Tingkatkan Mutu Pelayanan, Banjarmasin-Jepang Kerjasama

Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina, yang didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, H M Yamin dan Hj Ananda Saat melakukan Kunjungan Kerja ke Kaikoukai Healthcare, Nagoya, Jepang (foto: istimewa)
BANJARMASIN, klikkalsel.com – Pemko Banjarmasin mulai melakukan penjajakan kerjasama dengan Kaikoukai Healthcare, Nagoya, Jepang guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Kerjasama tersebut tidak hanya mencakup peningkatan mutu pelayanan kesehatan saja, tetapi juga mencakup soal kemungkinan adanya kerjasama dalam bidang pelatihan tenaga medis.
Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina dalam kunjungannya ke Kaikoukai Healthcare, Nagoya, Jepang, mengatakan, bahwa Pemko Banjarmasin akan siap mengirimkan karyawan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Suriansyah untuk mengikuti berbagai workshop dan pelatihan, agar meningkatkan mutu pelayan kesehatan di Banjarmasin nantinya.
“Pemko Banjarmasin siap bekerjasama untuk peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit Sultan Suriansyah dengan mengirimkan karyawan mengikuti workshop atau magang, dan mengikuti pelatihan lainnya,” ujarnya.
ia juga mengatakan bahwa Rumah Sakit Kaikoukai, di Nagoya, Jepang, dikenal sebagai rumah sakit terbaik yang memiliki teknologi hemodialisa (cuci darah).
Lawatan kerja ke Nagoya, Jepang tersebut, Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina bersama dengan Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin H M Yamin dan Hj Ananda itu, dilaksanakan dari tanggal 11 hingga 15 Februari 2020. Dan disambut CEO Kaikoukai Healthcare Corporation Nagoya, dr Hirohisa Kawahara MD, dan Prof Dr Tetsuya Yamada, di Nagoya Kyoritsu Hospital.
Tak hanya Healthcare, Nagoya, di Jepang yang mereka sambangi, tetapi ada beberapa rumah sakit lainnya yang mereka kunjungi, diantaranya Josai Hospital Nagoya.
Josai bisa dibilang rumah sakit yang memiliki fasilitas pelayanan unik yakni, mereka memiliki pelayanan khusus Lansia (Elderly Health Care Hospital dan Kaikoukai Rehabilitation Hospital).
Keunikan lain yang dimiliki rumah sakit ini adalah, dirancang melayani pasien hingga akhir hayatnya.
Makanya jangan heran bila ada pasiennya yang menjalani rawat inap sampai 3 tahun lamanya. Selain itu di rumah sakit tersebut terdapat panti jompo yang dirancang dengan berbagai aktivitas bersama lansia dengan berbagai keterampilan.
Sedangkan untuk biaya kesehatan masyarakat di Jepang, menurut Ibnu Sina, hal itu sudah ditanggung oleh pemerintah, Hampir sama Halnya seperti BPJS di Indonesia, dan bisa digunakan di rumah sakit pemerintah atau swasta.
Begitu pula dengan biaya cuci darah atau hemodialisa. Bagi masyarakat yang memerlukan pelayanan ini, maka biayanya akan ditanggung pemerintah yakni sebanyak 3 kali perawatan dalam sepekan, dengan nominal Rp3 juta per sekali cuci darah.
Ibnu Sina juga menyampaikan bahwa di Jepang, saat ini tercatat ada 10.000 dokter spesialis Rehabilitasi Medik (RM) yang 2.500 diantaranya merupakan sub spesialis RM.
“Kunci keberhasilan RM bukan di alat tetapi mentalitas melayani pasien supaya bisa beraktivitas kembali di rumah,” pungkasnya.(fachrul)
Editor : Amran