Religi  

Salat Istisqa, Ikhtiar Umat Memohon Turunnya Hujan di Tengah Kemarau

Ustadz H Mohammad Mobarak
Ustadz H Mohammad Mobarak

BANJARMASIN, klikkalsel.com — Di tengah kondisi kemarau dan kekeringan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan ikhtiar, salah satunya dengan melaksanakan Salat Istisqa atau salat meminta hujan.

Ustadz Mohammad Mobarak menjelaskan, Shalat Istisqa merupakan salat sunnah muakkadah yang dianjurkan ketika suatu daerah mengalami kemarau panjang atau kekeringan. Salat ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT agar menurunkan hujan.

“Shalat Istisqa pada dasarnya dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan diminta ketika terjadi kemarau atau kekeringan,” ujar Ustadz Mohammad Mobarak saat dihubungi, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, pelaksanaan Shalat Istisqa dianjurkan dilakukan secara berjamaah di tempat terbuka, seperti lapangan. Sebelum pelaksanaan, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istighfar, berdoa, bersedekah dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Ustadz Mohammad Mobarak menjelaskan, secara umum tata cara Shalat Istisqa hampir menyerupai Shalat Id, yakni dilaksanakan sebanyak dua rakaat dan dilakukan secara berjamaah.

“Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami menyebut cara shalat istisqa dua rakaat serupa dengan shalat dua rakaat shalat Id. Hanya saja, cara shalat keduanya berbeda sedikit dalam hal penempatan khutbah, pembacaan takbir, dan arah khatib pada khutbah kedua. Selebihnya kedua shalat ini secara umum sama,” ujarnya.

Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, imam melakukan tujuh kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah dan surah. Setelah itu salat dilanjutkan seperti biasa hingga salam.

Baca Juga : Karhutla Ancam Permukiman, BPBD Banjarmasin Perkuat Penanganan di Wilayah Tetangga

Baca Juga : 14 Korban KM Virgo Dievakuasi dari Dalam Kapal, Tim Penyelam Lanjutkan Pencarian 97 Penumpang Kapal

Pada rakaat kedua, imam melakukan takbir lima kali setelah bangkit dari sujud sebelum membaca Al-Fatihah dan surah. Setelah seluruh rangkaian salat selesai, dilanjutkan dengan khutbah dan memperbanyak doa memohon hujan kepada Allah SWT.

Dalam khutbah tersebut, jamaah diajak memperbanyak istighfar, bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Imam juga memperbanyak doa agar hujan segera diturunkan dan menjadi rahmat bagi masyarakat.

“Khutbah setelah shalat lebih utama. Khatib beristighfar dalam khutbah sebagai pengganti takbir pada khutbah Id. Khatib berdoa dengan jahar (lantang), lalu menghadap kiblat setelah lewat sepertiga pada khutbah kedua,” jelasnya.

“Khatib dan jamaah memutar pakaian (selendang atau sorban) ketika itu. Pada saat itu, khatib meningkatkan kesungguhan berdoa sirr (rahasia) dan jahar (lantang), setelah itu ia kembali menghadap ke arah jamaah,” sambungnya.

Ustadz juga menjelaskan, Shalat Istisqa bukan sekadar meminta hujan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri.

“Paling penting adalah memperbanyak istighfar, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Karena musibah atau kekeringan hendaknya menjadi pengingat bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap melakukan ikhtiar menghadapi dampak kemarau, termasuk menjaga lingkungan, menghemat penggunaan air dan saling membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Dengan demikian, Shalat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam dalam menghadapi kemarau. Diiringi doa, istighfar dan usaha nyata, masyarakat berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan dan manfaat bagi kehidupan,” pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi