Mengayomi Masyarakat Hingga Mengajari Mengaji

Aipda Budiannnor kala mengajarkan terkait tanda baca atau tajwid Al Qur'an kepada para murid di Rumag Iqra. (foto : rizqon/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel – Kewajiban seorang polisi adalah melindungi, mengayomi masyarakat. Berprofisi sebagai polisi juga tidak lepas dari pengabdian.

Kali ini, pengabdian dari seoramg polisi berpangkat Aipda dari Polsek Banjarmasin Timur, melalui ilmunya untuk mengakarkan kepada anak-anak untuk membaca Al-Quran.

Disela tugasnya sebagai abdi negara, Aipda Budiannoor yang bekerja di unit Bhabinkamtibmas Kelurahan Sungai Lulut, mengajarkan anak membaca Al-Quran di Komplek Rahayu Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.

Melalui profesi itu, ia menuangkan wujud pengabdiannya terhadap masyarakat, khususnya melalui pendidikan keagamaan baca dan tulis Al Qur’an.

Berlokasi Kantor Bhabinkamtibmas Kelurahan Sungai Lulut, Jalan Rahayu Komplek Pembina III, Banjarmasin Timur dimanfaatkan Budi untuk wadah mengajar dan belajar.

Ada 20 lebih anak-anak setempat rutin belajar baca tulis Al Qur’an, setiap Senin sampai dengan Kamis, waktu sore. Bagi Aipda Budiannoor ada kesan tersendiri yang terasa, kala melihat para anak-anak tersebut berkumpul dan belajar Al Qur’an di Rumah Iqro dari Rumah Kantor dinasnya tersebut.

“Awalnya saya melihat anak-anak di daerah ini, lalu dapat ide dari atasan saya untuk mendirikan Rumah Iqro di lingkungan RT 23 Kelurahan Sungai Lulut,” tutur Budi kepada klikkalsel.com.

Menurutnya, melalui kegiatan Rumah Iqra tersebut dapat mempermudah pekerjaannya sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Sungai Lulut, dan mendekatkan diri dengan masyarakat. Meski demikian, ia perlu ekstra membagi waktu antara tugas pokok polisi dan guru mengaji.

Terkadang, Budi sendiri tetap mengenakan seragam dinas polisi. Kala ia mengajar mengaji di Rumah Iqra tersebut.

Selama kurang lebih tiga tahun berlangsung, banyak kesan bagi Aipda Budiannoor dalam menjalankan Rumah Iqra dan menjadi pengajar bagi anak-anak. Meski, menurutnya perlu cara khusus dalam mendidikan anak-anak tanpa harus menimbulkan rasa takut.

“Ada cara mengikuti karakter anak itu dan kita harus sabar, supaya si anak senang dengan kita sebagai pengajarnya,” terangnya.

Suka duka pun diakuinya terbayarkan, saat melihat beberapa yang telah bisa membaca dan menghatamkan al Qur’an. Bagi Budi melalui profesi sebagai alasan, tidak ada alasan untuk mengabdi kepada masyarakat.

“Bagi saya sendiri ada rasa bahagia, karena beberapa orang sudah bisa membaca al Qur’an dan menghatamkan,” pungasnya. (rizqon)

Editor : Amran