Siswa Pelaku Penusukan di SMA Negeri Favorit Banjarmasin di Vonis 1 Tahun Pembinaan dalam Lembaga Rehabilitasi

Majelis Hakim PN Banjarmasin saat membacakan putusan atas kasus penusukan antar anak di SMAN Banjarmasin

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Sidang atas perkara dugaan perundungan hingga berujung penusukan antar anak di bawah umur di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Banjarmasin telah hampir memasuki babak akhir atau telah memasuki agenda putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kamis (30/5/2024).

Dalam persidangan tersebut, majelis hakim dipimpin Aris Dedy dari PN Banjarmasin memutuskan atau menyatakan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) berinisial ARR (16) terbukti secara sadar dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana kekerasan fisik yang mengakibatkan luka berat terhadap korban MRN (16).

“Sebagaimana dakwaan alternatif pertama,” kata Hakim.

Yaitu, pasal 80 ayat (2) UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014, yakni penganiayaan yang mengakibatkan luka berat terhadap korban, dan KUHP Pasal 355 tentang penganiayaan berat dan Pasal 353 tentang penganiayaan berencana.

Kemudian, majelis hakim juga memutuskan untuk menjatuhkan pidana kepada ABH, “Dengan pidana pembinaan dalam lembaga selama satu tahun di lembaga panti perlindungan dan rehabilitasi sosial anak dan remaja Mulia Satria di Landasan Ulin Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Baca Juga Sidang Putusan Penusukan Siswa SMA Favorit di Banjarmasin Ditunda

Baca Juga Polisi Amankan Pelaku Penusukan di Komplek Abri Jalan Rosila Banjarmasin Gegara Adu Mulut

Lebih lanjut, majelis hakim juga menerima permintaan JPU terkait adanya restitusi atas perbuatan ABH kepada korban. Namun hanya sebagiannya saja dari yang diajukan korban.

“Dibebankan kepada orangtua anak untuk membayar restitusi, sejumlah Rp79.878.000,” kata hakim.

Serta menyerahkan beberapa barang bukti anak yang sempat di bawa didalam persidangan.

Usai membacakan putusan, majelis hakim memberikan kesempatan kepada pihak korban maupun ABH yang untuk memberikan tanggapan atas putusan majelis hakim selama tujuh hari kedepan sebelum ingkrah atau berkekuatan hukum tetap.

Dalam kesempatan itu, terpantau kedua pihak menghormati keputusan mejalis hakim dan meminta untuk pikir – pikir sebelum memberikan tanggapan atas putusan hakim.

Diketahui, sidang dugaan perundungan anak hingga berujung dengan penusukan atau penganiayaan ini telah memasuki agenda putusan yang dipimpin hakim Aris Dedy di Pengadilan Negeri Banjarmasin.

Sebagaimana diketahui bahwa terdakwa adalah ABH, yang juga merupakan satu sekolah dengan korban.

Bahkan, sebelumnya, pada Selasa (30/4/2024), JPU dari Kejari Banjarmasin menuntut hukuman 2,5 tahun penjara terhadap terdakwa.

Hal ini berdasarkan dakwaan pada Pasal 80 ayat (2) UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014, yakni penganiayaan yang mengakibatkan luka berat terhadap korban, dan KUHP Pasal 355 tentang penganiayaan berat dan Pasal 353 tentang penganiayaan berencana.

Kemudian, JPU juga menuntut terdakwa untuk membayar ganti rugi (restitusi) atas perbuatannya kepada korban. Yaitu sebesar Rp 277 juta.

Nilai itu (ganti rugi) sesuai dengan keterangan yang disampaikan pihak LPSK, kepada pihak kejaksaan. (airlangga)

Editor: Abadi