BANJARMASIN, klikkalsel.com — Di balik operasi pencarian dan evakuasi korban dalam sebuah musibah seperti tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, terdapat sisi kemanusiaan sekaligus nilai keagamaan yang jarang terlihat.
Para personel Search and Rescue (SAR) yang terlibat dalam pencarian, mengevakuasi korban selamat maupun korban meninggal dunia, tidak hanya menjalankan tugas kemanusiaan. Dalam perspektif Islam, ikhtiar membantu korban musibah hingga mengantarkan jenazah juga merupakan bentuk tolong-menolong dalam kebaikan.
Ustadz Hasanuddin akrab disapa UAS Banjar menjelaskan, prinsip tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” ujarnya, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, operasi SAR dalam tragedi KM Virgo Transport 8 dapat menjadi salah satu bentuk nyata dari perintah tersebut, karena para petugas turun langsung membantu manusia yang sedang berada dalam kondisi musibah.
“Ketika saudara kita mendapatkan musibah, kemudian ada orang yang membantu, mencari, menyelamatkan dan mengevakuasi, ini termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan,” ujar UAS Banjar.
Terlebih, ketika operasi pencarian menemukan korban yang meninggal dunia, tugas tersebut berkaitan dengan kewajiban umat Islam dalam mengurus jenazah.
Ia menjelaskan, mengurus jenazah seorang muslim merupakan fardu kifayah. Artinya, kewajiban tersebut harus dilaksanakan oleh sebagian umat Islam sehingga kewajiban tersebut gugur dari yang lainnya.
“Jadi pahala mengurus jenazah itu besar karena hukumnya fardu kifayah. Tim SAR dalam hal ini mewakili umat Muslim dalam melaksanakan fardu kifayah, mencari jenazah saudara kita dan mengurusnya,” jelasnya.
UAS Banjar juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim yang menyampaikan. Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan darinya pada hari kiamat.
Baca Juga : Kemerdekaan dalam Perspektif Islam, UAS Banjar: Bebas Bukan Berarti Tanpa Tanggung Jawab
Menurutnya, hadis tersebut sangat relevan dengan kondisi keluarga korban KM Virgo Transport 8 yang menghadapi kesulitan dan ketidakpastian setelah musibah.
Ketika petugas SAR membantu mencari korban, mengevakuasi korban selamat maupun korban meninggal dunia, secara tidak langsung mereka juga membantu meringankan beban keluarga yang menunggu kepastian keberadaan anggota keluarganya.
“Hal tersebut diperkuat dengan hadis yang mengatakan, Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya,” jelasnya.
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Maka orang-orang yang membantu saudaranya yang sedang dalam kesusahan, insyaallah mendapatkan pertolongan dari Allah,” sambungnya.
Dalam konteks tragedi KM Virgo Transport 8, menurut UAS Banjar, perjuangan tim SAR menjadi bagian penting dari ikhtiar kemanusiaan. Mereka harus menghadapi kondisi laut dan medan pencarian untuk menemukan para penumpang yang menjadi korban.
Bagi keluarga korban, ditemukannya anggota keluarga dalam kondisi apa pun tetap memberikan kepastian yang sangat berarti. Sedangkan bagi korban meninggal dunia, evakuasi tersebut menjadi langkah awal untuk mendapatkan hak-haknya sebagai seorang muslim, termasuk proses pemulasaraan dan pemakaman.
Karena itu, UAS Banjar menilai masyarakat tidak hanya perlu melihat operasi SAR dari sisi tugas dan profesi, tetapi juga dari sisi pengabdian kepada sesama.
“Ini bukan hanya pekerjaan. Kalau diniatkan karena Allah untuk menolong saudara yang sedang mendapatkan musibah, insyaallah menjadi amal kebajikan. Apalagi ketika membantu mencari dan mengevakuasi jenazah, itu juga bagian dari pelaksanaan fardu kifayah,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






