Harga Telur dan Ayam Anjlok di Kalsel, DPRD Soroti Pasokan dari Jawa

Anggota Komisi II DPRD Kalsel, H Jahrian
Anggota Komisi II DPRD Kalsel, H Jahrian

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Harga telur dan daging ayam yang anjlok di pasaran Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menjadi sorotan DPRD Kalsel.

Anjloknya harga disebut terjadi di tengah membanjirnya pasokan dari Pulau Jawa, sementara peternak lokal masih harus menghadapi tingginya biaya pakan.

Kondisi ini dinilai membuat peternak lokal berada dalam posisi sulit. Harga jual turun, tetapi biaya produksi tidak ikut turun.

Anggota Komisi II DPRD Kalsel dari Fraksi NasDem, H Jahriah, mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian serius pihaknya.

Menurut Jahriah, salah satu pemicu turunnya harga adalah masuknya telur dan daging ayam dari Pulau Jawa dalam jumlah besar.

“Turunnya harga telur dan daging ayam di Kalsel, salah satunya karena barang masuk dari Pulau Jawa sangat membludak, melebihi kebutuhan kita,” ujar Jahriah saat ditemui, Selasa (1/9/2026).

Namun, Jahriah menegaskan DPRD tidak bisa serta-merta meminta pemerintah menghentikan pasokan dari luar daerah.

Pasalnya, perdagangan antardaerah maupun antarprovinsi memiliki aturan yang harus dipatuhi. “Kalau kita menyetop pemasukan barang dari luar, menurut peraturan perundang-undangan itu tidak benar. Tidak boleh,” tegasnya.

Meski demikian, menurut dia, masih ada ruang bagi pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap barang yang masuk ke Kalsel.

Mulai dari asal barang, kualitas, kelayakan hingga prosedur karantina harus benar-benar diperhatikan.

Tak hanya soal pasokan, Jahriah juga menyoroti persoalan mahalnya pakan yang selama ini menjadi beban utama peternak lokal.

“Regulasi untuk peredaran pakan itu yang perlu ditekankan. Kalau pakan bisa ditekan, berarti kita bisa mengimbangi mereka,” katanya.

Ia menjelaskan, pedagang dari Pulau Jawa memiliki pola perdagangan yang lebih leluasa dalam menentukan harga.

Telur yang dibawa ke Kalsel tidak menjadi satu-satunya sumber keuntungan. Saat kembali ke Jawa, pedagang juga membawa berbagai komoditas dari Kalsel.

Baca Juga : DPRD Kalsel Tantang Mahasiswa Sama-sama Turun Padamkan Karhutla

Baca Juga : Kalsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan 2–8 September, Ini Wilayahnya!

Di antaranya jeruk, tempurung kelapa hingga pisang yang kembali dijual di pasar Jawa.
“Kalau dia rugi seribu rupiah dari telur, dia masih bisa menutupi dari komoditas lain. Ada subsidi bagi mereka,” jelas Jahriah.

Kondisi tersebut berbeda dengan peternak lokal yang harus menanggung biaya produksi, terutama pakan, sementara harga jual telur dan ayam justru mengalami tekanan.

Karena itu, Komisi II DPRD Kalsel berencana kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) untuk mencari formula penyelesaian.
DPRD juga akan mengkaji regulasi perdagangan yang ada, termasuk Perda maupun Pergub, masih relevan atau perlu dilakukan penyesuaian.

“Tidak bisa kita langsung mengubah perda atau pergub. Kita ingin RDPU ulang untuk melihat apakah regulasi itu memang perlu diubah atau tidak,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, DPRD Kalsel juga tengah membahas kemungkinan pembentukan tim khusus untuk mencari solusi menghadapi persoalan perdagangan antardaerah.

Tim tersebut nantinya diharapkan dapat mengkaji lebih jauh masuknya telur dan daging ayam dari Jawa yang dinilai memberikan tekanan terhadap harga di Kalsel.

“Tim khusus ini akan kita bahas. Bagaimana di Kalimantan Selatan ini untuk mengatasi perdagangan dari Surabaya yang menjatuhkan harga, lebih khususnya telur dan daging,” katanya.

Jahriah menegaskan, langkah yang dicari bukanlah menutup keran perdagangan dari luar daerah.

Sebaliknya, DPRD ingin menciptakan perdagangan yang lebih berimbang sekaligus memperkuat pengawasan terhadap arus barang dan kewajiban pajak daerah.

Menurutnya, komoditas yang dibawa pedagang dari Kalsel menuju Jawa juga harus menjadi perhatian pemerintah.

Ia menilai, masih terdapat celah pengawasan terhadap sejumlah komoditas yang keluar daerah.
“Selama ini kita kurang pengawasan tentang pajak daerahnya. Banyak yang lolos, seperti tempurung, pisang dan komoditas lainnya,” pungkas Jahriah. (azka)

Editor : Akhmad