Kemerdekaan dalam Perspektif Islam, UAS Banjar: Bebas Bukan Berarti Tanpa Tanggung Jawab

Ustadz Hasanuddin kerab disapa UAS Banjar

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk kembali merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Ustadz Hasanuddin atau kerabat dikenal dengan sebutan UAS Banjar menyampaikan, dalam pandangan Islam, kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga terbebas dari berbagai bentuk ketidakadilan, kebodohan, ketakutan, hingga kesulitan yang menghambat masyarakat untuk hidup sejahtera.

“Merdeka adalah kita tidak didikte oleh orang lain. Dulu kita didikte, ditunjuk-tunjuk ke kiri oleh Belanda dan Jepang. Sekarang Belanda sudah pulang, Jepang juga sudah pulang. Indonesia sudah merdeka,” ujarnya, (17/8/2026).

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia patut disyukuri karena tidak terlepas dari rahmat Allah SWT. Hal itu bahkan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyebut kemerdekaan terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Bebas dari penjajah sudah. Tetapi kita perlu lebih hebat lagi,” katanya.

Ia menilai, perjuangan setelah kemerdekaan adalah memastikan bangsa Indonesia mampu mengelola kekayaan alam untuk kepentingan masyarakat dan generasi mendatang.

“Kita harus bebas mengatur hasil alam kita untuk kita, supaya anak-anak kita tidak lagi memikirkan sekolah yang mahal, orang tua tidak kesulitan, dan masyarakat mendapatkan kesempatan pekerjaan,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masih terdapat persoalan sosial yang harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari akses pendidikan, lapangan pekerjaan hingga praktik korupsi.

“Mudah-mudahan kita merdeka dari kebodohan, merdeka dari uang sekolah yang mahal, merdeka dari praktik korupsi, dan merdeka dari tidak adanya kesempatan kerja,” ucapnya.

Baca Juga : Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT

Baca Juga : Pemko Banjarmasin Bagikan 7 Ribu Bendera Merah Putih, Yamin Minta Semarak Kemerdekaan Lebih Awal

Menurutnya, mengisi kemerdekaan bukan berarti saling menyalahkan atau mencela sesama anak bangsa. Sebaliknya, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan membangun Indonesia.

“Ini bukan ajang untuk cela-mencela kepada sesama anak bangsa. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

UAS Banjar juga mengaitkan makna kemerdekaan dengan pendidikan melalui kisah pada masa Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan, setelah Perang Badar, para tawanan diberikan kesempatan memperoleh kebebasan dengan mengajarkan kemampuan membaca dan menulis kepada anak-anak di Madinah yang belum pandai baca tulis.

“Bebas dan merdeka itu ketika kita memasukkan anak ke sekolah dalam keadaan ringan biaya. Anak-anak mendapatkan pendidikan,” jelasnya.

Ia menilai, kisah tersebut menunjukkan bahwa membebaskan manusia dari kebodohan merupakan bagian penting dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI hendaknya tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk bersyukur kepada Allah SWT sekaligus memperkuat komitmen membangun bangsa.

“Mengisi kemerdekaan dan memperingati 17 Agustus itu dengan syukur kepada Allah, karena kemerdekaan itu adalah rahmat Allah,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk melakukan introspeksi dengan mempertanyakan apakah kemerdekaan yang dirasakan saat ini sudah benar-benar membawa manusia terbebas dari berbagai ketakutan dan belenggu kehidupan.

“Sudah merdekakah kita dari rasa takut selain kepada Allah?” ujarnya.

UAS Banjar berharap semangat kemerdekaan terus diwujudkan melalui pendidikan yang mudah dijangkau, kesempatan kerja yang lebih luas, pemberantasan korupsi, pengelolaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat, serta kehidupan masyarakat yang lebih adil.

“Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya Indonesia lebih baik lagi,” pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi