Religi

Iman Sempurna Jaga Adab Bertetangga

ADAB ISLAM – Etika bertetangga dalam ajaran Islam. (net)

DALAM dunia ada empat hal sumber kebahagian dunia, yakni istri dan suami sholeh; tempat tinggal yang luas; tunggangan yang lancar; tetangga yang baik.
Buruk tetangga timbulkan kerusakan.

Sebaliknya empat sumber kesusahan; tetangga yang buruk, istri yang tidak baik, kendaraan yang tidak menyenangkan, dan tempat tinggal yang sempit. HR. Al-Thabarani.

Tetangga termasuk salah satu sumber kebahagiaan, karena hidup rukun antar tetangga ukuran keimanan umat muslim dan menjadi amanah Nabi Muhammad SAW.

Ada dua yang dinamakan tetangga, pertama minimal jarak 100 buah rumah. Pendapat kedua tetangga yang sholat berjamaah di dalam satu kampung.

Para ulama membagi dalam tiga kelompok, yakni tetangga sama muslim yang karib keluarga kita, tetangga muslim yang bukan karib keluarga kita, dan tetangga non muslim .

Bila rajin sholat malam dan sholat wajib serta puasa sunah. Baiknya diikuti pula dengan sikap sopan dan ramah untuk menjaga kerukunan hidup bertetangga.

Sebagai seorang umat lslam jangan sampai bersikap sebaliknya, tidak memeliki adab atau etika bertetangga. Memusuhi, membuat resah, membikin onar, serta tindakan lain yang tidak memberikan rasa aman kepada tetangga.

Sehingga untuk mendpatkan keimanan sejati dan dianggap mu’min sempurna, sangat penting dalam menjaga akhlak bertetangga.

Beberapa hadist tentang pentingnya rukun bertetangga;

(1) Orang yang menyakiti tetangga tidak termasuk mu’min yang sempurna.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: Demi Allah Tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Ditanyakan kepada Rasul: “Siapa wahai Rasulallah? Beliau bersabda: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman karena gangguannya.” HR. Ahmad, Al-Bukhari.

(2) Orang yang tidak memberikan keamanan pada tetangga, tidak akan masuk surga. Rasul SAW bersabda:
Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena gangguannya. HR. Muslim.

(3). Berbuat dosa pada tetangga lebih berat hukumannya dibanding kepada yang lain. Rasul SAW tatkala berdialog dengan shahabatnya tentang berbagai macam dosa yang sangat berat hukumnya, bersabda:
Orang yang mencuri harta dari sepuluh rumah, masih lebih ringan hukumnya dibanding mencuri harta dari satu rumah tetangga. HR.Ahmad.

(4) tidak sempurna iman tanpa mencintai tetangga.

Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya; seseorang tidak termasuk mu’min sehingga menyayangi tetangganya atau saudaranya seperti menyayangi dirinya sendiri. HR. Muslim.

(5) tidak masuk surga yang menyakiti tetangga tidak akan masuk surga sehingga memberi ketenangan pada tetangganya. HR Muslim.

(6) Menyakiti tetangga hukumnya sama dengan menyakiti Rasul SAW. Barangsiapa yang menyakiti tetangganya berarti menyakiti diriku. Barangsiapa yang menyakiti diriku berarti manyakiti Allah.

Barangsiapa yang menyerang tetangga, berarti menyerangku. Barangsiapa yang menyerangku berarti menyerang Allah yang Maha Tinggi. HR. Al-Daylami

(7) persoalan krisis tetangga bakal didakwa paling pertama.
Orang bersengketa yang paling awal disidangkan pada hari kiamat adalah yang bertetangga. HR Ahmad.

(8) menyakiti tetangga merusak nilai shaum dan tahajjud seorang sahabat bertanya pada Rasul: ada orang yang shaum di siang hari, tahajud di malam hari, tapi suka menyakiti tetangga, bagaimana wahai Rasul? Rasul SAW bersabda: dia masuk neraka. HR. Al-Bukhari dan Al-Hakim.

(9) menelantarkan tetangga merusak iman tidak termasuk iman pada-Ku orang yang tidur di malam hari dalam keadaan kenyang padahal tetangganya dalam keadaan lapar di dekatnya padahal dia mengetahuinya. HR. Al-Thabar

Sumber : Tausiah Subuh Ustad Rahman Fauzan di Masjid Al Jihad Cempaka.
Penulis : H Sukhrowardi
Editor : Farid

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top