Lestarikan Produk Banjar, Hikmah Rela Dibayar Murah ‘Membuhul’ Kain Sasirangan

Hikmah saat menjahit jelujur dan meikat motif kain Sasirangan atau membuhul. (foto : azka/klikkalsel)

BANJARMASIN klikkalsel – Kain Sarirangan, merupakan kain bermotif yang merupakan khas Banjar proses pengerjaanya hingga selesai terkadang memakan waktu yang begitu lama.

Contoh seperti menjelujur atau menjahit mengikuti motif yang sudah digambar pada kain. Bagi pengrajin kain Sasirangan hal itu disebut ‘membuhul’. Proses meikat kain bagian dari menyirang ini dilakukan sebelum direndam ke pewarna.

Siapa menyangka, di balik harga Kain Sasirangan yang tinggi, ternyata upah yang diterima penerima jasa ‘membuhul’ itu begitu murah. Untuk selember kain, dengan terdapat 20 hingga 30 buhul upahnya hanya Rp500 saja.

Penerima upah membuhul, Hikmah, warga jalan DI Panjaitan Gang Tera Banjarmasin mengatakan, kain yang bakal diikat tersebut ia dapatkan dari para pengusaha sasirangan yang kebanyakan berada di kawasan Seberang Masjid.

“Mereka mengantar bahan kerumah saya setelah selesai diambil kembali untuk dilakukan pewarnaan,” katanya, Sabtu (6/9/2018).

Dalam sehari Hikmah mampu mengerjakan 50 lembar potong kain yang bakal dijadikan sasirangan tersebut dalam waktu sehari .

“Jika saya mengerjakan sejak pagi jam 9 mungkin akan selesai jam 4 sore dan menerima upah sebesar Rp25.000, ya lumayan untuk jajan anak-anak,” kata Ibu dua anak ini.

Ia tetap bersyukur dengan pekerjaan yang dilakukannya itu, meski satu potong kain Sasirangan dengan bahan katun tersebut setelah jadi akan beharga sekitar Rp100 ribu bahkan lebih. “Iya hitung turut mempertahankan dan melestarikan produk khas Banjar,” katanya. (azka)

Editor : Farid