untuk menjaga kelestarian budaya permainan rakyat atau olahraga tradisional tersebut, Yayasan Bina Banua Pendamai pun dibentuk sejak 2017 lalu, pendirinya Siti Nursiah, berlokasi di Jalan Teluk Tiram Darat Gang Pendamai.

Organisasi itu kegiatan utamanya adalah untuk melestarikan budaya olahraga tradisional atau permainan rakyat, salah satunya Bagasing.

Siti Nursiah menjelaskan, permainan rakyat Bagasing ini berasal dari suku melayu dan Suku Banjar yang juga merupakan salah satu keturunannya.

“Jadi Begasing merupakan salah satu jenis olahraga tradisional yang terbuat dari kayu dan diukir membentuk kerucut di kedua ujungnya atau bulat. Lalu dimainkan dengan cara diputar menggunakan seutas tali kemudian dihempaskan atau melempar gasing lain yang sudah lebih dulu ke tanah sehingga berputar,” jelasnya, Sabtu (12/6/2021)

Ia mengungkapkan, permainan Begasing ini jaya pada masanya, bahkan sulit dipisahkan dari keseharian warga. Dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa masih meminati aneka permainan tradisional ini, yang sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

“Seperti permainan adu ketangkasan memutar gasing ini pun menjadi salah satu tontonan menarik bagi masyarakat sewaktu itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik. Gasing merupakan sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial). Sebuah gasing dibentuk dengan salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin.

“Kalau di Kalimantan Selatan (Kalsel) bahan untuk membuat gasing dari kayu kemuning, yang kuat dan keras, karena sudah sulit dicari diganti dengan kayu sawo yang sama sama Bagus, keras dan kuat,” ungkapnya.

“Kenapa harus kayu yang bagus dan kuat, karena dalam permainan gasing selain Belalandangan atau belawasan (paling lama berputar), juga begapukan (saling berbenturan) sehingga siapa yang paling kuat dan lama berputarnya itu menjadi pemenang dalam permainan Begasing,” tambahnya.

Sementara itu, tali penarik yang digunakan dalam permainan Begasing berdiameter sekitar 0,5 centimeter dengan panjang 2 sampai 7 meter.

“Dimana tali itu, dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari sang pemain. Gasing kemudian dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu sehingga tali yang melilitnya membuat gasing tersebut berputar,” jelasnya sambil memperagakan.

Siti Nursiah mengungkapkan, tali yang digunakan untuk gasing pada zaman dulu menggunakan serat dari daun nanas yang dipercaya membuat gasing berputar lebih lama dari biasanya 2-5 menit.

“Untuj 7 meter tali memerlukan 100 helai daun nanas yang di perut dengan beling, kemudian dianyam dan gasing bisa berputar sekitar 10 sampai 15 menit,” ungkapnya.

Selain itu, Siti Nursiah yang akrab disapa Bunda menceritakan tentang nilai dan filosofi bermain Begasing yang dilakukan di tempat terbuka (lapangan terbuka). Artinya dalam kehidupan ialah keterbukaan.

“Kemudian di Kalsel terdapat dua jenis gasing dalam permainan Bagasing yaitu gasing laki seperti buah apel yang besar sedangkan gasing bini bentuknya seperti buah rambai lebih halus daripada gasing laki,” jelasnya.

Ia menilai, filosofi dari gasing itu seperti kehidupan, layaknya perempuan harus cantik dan menarik digambarkan dengan gasing bini yang lebih lama berputar. Sedangkan gasing laki seperti laki laki yang kuat dan kokoh, seperti gasing laki dipermainkan saat begapukan dan bagaimana caranya bersatu dalam bermain gasing.

Ibaratnya, kata dia, dalam permainan tersebut, seperti untuk mencapai tujuan laki-laki dan perempuan tidak bisa dipisahkan. Layaknya perempuan harus cantik dan kodratnya laki-laki harus gagah dan dapat melindungi.

“Kalau menurut saya dinilai Pancasila yaitu kesatuan dan persatuan, serta tentang kesetaraan gender tidak ada perbedaan baik laki-laki dan perempuan,” pungkasnya. (airlangga)

Editor : Akhmad

To Top