Majelis Hakim Putuskan pemeriksaan Perkara Bos PT Travelindo Dilanjutkan

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Kasus dugaan penipuan uang jamaah haji dan umroh yang melibatkan Pimpinan PT Travellindo Lusiyana digelar di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kamis (15/7/2021).

Pantauan klikkalsel.com sidang tersebut dipimpin Majelis Hakim Moch Yuli Hadi didampingi dua Hakim anggota, beserta Jaksa Penuntut Umum (JPU), Radityo dan Penasehat Hukum terdakwa, Supriadi, yaitu Isai Panantulu.

Sedangkan terdakwa yang berada di tahanan Lapas Kelas IIA Banjarmasin hanya dapat mengikuti sidang secara virtual.

Ketua Majelis Hakim, Moch Yuli Hadi didampingi dua hakim anggota membacakan putusan sela atas keberatan yang disampaikan oleh penasihat hukum terdakwa.

Dimana Majelis Hakim menolak keberatan tersebut dan memutuskan agar pemeriksaan atas perkara tetap dilanjutkan. Selanjutnya, sidang kembali akan digelar pada Senin (26/7/2021) mendatang.

JPU, Radityo mengatakan pada sidang selanjutnya, ia akan menghadirkan empat orang saksi termasuk saksi korban.

“Tahap awal kami hadirkan empat saksi termasuk saksi korban diperiksa di awal,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam dakwaannya, JPU menyampaikan bahwa terdakwa diduga melakukan penipuan yang menyebabkan kerugian sebesar Rp 800 juta.

Terdakwa dijerat dengan empat pasal, yaitu dua di antaranya terkait Undang-Undang Haji dan dua lainnya yaitu Pasal 378 dan Pasal 372 KUHP dengan rata-rata ancaman hukuman masing-masing empat tahun penjara.

Disamping itu, ia juga menyebut meski dalam persidangan diketahui sudah ada sejumlah uang yang dikembalikan terdakwa kepada pelapor dan juga jaminan berupa rumah, namun hal itu menurutnya akan dilihat oleh Majelis Hakim dalam proses persidangan.

“Biar Majelis Hakim memutuskannya,” tuturnya.

Sementara itu, terkait keputusan tersebut, Penasihat Hukum terdakwa, Isai Panantulu mengatakan pihaknya menerima keputusan dari hakim tersebut.

Selain itu, ia juga sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk diajukan kepada saksi-saksi pelapor dalam sidang lanjutan nantinya.

“Kami akan kejar bagaimana terkait perjanjian, terkait kerugiannya, apakah sudah tepat. Apalagi ada dari pihak klien kami yang sudah membayar,” pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi